RENUNGAN Maret 2001                 


PERSEPULUHAN

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (Maleakhi 3:10).

Beberapa waktu yang lalu, ketika melayani di kota Medan ada berita mengagetkan dimana ada pendeta di suatu gereja yang menuntut 40% dari persepuluhan yang diterima gereja dengan alasan seharusnya ia menerima 110%, karena bani Israel yang tinggal 11 suku mempersembahkan 11X10% menjadi 110%!

Praktek persepuluhan seperti contoh di atas yang disalah-gunakan oleh para pendeta tertentu banyak terjadi: ada pendeta yang mengingatkan jemaatnya bahwa mereka tidak akan dilayani bila tidak memberikan persepuluhan; ada yang meminta lihat pembukuan usaha anggota jemaatnya apakah sudah memberikan persepuluhan atau belum; disebuah desa ada pendeta yang ikut mengantar transaksi jual beli sapi anggotanya dan langsung memotong 10% uang penjualan itu; bahkan ada pendeta yang mengumumkan bahwa bila jemaat memberikan persepuluhan maka itu memutihkan cara-cara apapun yang dipakai untuk mendapatkan uang yang dipotong itu (money laundering).

Dari banyak jemaat miskin di desa-desa banyak diterima keluhan: kami harus mengirimkan persembahan persepuluhan ke kantor pusat di Jakarta dan para pengurus pusat menggunakannya untuk membangun gereja mewah dan jalan-jalan ke luar negeri; ada jemaat yang rajin memberi persepuluhan ketika membutuhkan biaya darurat untuk operasi anaknya dan meminta bantuan gereja hanya diberi pinjaman dan harus mengembalikannya; ada gereja yang menekankan persepuluhan namun pembantu yang tinggal di gereja itu tidur di lantai tanpa kasur; bahkan ada jemaat yang memberikan persepuluhan dalam bentuk cincin berlian dan tak lama sesudah itu isteri pendeta memakainya!

Banyak lagi cerita-cerita miring soal praktek persepuluhan yang sudah dikomersialkan dan dijadikan alat pemerasan oleh pendeta-pendeta tertentu. Namun, apakah dengan adanya praktek yang keliru lalu kita tidak lagi perlu memberi persepuluhan?

AJARAN PERJANJIAN LAMA

Praktek persembahan persepuluhan sudah kelihatan jejaknya dan dilakukan pada masa Abraham seiring dengan upacara kurban merupakan praktek kuno Ibrani untuk menjalin hubungan dengan Allah melalui persembahan kepada 'Imam' sebagai pejabat perantara, dan yang kemudian dilembagakan dalam ketentuan Torat yang dikaitkan dengan rumah Tuhan dan jabatan ke-Imam-an (Kel.29/Bil.18/Ibr.8:1-4) pada masa Musa.

Abraham memberikan persepuluhan kepada imam Malkisedek (Kej.14:18-19), ini dikarenakan para imam dikhususkan untuk pelayanan agama, dan kemudian diberikan kepada bani Lewi (Bil.18:21;Ibr.7:4-5) karena mereka tidak menerima warisan. Persepuluhan merupakan bagian dari sistem agama Ibrani kuno yang terkait 'Kurban dan Persembahan' dengan maksud untuk menjalin kembali hubungan dengan Tuhan, sebagai persembahan yang berbau harum, sebagai pengakuan dosa dan salah, dan untuk menyenangkan hati Allah (Kej.4:3-4;8:20;Kel.29:25, band. Mal.3:3-4,6-12).

Perlu disadari bahwa dalam sistem kurban dan persembahan PL, persepuluhan dikumpulkan oleh imam Lewi dan disimpan dalam ruang perbendaharan di rumah Tuhan (Neh.10:37-38;2Taw.31:11-12), dan tidak hanya diberikan kepada para imam tetapi juga dibagikan kepada orang asing, anak yatim dan janda-janda (Ul.14:28-29), dan untuk pemeliharaan rumah Tuhan.

Sayang sekali bahwa upacara kurban dan persembahan yang merupakan ungkapan pertobatan dan kepercayaan itu telah merosot hanya menjadi upacara lahir tanpa diiringi hati yang menyesal, bertobat, adil dan berbelas kasihan, dalam hal ini kurban dan persembahan itu tidak ada artinya di hadapan Allah (Kej.4:5) apalagi kalau pelaku berbuat jahat (Am.4:4).

Kelihatannya sistem kurban dan persembahan telah menjadi upacara lahir tanpa disertai motivasi hati yang benar dan hormat serta mendengarkan firman Tuhan (1Sam.15:22) atau tidak menjalankan kasih setia (Hos.6:6) dan keadilan (Am.5:21-24; band.Mat.23:23). Korban persembahan yang benar bila itu dