MSA-maya : Februari 2000.
 

SIAPAKAH YANG BERNAMA 'ALLAH' ITU?

1. PENGANTAR

"Bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga." (Mat.7:21).

Dalam kurun waktu setahun terakhir ini di Indonesia ada beberapa penginjil membawakan ceramah-ceramah rohani yang mempersoalkan nama "Allah" dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam seri traktat berjudul 'Siapakah Yang Bernama Allah Itu' yang diterbitkan oleh 'Iman Taqwa kepada Shiraathal Mustaqiim' dan/atau 'Bet Yesua Hamasiah' dikemukakan bahwa 'ALLAH yang disembah orang Arab bukan Eloim yang disembah orang Yahudi dan Nasrani.' Nama Allah adalah nama Dewa Air bangsa Arab, karena itu bila nama itu dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia (LAI) berarti menghujat nama Tuhan, karena itu harus diganti dengan nama aslinya yaitu 'Eloim.'

Bagi mereka yang belajar Alkitab dan teologi dengan seksama klaim-klaim pribadi di atas tidak di-rasa perlu untuk ditanggapi karena bukan merupakan hasil persidangan gerejawi atau konsensus para teolog yang berotoritas, tetapi fakta-nya para penginjil 'bebas' itu yang umumnya sudah mapan, kemudian dengan uang mereka menerbitkan traktat yang berisi pendapat pribadi mereka dan menyebarluaskannya ke umat Kristen di mana-mana.

Kenyataan demikian sempat membingungkan sebagian jemaat awam yang polos dan kurang mengerti sehingga ada sebagian yang kemudian menjadi bingung dan menggunakan istilah baru itu dalam ibadat mereka, halmana sempat mendorong Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang selama ini menerbitkan Alkitab berbahasa Indonesia untuk mengeluarkan surat edaran tertanggal 3 Februari 1999 yang berisi tanggapan berupa 'Penjelasan Lembaga Alkitab Indonesia' kepada gereja-gereja dan banyak Lembaga Kristen di Indonesia tentang traktat berjudul 'Siapakah yang bernama Allah itu' yang diterbitkan oleh 'Iman Taqwa Kepada Shiraathal Mustaqiim' dan 'Bet Yesua Hamasiah.'

YBA menerima banyak pertanyaan dan permintaan agar YBA ikut memberikan penjelasan mengenai kontroversi soal 'Nama Allah' ini, karena itu setelah mempelajari buku, diktat, dan traktat-traktat yang terbit, mempelajari buku-buku teologia dan menggumulkannya dalam Doa dan firman Tuhan, maka YBA menerbitkan dua buah traktat dalam bentuk tanya jawab dengan judul 'Siapakah yang bernama Allah itu?' dan mengulasnya dengan lebih lengkap dalam MSA-53, dan meringkasnya dalam MSA-maya ini.

2. 'ALLAH' NAMA DEWA ARAB?

Argumentasi dasar seri traktat tersebut dapat diperluas menjadi beberapa butir pemikiran berikut:

2.1. ALLAH = nama dewa

Untuk menunjang anggapan bahwa nama 'Allah' itu adalah nama Dewa dikutip beberapa buku sbb.:

"Pada zaman praIslam, jaman Jahiliyah ALLAH adalah nama DEWA bangsa ARAB yang mengairi bumi." (Moh. Wahyuni Nafis, Melintasi Batas-batas Agama, 1998, h.85)

"ALLAH adalah nama DEWA yang disembah penduduk MEKAH (Djohan Effendi (pengantar), Agama Manusia, 1985, h.258).

"ALLAH adalah suatu NAMA yang telah dikenal sebelum ALQURAN diwahyukan." (Ensiklopedia Islam, Jakarta, 1996, h.23).

"ALLAH adalah NAMA yang disebut-sebut suku QURAISY, bangsa ARAB bersama-sama ALLATA dan AL UZZA." (Kelengkapan Tarikh Nabi MUHAMMAD SAW, jilid IA, h.269)

Maka, berdasarkan sumber-sumber demikian maka diajukan keberatan untuk menyebut Tuhan orang Kristen dalam Alkitab bahasa Indonesia dengan nama 'Allah' karena nama Allah itu dewa jaman pra-Islam.

2.2. ELOIM = gelar

Disebutkan pula dalam traktat tersebut bahwa Kitab Suci Torat dan Injil bangsa Israel tidak pernah memuat kata ALLAH, tetapi ELOIM. Kata El, Eloim, Eloah di dalam Torat dan Injil merupakan gelar yaitu 'gelar yang harus disembah' (Wah.19:10). Segala bangsa telah mempunyai 'sesembahan'nya masing-masing, namun 'semuanya adalah berhala' (1.Taw.16:26). Disimpulkan bahwa ALLAH yang disembah orang Arab bukan Eloim yang disembah orang Yahudi dan Nasrani.

2.3. YAHWEH = Nama Tuhan

Hanya sesembahan bangsa Israel yang bukan berhala, tetapi berwujud Roh dan menyatakan namaNya yaitu YAHWEH (Yes. 42:8/Kel.3:15). Nama Yahweh harus dimulyakan dan tidak boleh disebut sembarangan (Kel.20:7). Disebutkan bahwa nama Yahweh yang harus dikuduskan, dimulyakan, dimasyurkan, dan tidak boleh disebut sembarangan itu telah diganti dengan nama DEWA yaitu nama BERHALA. Jelaslah penggantian ini merupakan hujat yang sangat berat bagi Dia.

2.4. Yesua Hamasiah

Yahweh berwujud Roh yang berinkarnasi atau diam dalam Yesua Hamasiah. Yesua Hamasiah adalah nama asli dalam Alkitab dalam bahasa Ibrani jadi tidak boleh diterjemahkan. Bahasa Ibrani adalah satu-satunya bahasa yang tertua yang dipakai sehari-hari mulai zaman Musa, 3500 tahun yang lalu, sampai hari ini oleh orang-orang Israel.

2.5. Bangsa Arab

Bangsa Arab disebut sebagai 'keturunan Ham' atau Hamit dan bukan keturunan Sem atau Semit karena berdasarkan Kej.10:6;9:25 dikatakan dalam traktat bahwa:

"Bangsa Arab adalah keturunan Ismael. Dan Ismael adalah anak Abraham, melalui budaknya yang bernama Hagar. Hagar adalah orang Mesir, sedang bangsa Mesir adalah keturunan Ham yang adalah Kanaan yang terkutuk (Kej.10:6) ... Keturunan Ismael menjadi bangsa yang besar, yang dikenal sebagai bangsa Arab."

'Ismael tidak boleh disebut keturunan Abraham' (Kel.21:12), jadi orang Arab bukanlah keturunan Abraham, demikian juga nama ALLAH bukan bahasa Semit tetapi bahasa Arab atau Hamit atau Kanaanit.

2.6. Islam & Kristen

Menurut Sejarah, agama Islam dikatakan sebagai masuk ke Indonesia pada abad ke-XIII melalui pedagang Arab dan memperkenalkan nama 'Allah'. 500 tahun kemudian (abad ke-XVIII) Injil masuk ke Indonesia melalui penginjil Jerman dan menerjemahkan nama 'Gott' (terjemahan nama Eloim dalam bahasa Jerman) menjadi 'Allah.' Pada waktu itu belum disadari bahwa kata Allah adalah Dewa, yaitu Tuhannya bangsa Arab.

2.7. Kerukunan Beragama

Penggunaaan nama Allah yang berasal dari bahasa Arab, bahasanya orang Islam dikatakan telah menimbulkan kemarahan banyak orang islam kepada orang Kristen sehingga mengganggu kerukunan beragama di Indonesia. Karena itu, juga demi kerukunan beragama orang Kristen tidak boleh meng-gunakan istilah Allah dalam Alkitab.

3. NAMA EL/ELOHIM/ELOAH

Ada beberapa nama Tuhan yang bisa ditemui dalam Alkitab Perjanjian Lama Ibrani yaitu nama-nama El/Elohim/Eloah, Adonai dan Yahweh, atau kombinasi dari nama-nama itu. Apakah nama-nama itu merupakan 'nama diri' (proper name) Tuhan atau nama 'gelar, sebutan atau panggilan umum' (generic appelative)? Dalam Alkitab Ibrani nama-nama yang pertama digunakan dalam menyebut nama Tuhan yang disembah adalah El, Elohim atau Eloah yang ketiganya mempunyai nama atau pengertian yang mirip satu-sama lain.

3.1. Nama El

Nama 'El' dan variasinya (Elohim & Eloah) adalah nama pertama yang digunakan dalam Alkitab sejak awal kitab Kejadian, baik sebagai 'nama diri' maupun sebagai 'nama generik' dan kemudian digunakan bangsa-bangsa keturunan Adam. Yakub menyebut "El dalam ke-dahsyatanNya" (Kej.28:17), dan kepada Yakub disebutkan bahwa:

"Akulah Allah (El) yang di Betel itu" (LAI, Kej.31:13)

"Allah (Elohim) Israel ialah Allah (El)." (LAI, Kej.33:20)

Memang El semula dikenal sebagai Allah di atas allah atau Allah Maha Tinggi dan kemudian untuk menyebut Allah Israel. El sebagai nama diri disejajarkan dengan nama Yahweh (Kej. 28:16), dan dalam sanjak Bileam disebut bahwa El tidak lain adalah Yahweh yang membawa umat Israel keluar dari Mesir (Bil.23:8,19, 22-23;24:4,8,16,23) dan di tempat lain nama El disebut sejajar dengan Yahweh (Maz.85:8-9;Yes.42:5) dan dijadikan padankatanya.

Nama El ini tidak sekedar menyebut kata generik sebagai 'Allah tertinggi' tetapi dengan gabungan kata lain menunjuk Nama diri yang nyata (definitif) seperti El Shadday (Allah Mahakuasa), El Elyon (Allah Mahatinggi), El Olam (Allah Kekal), El Bethel (Allah Bethel), El Roi (Allah Mahatahu), El Berith (Allah Perjanjian), dan El Elohe-Israel (Allah Israel).

3.2. Elohim

Nama 'Elohim' banyak terdapat dalam Perjanjian Lama dalam pengertian sama dengan 'El' tetapi biasanya untuk menyebut nama Allah dalam bentuk jamak (Kej. 1:26) tetapi juga sebagai bentuk tunggal. Nama 'Elohim' menekankan bahwa 'Allah Pencipta adalah Tuhan yang mutlak atas ciptaan dan sejarah.' Itulah sebabnya ayat pembuka penciptaan dalam kitab Kej.1:1 menggunakan nama ini. Nama Elohim juga digunakan untuk menyatakan TUHAN Yahweh Israel. Nabi Elia yang namanya berarti Allahku (El) TUHANku (Yah), berkata di gunung Karmel:

"Kalau TUHAN (Yahweh) itu Allah (Elohim), ikutlah Dia, dan kalau Baal, ikutlah Dia." (LAI, 1.Raj.18: 21,37,39).

Juga disejajarkan dengan El dan Yahweh dalam:

"Aku, TUHAN (Yahweh). Allahmu (Elohim), adalah Allah (El) yang cemburu ..." (LAI, Ulg.5:9).

3.3. Eloah

Nama 'Eloah' adalah bentuk tunggal yang sama dengan El dan Elohim dan menunjuk pada pengertian yang sama. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia, nama 'El/Elohim/Eloah' diter-jemahkan dengan kata 'Allah' (huruf kecil dengan huruf pertama kapital)

3.4. Yahweh

Nama 'Yahweh' adalah 'nama diri' yang sebenarnya terdiri dari 4 huruf konsonan 'YHWH' yang disebut Tetragrammaton dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai 'TUHAN' (semua huruf besar). Dalam tradisi naskah Pentateuch yang tertua, nama ini baru dikenal Musa sebagai TUHAN Allah yang membawa umat Israel keluar dari Mesir:

"Akulah TUHAN (Yahweh), Allah (Elohim) mu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan." (LAI, Kel.20:2).

"Akulah TUHAN (Yahweh), Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah (Elohim) yang Mahakuasa, tetapi dengan namaKu TUHAN (Yahweh) Aku belum menyatakan diri." (LAI, Kel.6:1-2. Bandingkan dengan Kej.17:1;28:3;35:11; 43:14;48:3;49:25).

Petunjuk lain bahwa nama itu baru dikenal pada zaman Musa adalah fakta bahwa Musa sebelum-nya hanya mengenal nama 'Elohim' dan nama Yahweh baru dikenal Musa di gunung Horeb:

"Lalu Musa berkata kepada Allah (Elohim): "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah (Elohim) nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang namaNya? - apakahyang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." (Kel.3:13-14a)

Sekalipun demikian, semua tradisi naskah Pentateuch mempercayai bahwa Musa tidak berkenalan dengan TUHAN Allah yang berbeda dengan yang dikenal leluhurnya, dan dari Musalah pengajaran ten-tang TUHAN Allah 'Yahweh' dalam terang Keluaran itu menjadi jelas. Baru setelah nama itu jelas (Kel.6:1-2) nama 'Yahweh' diguna-kan mundur untuk menyebut nama Allah (Elohim) Abraham, Ishak dan Yakub, nenek moyang Musa.

Lagi firmanNya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (Yahweh), Allah (Elohim) nenek moyangmu, Allah (Elohim) Abraham, Allah (Elohim) Ishak, Allah (Elohim) Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun temurun." (LAI, Kel. 3:13-15).

Tetapi dalam tradisi naskah Pentateuch yang kemudian nama diri 'Yahweh' digunakan juga sebagai nama Tuhan pada zaman Enos: "Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamai Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN (Yahweh)." (LAI, Kej. 4:26).

Kelihatannya nama diri yang di-gunakan semula sebelum masa Musa adalah 'El/Elohim' atau lebih ke arah nama 'El Shadday' (Allah yang Mahakuasa), tetapi untuk menjadikan 'Yahweh' bukan hanya sebagai 'El/Elohim' yang eksklusif milik bangsa Israel, maka nama diri 'Yahweh' kemudian digunakan untuk mengganti nama diri 'El/Elohim' agar 'Yahweh juga menjadi Allah umat manusia' (Enos artinya manusia), bahkan kemudian nama 'Yahweh disebut lebih dini lagi sebagai Allah pencipta Langit dan Bumi.'

"Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN (Yahweh) Allah (Elohim) menjadikan bumi dan langit." (LAI, Kej.2:4)

Perubahan ini adalah usaha para 'Yahwist' yang sangat memuja nama diri ini. Sepanjang sejarah selalu ada saja kelompok demikian. Ada kalanya nama Yahweh disingkat menjadi 'Yah' saja. Nama nabi Elia adalah 'El-Yah' (Allah, TUHAN-ku).

3.5. Adonai

Nama 'Adonai' diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai 'Tuan' atau 'Tuhan' dan sebenarnya merupakan nama panggilan untuk menghormati seseorang (1.Sam.24:9;26:17;Yer.22:18). Nama ini kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan nama 'Yahweh' sebagai 'TUHAN, Tuhan ...' (Yahweh, Adonai ...) (Yos.3:13; Maz. 97:5).

Dalam Alkitab Perjanjian Lama ada sekitar 300 kali Adonai dikait-kan sebagai kata di depan kata Yahweh (Adonai Yahweh) dimana lebih dari dua pertiganya ada di kitab Yehezkiel. Dalam menter-jemahkan nama 'Adonai Yahweh' untuk tidak menimbulkan pengu-langan maka tidak diterjemahkan sebagai 'Tuhan TUHAN' melainkan sebagai 'Tuhan ALLAH.' Disini Yahweh diterjemahkan sebagai 'ALLAH' (semua huruf besar). Yahweh tidak diterjemahkan sebagai 'Allah' (huruf kecil dengan huruf pertama kapital) yang adalah terjemahan el/elohim/eloah.

Perkecualian yang mirip juga ditemukan ketika nama 'Yah' disatukan dengan nama 'Yahweh' menjadi 'Yah Yahweh', ini tidak diterjemahkan sebagai 'TUHAN TUHAN' tetapi sebagai 'TUHAN ALLAH' (Yes.12:2). Adakalanya 'Adonia' juga digunakan sebagai pengganti nama 'Yahweh' (Yes. 6:1,8;Mik.4:13;Zak.4:14;6:5).

El, Elohim, Eloah & Yahweh. Baik El, Elohim maupun Eloah dapat menjadi 'nama diri' maupun sebagai 'gelar, sebutan atau pang-gilan umum' yang disembah (lih. G.Johanes Botterwech et.al. (eds) Theological Dictionary of the Old Testament, vo.I, h.253-261).

Dalam kitab Ayub, 'El' digunakan sebagai 'nama diri' sebanyak 50 kali dan sejajar dengan 'Shaddai' 12 kali. Mirip dengan ini adalah (Kej.35:1,3;46:3/Bil.12:13). Dalam Maz.43-83 lima belas kali 'El' disebut sebagai nama diri, dan dalam Maz.78, 6 kali 'El' disebut sebagai 'nama diri' untuk menyebut Yahweh. Penggunaan 'El' sebagai 'nama diri' dan 'sebutan/panggilan/gelar umum' bersama-sama lebih banyak terjadi pada saat awal sejarah Israel. Tahun-tahun menjelang pembangunan Bait Allah pertama, 'Yahweh' menggantikan 'El' sebagai 'nama diri' dan 'elohim' menggantikan 'el' sebagai nama sebutan/ panggilan/gelar.

Rupanya dengan meningkatnya kepercayaan akan 'kesucian nama Yahweh yang tidak boleh diucapkan sembarangan' selama pembuangan, sesudah pembuangan penggunaan 'El' sebagai 'nama diri' meningkat kembali (Ibid, h.258-259) (El masih dipakai setelah pembuangan seperti dalam Kitab Yesaya 40:18;43:10,12;45:14).

"Luasnya tumpang tindih dalam sifat, julukan antara nama Yahweh dengan El mengesankan bahwa Yahweh berasal dari tokoh El, terpisah dari allah yang lama ketika Israel melepaskan dan membedakan diri dengan konteks awalnya yang politheistik." (Ibid, h.260)

4. PERKEMBANGAN NAMA DAN TERJEMAHANNYA.

Kita telah melihat bahwa baik nama 'El, Elohim maupun Eloah' pengertiannya tidaklah statis tetapi berkembang, juga dalam hubungan dengan nama diri 'Yahweh.' Perkembangan juga terjadi dimana nama 'El, Elohim & Eloah' itu berkembang dalam suku-suku bangsa keturunan Sem lainnya.

Bahasa asli yang digunakan dalam penulisan Alkitab Perjanjian Lama adalah 'bahasa Ibrani' (dengan sebagian kecil bahasa Aram) yang dipraktekkan keturunan Ibrani (Eber) yang adalah 'cucu Arpakhsad anak Sem' (Kej.10:22-24), jadi termasuk rumpun 'bahasa Semit' (keturunan Sem).

4.1. Perkembangan Nama El/Elohim/Eloah

Bila kita mempelajari bahasa Ibrani dengan seksama, dapatlah diketahui bahwa awalnya nama 'el' di rumpun Semit-Timur dan Akkadiankuno menjadi 'il, ilu, ilum' dan di Amorit dan Arab-Utara berkembang menjadi 'ila/ilah' (lih. G. Johanes Botterwech et.al (eds), Theological Dictionary of the Old Testament, vol.I, h.242-244).

Nama 'elohim' (Ibrani) sama asal katanya dengan 'elah' (Aram) dan 'ilah' (Arab) (Ibid, h.273), dan dengan melihat bahwa di kayu salib Yesus berseru dalam bahasa daerah Aram, maka 'elah' juga berkembang menjadi 'eli' (Mat.27:46) atau 'eloi' (Mar.15:34) pada masa Yesus hidup.

Rupanya ketika 'El' menyatakan diri pada Adam 'El' nyata sekali sebagai pribadi tunggal di hadapan Adam, tetapi kemudian 'el' itu dimengerti merosot dengan pengertian politheistik (elohim). Dalam perkembangan penyembahan itu kemudian 'el' dianggap sebagai 'pencipta/penguasa' atau yang tertinggi dari 'pantheon deretan sesembahan' itu dan mulailah disebut dengan nama diri 'El' yang difinitif (The God).

4.2. Bahasa Ibrani.

Dalam melihat bahasa Ibrani kita tidak boleh membayangkan seakan-akan sejak awalnya bahasa itu seperti yang digunakan di Israel sekarang. Bahasa Ibrani bukan bahasa tertua dan lebih muda dua generasi dari bahasa Aram, juga bukan bahasa yang tetap dari dulu sampai sekarang, tetapi bahasa Ibrani mengalami perkembangan dalam beberapa tahap, kadang-kadang menjadi bahasa 'hidup' (percakapan) tetapi kadang-kadang menjadi bahasa 'mati' (digunakan hanya dalam sastra/kitab suci) terutama semasa Yesus hidup, dan pada masakini kembali menjadi bahasa 'hidup'.

Bahasa Ibrani mengalami beberapa tahap perkembangan dalam sejarahnya. Kitab-kitab sastra menunjukkan penggunakan bahasa 'Ibrani kuno' tetapi kitab-kitab se-perti Tawarikh, Ezra-Nehemia, dan Esther menunjukkan bentuk bahasa 'Ibrani' yang lebih lanjut yang mulai dipengaruhi bahasa Aram. Kemudian berkembang menjadi 'Ibrani Misnah' yang disusul dengan 'Ibrani para Rabi' dan hidupnya kembali bahasa Ibrani pada abad ke-XIX dan XX menunjukkan hadirnya 'Ibrani Modern.'

Sebagai 'bahasa tulisan' Ibrani bertahan terus sejak abad ke-X-BC tetapi sebagai 'bahasa percakapan' bahasa Ibrani mengalami pasang surut mungkin karena hanya terdiri dari huruf-huruf mati (konsonan) yang bila diucapkan berat sehingga sulit digunakan dalam percakapan.

Pada pemerintahan Sanherib (ca.700-BC) bahasa Ibrani disebut 'bahasa Yehuda' dan menjadi bahasa percakapan disamping bahasa Aram (2.Raj.18:26-28;Yes.36:11-13). Yesaya juga menyebutnya sebagai 'bahasa Kanaan' (Yes.19:18). Pada zaman Ezra ketika kembali ke Yerusalem, umat sudah kurang mengerti lagi 'bahasa Ibrani' sehingga perlu diterjemahkan (Neh.8:2-9). Kitab Ezra mengandung bagian-bagian yang ditulis dalam 'bahasa Aram' (4:8-6:18;7:12-26 juga bagian Yer.10:11;Dan.2:4b-7:28). Dr. D.C. Mulder dalam bukunya memberi komentar tentang ini:

"Perlu dimengerti bahwa bahasa Ibrani itu tidak merupakan bahasa yang satu dan sama pada segala waktu ... bahasa Ibrani itupun mengalami suatu per-kembangan ... dalam bahasa Ibranipun terdapat dialek-dialek ... sifat khusus dari bahasa Ibrani, bahasa itu selalu diancam oleh pangaruh bahasa Aram. Kita sudah melihat bahwa dari permulaannya dalam bahasa Ibrani terdapat unsur-unsur Aram Arab. Terutama di Israel Utara ... pengaruh itu juga merembet ke selatan, ke tanah Yehuda. Waktu orang buangan dari Babel pu-lang ke tanah suci, maka di sana bahasa Aram sudah umum dipakai ... Sesudah pembuangan, bahasa Ibrani masih dipakai sebagai bahasa keagamaan dan bahasa kesusasteraan. Tetapi rakyat jelata sudah tidak lagi paham bahasa Ibrani itu (lih.Neh.8:4,9) ... Di tanah Palestina sendiri bahasa Aramlah yang menjadi bahasa sehari-hari sejak abad ke-IV/III sb.M.; bahasa Ibrani lama kelamaan hanya dipakai sebagai bahasa suci dan bahasa agama." (Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK, 1970, h.17-18,214).

Dapat dimaklumi mengapa bahasa Ibrani itu tidak dipakai secara umum sebelum dan sesudah masa hidup Yesus sehingga tiga abad sebelumnya Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa 'Yunani Koine' (umum) yang kala itu digunakan sebagai bahasa komunikasi resmi di sekitar Laut Tengah.

Memang kemudian bahasa Ibra-ni mulai hidup kembali sebagai bahasa percakapan setelah pada abad AD-VI ditambahkan huruf-huruf hidup (vokal) sehingga lebih mudah untuk diucapkan dan berkembang kembali setelah umat Israel kembali dari diaspora dan pada abad AD-XIX dan XX berkembang menjadi bahasa 'Ibrani Modern' sampai sekarang.

4.3. Bahasa Yunani

Bahasa Ibrani adalah bahasa mati yang tidak digunakan sehari-hari sejak abad IV/III-BC, maka ketika bahasa Yunani menjadi bahasa hidup di Laut Tengah, pada abad III-BC, 72 tua-tua Israel dikirim oleh Imam Kepala di Yerusalem untuk pergi ke raja 'Ptolomeus Philadelphus' di Iskandariah (Afrika Utara) dengan membawa salinan 'Kitab Hukum' yang resmi yang selama 72 hari diterjemahkan ke bahasa Yunani. Terjemahan ini terkenal dengan nama 'Septuaginta' atau 'LXX' (artinya 70).

"pada masa Ptolomeus Filadelfus kitab Perjanjian Lama ditulis dalam versi Yunani, yang dikenal sebagai Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula." (Merill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, Gandum Mas, 1992, h.32).

Septuaginta secara resmi diterima oleh para Imam Yahudi, bah-kan merekalah yang secara resmi mengutus para ahli dan imam untuk menterjemahkan hasil itu dan dalam terjemahan ini istilah 'El, Elohim & Eloah' diterjemahkan sebagai 'Theos' dan 'Yahweh' sebagai 'Kurios.' Penterjemahan 'Theos' dan 'Kurios' ini tidak menjadi masalah bagi orang Yahudi maupun para Imam Yahudi. Baik Allah Bapa, Yesus dan para Rasul menerima terjemahan itu dan tidak ada bukti dalam Alkitab bahwa mereka keberatan atas penerjemahan itu. Ketika membaca kitab Yesaya 61:1-2, Yesus membacanya dari 'LXX' (Kurios, Luk.4:18-19). Kedua istilah Yunani inilah yang kemudian digunakan dalam penulisan Perjanjian Baru dalam bahasa 'Yunani Koine.'

4.4. Bahasa Aram

Rupanya di kala Yesus hidup, ada dua bahasa yang berlaku umum di Palestina yaitu bahasa 'Yunani Koine' dan 'bahasa Aram.' Bahasa Yunani ibarat bahasa komunikasi umum 'Indonesia' bagi kita sedangkan bahasa Aram lebih merupakan bahasa 'Daerah' (seperti Sunda, Batak atau Jawa) yang biasa digunakan dilingkungan kerabat dekat. Sama dengan Mulder, Tenney juga mengemukakan bahwa:

"Meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah Yahudi sejak zaman Nehemia hingga abad kedua Sebelum Masehi, ada tercatat beberapa kejadian penting. Bangsa Yahudi dan Samaria berkembang menjadi dua suku bangsa yang terpisah; bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme." (Ibid, h.29)

"Bahasa Ibrani kuno, yang sangat erat kaitannya dengan bahasa Aram, sudah tidak digunakan lagi sejak zaman Nabi Ezra, kecuali di antara para rabi yang mempelajari dan menggunakannya sebagai media pemikiran teologis. Bahasa ini tidak dikenal oleh orang kebanyakan ... Bahasa Aram dan Yunani lebih banyak berperanan di dalam sejarah gereja pada abad yang pertama daripada bahasa Latin atau Ibrani." (Ibid, h.67-68)

Dapat dimaklumi kalau semasa hidupnya, Yesus berbicara dua bahasa seperti ucapan 'Eloi/Eli Lama Sabakhtani' waktu di salib yang adalah bahasa 'Aram' (juga Talitha Kumi, Maranatha, Rabbuni). Bahwa Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan bahasa Ibrani menunjukkan bahwa Yesus dan para murid-murid yang menulis Injil menguasai bahasa Yunani, Aram dan beberapa istilah Romawi (Centurion, Legion, Denari).

"Yesus berbicara juga bahasa Yunani ... tetapi bahasa ibu mereka saat itu ialah bahasa Aram." (ME Duyverman, Pembimbing kedalam Perjanjian Baru, BPK, 1966, h.16).

Adanya kata-kata 'Aram' dan 'Romawi' yang tidak diterjemahkan menunjukkan bahwa memang kata-kata dan nama 'Yunani' Alkitab Perjanjian Baru itulah yang diucapkan Yesus jadi tidak diterjemahkan dari bahasa Aram, sekalipun mung-kin juga pada saat itu ada dua bahasa yang secara independen dipakai oleh Yesus. Bila kitab Perjanjian Baru merupakan terjemahan dari bahasa Aram tentu kata-kata 'Aram' tidak pernah ada dalam PB.

Saat hidup, Yesus dipanggil Yesous Christous dan inilah Nama Yesus sebenarnya dan kemudian pengikutnya disebut Christanous (Kis.26:11). Andaikan ada nama kecil Yesus tentu bukan Yosua Hamasiah (bahasa Ibrani) tetapi suatu panggilan dalam bahasa Aram.

4.5. Bahasa Terjemahan

Dengan adanya fakta bahwa Tuhan sendiri tidak menuliskan 'Firman' dan 'Nama'Nya hanya dalam satu bahasa saja dan dalam Perjanjian Baru Tuhan Allah maupun Yesus Kristus tidak menyalahkan terjemahan nama 'Yahweh' dan 'El/Elohim/Eloah' bahasa Ibrani menjadi 'Kurios' dan 'Theos' dalam bahasa Yunani untuk menyebut nama Tuhan, maka kita melihat bahwa rupanya 'Terjemahan Bahasa' merupakan salah satu strategi atau kendaraan yang Tuhan pakai untuk menyebar luaskan firmanNya.

Menarik sekali manyaksikan bahwa di hari 'Pentakosta' yang dicatat sebagai 'kelahiran Gereja' itu, firman Tuhan yang diucapkan oleh Para Rasul malah diterjemahkan ke berbagai-bagai bahasa (Kis.2:1-13), dan ini diteguhkan dan dikerjakan sendiri oleh 'Roh Kudus' (ayat.4), dan pada saat itu orang Arab sudah ada yang menjadi Kristen (ayat.11)!

5. BANGSA & BAHASA ARAB

Berbicara mengenai nama 'Allah' yang berasal dari bahasa Arab kita tidak dapat menutup diri untuk mengerti bangsa dan bahasa Arab dan apa hubungannya dengan bangsa dan bahasa Ibrani. Dari sini kita dapat melihat secara khusus nama 'Allah' yang kemudian digunakan dalam Alkitab Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Ada pendapat seperti yang dikemukakan dalam traktat berjudul 'Siapakah yang Bernama Allah Itu' bahwa bangsa Arab tidak termasuk bangsa 'Semit' melainkan bangsa 'Hamit' atau 'Kanaanit.' Alasan yang diajukan adalah bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ham dan bukan Sem, karena Ismael adalah anak Hagar bangsa Mesir dan dalam Alkitab disebut bahwa Ismael tidak boleh disebut keturunan Abraham, jadi bangsa Arab bukan keturunan Ismael:

"Tetapi Allah berfirman kepada Abra-ham: 'Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam hal semua yang dikatakan Sara kepada-mu, haruslah engkau mendengarkan-nya, sebab yang akan disebut ke-turunanmu ialah yang berasal dari Ishak." (LAI, Kej.21:12)

Kelihatannya ayat ini cukup me-yakinkan tetapi benarkah hal itu?

5.1. Rumpun Semit

Bila kita mempelajari daftar keturunan yang ada dalam Kitab Kejadian fs.10, kita melihat bahwa Nuh melahirkan anak-anak yang diberi nama Sem, Ham dan Yafet (Kej.10: 1). Keturunan Sem disebut rumpun 'Semit', keturunan Ham disebut rumpun 'Hamit' dan keturunan Yafet disebut rumpun 'Yafit.' Sekalipun ada yang mengatakan bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ham tetapi data sejarah menunjukkan bahwa bangsa Arab dan bangsa Ibrani adalah keturunan Sem atau Semit.

"Keturunan Ham ialah Kusy, Misraim, Put dan Kanaan." (LAI, Kej.10:6)

Sejarah menunjukkan bahwa Kusy adalah 'Ethiopia' yang mendiami tepi selatan Laut Merah, dan Misraim adalah 'Mesir' yang mendiami tepi barat Laut Merah, jadi keturunan Ham adalah suku-suku bangsa yang mendiami Palestina bagian barat terus ke benua Afrika.

"Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakshad, Lud dan Aram. Keturunan Aram ialah Us, Hul, Geter dan Mas. Arphaksad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber. Bagi Eber lahir dua anak laki-laki ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah Yoktan. Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur." (LAI, Kej.10:23-30).

Dari ayat-ayat di atas kita meli-hat bahwa salah satu cicit Sem adalah 'Eber' dan dari namanyalah suku-bangsa 'Ibrani' berasal. Dari daftar keturunan Sem diketahui bahwa Sem memperanakkan Arphaksad, dan Arphaksad memperanakkan Selah. Selah memperanakkan Eber, dan dari Eber lahir-lah Peleg. Peleg memperanakkan Yehu, dan Rehu memperanakkan Serug. Serug kemudian memper-anakkan Nahor, dan Nahor mem-peranakkan Terah yang adalah bapa Abram (Kej.11:10-26).

Kita akan melihat bahwa 'Ismael' yang nenek-moyang suku-bangsa Arab sebenarnya adalah suku bangsa Ibrani juga karena ia anak Abra-ham yang adalah keturunan Eber juga! dan bukan hanya itu sebab ternyata yang dinamakan suku-bangsa Arab mempunyai kaitan erat dengan tiga keturunan Sem (Semit) dan dua diantaranya malah adalah keturunan Eber (Ibrani)!

5.2. Bangsa Arab

Dari kamus Kristen kita dapat membaca bahwa:

"orang Arab mencakup keturunan Aram (Kej.10:22), Eber (Kej.10:24-29), Abraham dari Keturah (Kej.25:1-4) dan dari Hagar (Kej.25:13-16) ... Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup bebe-rapa suku Arab (Kej.10:26-29)." (The Interpreter's Dictionary of the Bible, di bawah kata Arabians).

Menurut kamus Islam, yang disebut 'Bangsa Arab' adalah:

"Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia ... Masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab tersebar di se-panjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan ... Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupa-kan keturunan dari seorang nabi ber-nama Qahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Uta-ra yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk ke-turunan Isma'il, putra Ibrahim ... Istilah Arab berarti "Nomads". Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quathan yang tinggal di wilayah sela-tan menamakan dirinya sebagai Arab Muta'arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-'Aribah (Arab Asli) ... Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh." (Cyril Glasse, Ensi-klopedia Islam, 1996, h.49-50)

"Adnan. Anak turunan Nabi Isma'il yang menjadi nenek moyang suku-suku Arabia Utara ... nenek moyang suku Arabia Selatan adalah Quahthan, yang dalam Bibel disebut Joktan." (Ibid, h.12-13)

Dari sumber-sumber diatas baik dari kalangan Kristen maupun Islam ada kesepakatan bahwa yang dinamakan 'bangsa Arab' setidaknya mewarisi tiga jalur keturunan, yaitu: (1) Arab-Aram, yang mendiami wilayah utara-timur Palestina, yang disebut sebagai Arab-Asli atau disebut Arab al-'Aribah; (2) Arab-Selatan, yang mendiami wilayah selatan Arab, yaitu keturunan campuran dari keturunan Yoktan dan Arab-Asli atau disebut Arab Muta'arribah; (3) Arab-Utara, yang mendiami wilayah utara Arab, yaitu keturunan Adnan keturunan Ismail dan disebut Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan).

Dari kenyataan di atas kita da-pat melihat bahwa bangsa Arab berasal dari tiga keturunan Sem, satu anak langsung (Aram) bahkan dua lainnya adalah keturunan 'Eber' (Yoktan) bahkan satu dari yang dua terakhir adalah keturunan 'Abram' (Ismael), maka jelas bangsa Arab adalah termasuk 'bangsa Semit.'

Bagaimana dengan ayat Kej.21: 12 yang disebut terdahulu yang menyebutkan bahwa 'Ismael tidak boleh disebut keturunan Abram?' Perlu disadari bahwa bila kita menyebut 'bangsa' yang dimaksud adalah 'keturunan darah daging' jadi bukan dimaksudkan 'keturunan perjanjian/hak-waris' (Kej.21:10). Ayat berikutnya malah berbunyi:

"keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu" (Kej. 21:13).

Jadi, sekalipun hak waris perjanjian/harta tidak diterima Ismael, ia tetap anak 'darah daging' Abraham, demikian juga bangsa Arab yang keluar dari benih Ismail. Dalam masyarakat patriarkhal seperti bangsa Ibrani & Arab, pertalian darah ditentukan dari jalur ayah, apalagi Ismail adalah 'anak sulung' yang ikut 'disunat' jadi tetap terhisap dalam keluarga Abraham (Kej.17). Paulus menyebut Hagar sebagai "gunung Sinai di tanah Arab" yang melahirkan anak daging Abraham (Gal.4:21-31).

5.3. Nama Allah

Bagaimana dengan klaim yang menyebutkan bahwa nama 'Allah' dalam bahasa Arab itu sebenarnya nama 'Dewa' atau tepatnya 'Dewa Air/Pengairan?' Dari pembahasan mengenai 'nama diri' dan 'nama generik' El/ Elohim/Eloah terdahulu, kita telah melihat bahwa nama 'Allah' dalam bahasa Arab adalah juga menunjuk pada nama El/Elohim/Eloah yang sama. Bila kita melihat bahasa Arab-Aram yang diucapkan Yesus dikayu-salib 'Eloi/Eli' yang berasal dari Arab-Asli dan penjelasan sebelumnya maka nama Allah yang merupakan kependekan 'Al-Ilah' adalah juga berasal dari kata El/Elohim/ Eloah yang sama.

"Agaknya Kata "Allah" merupakan pengkhususan dari kata al-ilah (ketuhanan) ... Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan." (Glasse, Op Cit, h.23)

Memang kata 'al-ilah' menun-jukkan adanya kata 'al' yang definitif, dan sekalipun ada kata penunjuk definitif 'ha' dalam bahasa Ibrani kata penunjuk itu tidak selalu dipakai. Dalam pengertian El/Elohim/ Eloah, kata itu bisa bersifat 'nama umum/generik' tetapi juga 'nama diri' yang definitif, dan dalam perkembangan bahasa Arab kata pe-nunjuk 'al' itu ditekankan. Memang ada ayat Ibrani yang menyebut "Yahweh, hu ha-Elohim" (1.Raj.18:39) yang diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai "Ar-Rabb, huwa al-Ilah," tetapi dalam banyak bagian kata penunjuk definitif itu tidak selalu digunakan.

Sejarah menunjukkan bahwa nama Allah sudah lama dipakai oleh orang Arab jauh sebelum masa Islam maupun masa Jahiliah dimana nama 'al-ilah' itu merosot dimengerti sebagai 'dewa air' oleh sebagian orang Arab. Dalam traktat berjudul 'Siapakah yang Bernama Allah Itu' disebutkan bahwa:

"ALLAH adalah nama DEWA yang disembah penduduk MEKAH (Djohan Effendi (pengantar), Agama Manusia, 1985, h.258. Buku aslinya: Huston Smith, The Religions of Man, 1963, h.204).

Faktanya Smith menyebut lebih dahulu bahwa dalam Al-Quran "nama Allah berasal dari kata Al-Ilah yang dipercayai oleh orang Arab sama dengan Allah Adam, Nuh, Shem dan Abraham dari Alkitab" (Smith, Op.Cit., h.202). Kutipan Al-Quran berikut memperjelas hal itu:

"Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah diatas bumi (Adam). Maka jawab mereka itu: Adakah patut Engkau jadikan diatas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguh-nya Aku mengetahui apa2 yang tiada kamu ketahui." (Al-Quran, Al-Baqarah, 2:30. Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim)

"Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah." (Ibid, 2:136)

Dari kutipan di atas kita melihat bahwa istilah 'Allah' sudah lama digunakan dan menunjuk pada 'El/Elohim/Eloah' dalam Alkitab. Rupanya pengertian mengenai nama 'Allah' itu kemudian merosot pada jaman Jahiliyyah menjelang kelahiran Islam pada abad ke-VII sehingga oleh orang Arab-Mekah dipercaya sebagai 'dewa air' atau 'dewa berhala' lainnya:

"Pada zaman pra-Islam, jaman Jahiliyah ALLAH adalah nama DEWA bangsa ARAB yang mengairi bumi." (Moh. Wahyuni Nafis, Melintasi Batas-batas Agama, 1998, h.85)

Tetapi sekalipun demikian tradisi nama Allah yang asli tidak terhapus sama sekali karena masih ada kelompok keagamaan yang bernama 'hunafa' yang masih berpegang kepada pengertian Allah yang semula:

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebe-lum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7, kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan kedudukannya digan-tikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20 tahun seluruh tra-disi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang terakhir, yakni Risalah Islam.." (Glasse, Op Cit, h.50-51)

Jadi makin jelas bahwa nama Allah semula, merosot pada jaman jahiliyyah menjelang kelahiran Islam sehingga penduduk sekitar Mekah mengertinya sebagai 'dewa air' atau nama 'dewa berhala' lainnya, tetapi jelas juga bahwa ada yang masih mengertinya dalam pengertian se-mula, dan kelihatannya kelompok inilah yang memperkenalkan nama 'Allah' pada pengertiannya yang asli dan menjadi inspirasi Muhammad sehingga dipulihkan dalam agama Islam.

Contoh kemerosotan pengertian akan nama yang sama ini bisa kita lihat dalam sejarah Israel, yaitu penggunaan nama 'Elohim' juga sering merosot juga. Dalam Kel.32:4 kita dapat meli-hat bahwa 'allah Lembu Emas' yang disembah umat Israel saat Musa naik ke gunung Sinai dalam bahasa aslinya juga ditulis dengan kata 'Allah Elohim,' padahal Tuhan dan Musa menyalahkan mereka dan agar mereka kembali kepada "Yahweh (TUHAN), Elohim (Allah) Israel" yang benar (Kel.32:26-27).

Penggunaan nama yang sama untuk menyebut dua konsep ber-beda tentang yang disembah. Dari sini kita melihat bahwa nama 'Allah' sama halnya dengan 'Elohim' bisa dalam pengertian semula, bisa juga merosot untuk menyebut misalnya 'Dewa Air' dalam jalur Ismael atau untuk menyebut 'Lembu Emas' dalam jalur Ishak, untuk itulah untuk membedakan pengertiannya, dalam jalur Israel digunakan istilah yang diberi penjelasan yaitu 'Allah Abraham, Ishak dan Yakub.'

Soal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa sudah sejak awal berdirinya bangsa Arab melalui ketiga jalurnya (Aram, Joktan dan Ismael) mereka mengerti tentang 'El/Elohim/Eloah' yang kemudian dalam bahasa Arab berkembang menjadi 'ilah' atau semacamnya dan untuk menunjukkan 'Tuhan El/Elohim/Eloah yang ITU' digunakan kata definitif menjadi Allah.

Pada saat Perjanjian Lama orang Arab sudah menggunakan istilah 'Allah' dan kita harus sadar bahwa disamping kaum 'hunafa' yang masih mempertahankan pengertian 'Allah' untuk menunjuk Allah Ismael, ada beberapa orang Yahudi berpengaruh dalam kehidupan Muhammad sebelum berdirinya agama Islam.

6. NAMA ALLAH DALAM AGAMA KRISTEN

Menarik untuk mengetahui bahwa ketika Yesus berseru 'Eli, Eli, lama sabakhtani' (Mat.27:46, dalam Mar.15:34 disebut 'Eloi, Eloi'), Ia mengucapkan kata-kata itu bukan dalam bahasa Ibrani tetapi dalam bahasa Arab-Aram, bahkan menurut sumber Islam disebutkan bahwa bahasa Arab-Aram dianggap adalah bahasa Arab-Asli. Jadi, sebenarnya 'Yesus berseru dalam bahasa Arab'! Dari pembahasan sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa 'bahasa Ibrani sudah lama dipengaruhi oleh bahasa Arab-Aram.'

"sifat khusus dari bahasa Ibrani, bahasa itu selalu diancam oleh pangaruh bahasa Aram. Kita sudah melihat bahwa dari permulaannya dalam bahasa Ibrani terdapat unsur-unsur Aram Arab. Terutama di Israel Utara ... pengaruh itu juga merembet ke selatan, ke tanah Yehuda." (D.C. Mulder, Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK, 1970, h.18).

Kita bisa memaklumi gejala demikian, soalnya (1) bahasa Aram (dari Aram) asalnya dua generasi lebih tua dari bahasa Ibrani (dari Eber); (2) bahasa Ibrani adalah bahasa mati yang terdiri kata-kata mati (konsonan) sehingga tidak mudah menjadi bahasa percakapan bahkan pernah mati sebagai bahasa percakapan beberapa abad sekitar masa hidup Yesus (abad IV-BC s/d AD-VI); (3) bahasa Arab-Aram lebih populer di kalangan rakyat umum tanpa terputus dan meluas.

6.1. Masa Kristiani

Bila Yesus sendiri menggunakan bahasa Arab-Aram, maka adalah wajar kalau orang-orang Arab kuno yang menjadi Kristen kemu-dian menggunakan 'Allah' bahasa Arab untuk menyebut nama 'El/Elohim' sebelum kehadiran agama Islam. Dr. Daud H. Susilo konsultan Lembaga Alkitab Sedunia menge-mukakan bahwa:

"Jauh sebelum kehadiran agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, eloah. Bahkan tulisan-tulisan kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan allah sebagai padankata untuk el, elohim, eloah. Sekarang ini, allah tetap digunakan dalam Alkitab bahasa Arab, baik terjemahan lama (Arabic Bible) maupun terjemahan yang baru (Today's Arabic Version)." (Daud Susilo, Forum Biblika, LAI, no.8/1998, h.102.)

Ini diperjelas dari sumber Islam sendiri yang berbunyi:

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno. Ajaran Kristen dan Yudaisme dipraktikkan di seluruh jazirah ... Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan ... Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang ber-bahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, 1996, h.50,23)

Bahkan Dr. Nurcholish Majid, cendekiawan Muslim direktur Paramadina itu mengatakan bahwa dari dahulu sampai sekarang, di kalangan bangsa Arab terdapat kelom-pok-kelompok non-Islam, yaitu Yahudi dan Kristen dan mereka juga menyebut Allah (Islam, Doktrin dan Peradaban, 1992, h.xcv).

Kita harus menyadari bahwa kelihatannya penggunaan itu sudah begitu meluas di kalangan orang Arab Kristen sedini kelahiran gereja, sebab di hari Pentakosta, sudah ada orang Yahudi Arab yang menjadi Kristen dan mereka mendengar nama 'Allah' bukan dalam bahasa Yunani tetapi dalam bahasa mereka sendiri (Kis.2:11).

6.2. Bangsa-bangsa Berbahasa Arab

Mengingat bahwa bangsa Arab termasuk bangsa yang subur yang cepat berkembangannya, dan berjiwa 'ekspansionis kultural' sehingga dimana-mana orang Arab datang berkunjung untuk berdagang mereka menyiarkan agama Islam dan karena bahasa 'Arab-Alquran' tidak boleh diterjemahkan maka 'bahasa Arab' ikut tersebar.

"Dari dahulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq, Indo-nesia, Malaysia, Brunai, Singapura dan diberbagai negara di Asia serta Afrika yang dipengaruhi oleh bangsa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut) kata allah - jika ditulis biasanya meng-gunakan huruf kapital "Allah" untuk menyebut Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan." (Susilo, Loc Cit)

Menurut Dr. Manuel Jinbachian, orang Arab-Armenia Kristen yang sangat menguasai bahasa Arab dan menjadi anggota penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Arab, Dalam Alkitab 'Peshita' yang ditemukan berasal dari abad ke-VI yang digunakan oleh orang Arab berdialek Siria, nama itu disebut 'Alloho.' Dan dari tulisan penulis Arab-Muslim bernama 'Dinawari' pada abad ke-IX, ia sudah mengutip nama Allah dari kitab Injil.

6.3. Islam di Indonesia

Agama Islam masuk ke semenanjung Malaysia dan Sumatera Utara pada abad ke-XIII melalui para pedagang bangsa Arab, mereka masuk ke daerah-daerah pesisir dan pelabuhan dan sambil berdagang menyiarkan agama Islam, kemudian mereka pergi ke seluruh Indonesia. Berbeda dengan penyebaran agama Kristen yang membonceng kolonialis Belanda yang memasang tembok politis dengan rakyat biasa, agama Islam disebarkan melalui pergaulan dagang.

Dari penyebaran demikian lambat laun daerah-daerah pesisir di Indonesia dikuasai agama Islam dan kemudian berekspansi ke kerajaan-kerajaan Hindu/ Buddha yang berada di pedalaman sehingga lambat laun kawasan Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh agama Islam. Itulah sebabnya masakini sekitar 85% penduduk Indonesia menganut agama Islam.

Karena bahasa Arab menyatu dengan agama Islam, maka bahasa Arab kemudian mempengaruhi bahasa Melayu karena mayoritas orang Melayu telah masuk Islam. Akibatnya, bahasa Melayu yang dalam proses pembentukannya menjadi bahasa nasional Malaysia dan Indonesia bercampur dengan banyak kata-kata bahasa Arab dan banyak kata-kata itu kemudian masuk menjadi kosa-kata bahasa Melayu dan Indonesia termasuk kata 'Allah' yang menunjuk pada pengertian 'Tuhan Yang Maha Esa'.

6.4. Kristen di Indonesia

Agama Kristen-Katolik masuk ke tanah Melayu dan Indonesia Timur pada abad ke-XVI tiga abad setelah masuknya agama Islam, kemudian disusul dengan masuknya agama Kristen-Protestan pada abad ke-XVII. Dalam perjumpaannya dengan rakyat Indonesia dengan bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa kesatuan) yang telah dimasuki kata-kata bahasa Arab selama tiga abad, maka dalam menyebut 'Tuhan yang Maha Esa' para pendeta Kristen menggunakan nama 'Allah' bahasa Arab yang sudah masuk kosa-kata bahasa Melayu waktu itu karena itulah bahasa lokal yang paling dekat dengan nama dalam Alkitab.

Kita harus sadar bahwa banyak kata-kata Arab digunakan oleh orang Kristen Arab sebelum digunakan oleh Islam Arab. misalnya disamping kata Allah, kata 'Salam Alaykum' (Luk.24:13) sudah ada dalam Alkitab Peshita Siria pada abad ke-VI.

Alasan penggunaan istilah/na-ma 'Allah' di kalangan Kristen Indo-nesia itu adalah bahwa: (1) Bahasa Arab adalah rumpun Semit yang paling tua, paling berkembang, paling besar, dan bahasa Ibrani banyak dipengaruhi bahasa Arab (Aram); (2) Orang-orang Arab Kristen sudah sejak lama sebelum adanya agama Islam menggunakan nama 'Allah' untuk menyebut 'El/Elohim/ Eloah' termasuk dalam Alkitab dalam bahasa Arab; (3) Kata 'Allah' sudah masuk kosakata bahasa Melayu, apalagi sebelum agama Kristen masuk, Islam dan bahasa Arab sudah mempengaruhi budaya dan bahasa Melayu selama tiga abad lebih; (4) Bahasa Ibrani sendiri sudah lama dipengaruhi bahasa Arab-Aram, sehingga bahasa Arab tidak asing lagi sebagai saudara sekandung bahasa Ibrani.

Berdasarkan hal-hal itu dapatlah diterima bila Alkitab dalam bahasa Melayu kemudian Indonesia menggunakan nama 'Allah' untuk menterjemahkan nama 'El/ Elohim/Eloah' dari bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, dan nama 'Theos' dari bahasa 'Yunani Koine' bahasa asli Perjanjian Baru. Lagi pula, Tuhan Yesus sendiri ke-tika disalib berseru nama 'Eloi/Eli' dalam bahasa Arab-Aram yang menurut sumber-sumber sejarah Islam sendiri diakui sebagai bahasa Arab-Asli, karena itu kita di Indonesia tidak perlu mempersoalkan penggunaan nama Allah dalam bahasa Arab yang sejak dulu banyak mempengaruhi bahasa Ibrani dan yang dua ribu tahun yang lalu kata 'Arab' itu sudah dirintis oleh Tuhan Yesus sendiri!

Dalam penulisan bagian Alkitab ke dalam bahasa Indonesia sejak pertama kalinya sedini awal abad ke-XVII, nama Allah sudah digunakan. Dr. Daud H. Susilo mengata-kan bahwa:

"Dalam terjemahan bahasa melayu dan Indonesia, kata 'Allah' sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hille-brandus Cornelius Klinkert, 1879) sam-pai saat ini." (Susilo, Loc.Cit.)

Kita perlu bersyukur bahwa Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melalui para ahlinya telah berjuang begitu tekun dalam menghadirkan Alkitab dalam bahasa Indonesia sehingga berita 'Injil Kabar Baik' dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca Indonesia.

6.5. Kerukunan Beragama di Indonesia

Ada kekuatiran di kalangan tertentu penggunaan nama 'Allah' oleh umat Kristen mengganggu hubungan antar umat Kristen-Islam. Sekalipun mungkin ada orang Islam yang berfikiran begitu, persentasinya kecil karena umumnya orang Islam yang mengerti tidak akan berfikir sejauh itu sebab banyak tokoh Islam seperti Dr. Nurcholish Madjid mengakui bahwa nama 'Allah' bukan monopoli milik umat Islam sebab telah digunakan ber-sama-sama oleh orang-orang Arab keturunan Ismael yang percaya 'Tuhannya Ibrahim' maupun percaya 'Tuhannya Ishak' dan 'Nasrani.'

Di Indonesia belum pernah ada kasus 'konflik' melibatkan Islam-Kristen yang dipicu persoalan nama 'Allah.' Sebaliknya bila kita menyebut nama 'Allah sebagai dewa-air,' bukankah ini akan mendukakan dan menyinggung umat Islam yang begitu menghormati Allahnya? Kesamaan penggunaan nama 'Allah' justru dapat digunakan untuk kerukunan beragama karena kita menyembah Tuhan yang sama dan tugas kita adalah memberitakan 'perjanjian Allah melalui Abraham, Ishak, Yakub dan Yesus Kristus.'

7. BERIMAN PADA 'ALLAH' SIAPA?

Begitu pentingkah arti nama 'Tuhan' sehingga sepanjang sejarah agama Yahudi dan Kristen ada saja kelompok yang sangat menekankan 'kemurnian nama' itu seperti halnya yang dilakukan kelompok 'Jahwist?' Jelas sekali dari Alkitab bahwa 'nama Tuhan harus dikuduskan' tetapi apakah maksudnya? apakah itu adalah mempertahankan 'nama tertentu' ataukah bahwa 'nama terjemahan tidak menjadi soal' asalkan kita memperlakukannya sesuai dengan 'kehendak Tuhan?'

7.1. Kesaksian Alkitab

Dari pembahasan di bagian terdahulu kita sudah melihat bahwa dari kesaksian Alkitab sendiri diketahui bahwa:

(1) Ketika ditanya Musa, Tuhan menjawab bahwa 'Aku adalah Aku';

(2) Alkitab bersaksi bahwa sejak awal Tuhan menyatakan diri dengan berbagai nama dimulai dari 'El/Elohim/Eloah' dengan variasinya dan baru menyatakan diri sebagai 'Yahweh' kepada Musa, tetapi 'El' tetap dipakai pasca Pembuangan;

(3) Penerjemahan 'El/Elohim/Eloah' menjadi 'Theos' & 'Yahweh' menjadi 'Kurios' dalam Septuaginta diprakarsai Imam Besar Yahudi;

(4) Umat Yahudi dan umat Kristen abad pertama menggunakan Septuaginta dan dalam Perjanjian Baru juga digunakan nama 'Theos' dan 'Kurios' dan tidak ada bukti bahwa Yesus maupun Allah Bapa yang bersuara dari Sorga berkeberatan akan hal itu;

(5) Yesus sendiri dalam pengajarannya menyebut 'Tuhan' sebagai 'Kurios' dan Allah sebagai 'Theos,' namun di atas kayu salib Yesus menggunakan nama 'Eloi/Eli' (bahasa Aram-Arab) dalam memanggil 'nama diri' Tuhan;

(6) Alkitab dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia yang menggunakan nama 'Allah' selama beberapa abad sudah mentobatkan banyak orang untuk menjadi murid-murid 'Tuhan Yesus Kristus' yang beriman dan taat.

7.2. 'Allah' Abraham, Ishak, Yakub & Yesus

Penggunaan nama yang sama belum tentu dimengerti sama dan pengertian 'Yahweh yang adalah Elohim Abraham, Ishak dan Yakub' yang dimengerti dan dipercaya oleh orang Yahudi belum tentu sama dengan yang dimengerti oleh orang Kristen Perjanjian Baru yang tidak saja mempercayai 'Kurios yang adalah Theos Abraham, Ishak dan Yakub' tetapi juga 'yang digenapi dalam Yesus Kristus.'

Pengertian 'El/Elohim/Eloah' bisa berbeda dimengerti dalam berbagai keturunan Sem sekalipun menunjuk dan menggunakan 'nama' yang sama, dan sejak Abraham, pengertian 'El/Elohim/Eloah' terfokus pada 'Allah Mahakuasa' (El Shadday):

"Berfirmanlah TUHAN kepada Abram ... Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu ma-syhur; dan engkau akan menjadi ber-kat ... Akulah Allah yang Maha-kuasa, hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela." (LAI, Kej.12:1-2;17:1)

Sejak itu 'Allah Abraham' mulai dikenalkan kepada Ishak:

"Lalu TUHAN menampakkan diri ke-padanya serta berfirman ... Aku akan menyertai engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat." (LAI, Kej. 26:2-4)

Kepada Yakub Allah berfirman tentang Allah Abraham dan Ishak:

"Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abra-ham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada ketu-runanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya ... dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (LAI, Kej.28:13-14)

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa tentang nama baru Allah Abraham, Ishak dan Yakub:

"Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu." (LAI, Kel.3:15)

Dalam Perjanjian Baru Allah Abraham, Ishak dan Yakub itu diteruskan dalam Yesus:

"Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan HambaNya, yaitu Yesus." (LAI, Kis. 3:13).

Berikut Yesus menyamakan diri-Nya sebagai 'Kurios' (dalam Septuaginta terjemahan 'Yahweh'):

"Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! (Kurios) akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga." (LAI, Mat.7:21)

7.3. Allah yang Sama tetapi Berbeda Teologi Perjanjian

Apa kehendak Bapa yang harus dilakukan? Kehendak itu kita lihat dalam janjiNya kepada Abraham, Ishak, Yakub dan Yesus. Dari terang ini kita melihat bahwa Allah orang Yahudi sama dengan orang Kristen, yang membedakan adalah orang 'Yahudi' hanya mengenal perjanjian melalui 'Abraham, Ishak dan Yakub' tetapi tidak menurut Kristus, sedangkan Allah orang Kristen adalah Allah yang menyatakan perjanjiannya melalui 'Abraham, Ishak, Yakub dan Yesus'.

Allah orang Kristen sama dengan Allah yang disembah orang Islam. Yang menjadi masalah adalah bahwa Allah orang Islam terputus perjanjiannya sampai ke Abraham sehingga teologinya tentu berbeda, jadi yang menjadi masalah bukan soal nama Allahnya tetapi 'teologi perjanjiannya.' Perjanjian kepada 'Abraham, Ishak, Yakub dan Yesus' itulah yang harus disaksikan oleh umat Kristen baik kepada orang yahudi maupun kepada orang Islam.

Amin!

Salam kasih dari Herlianto/YBA.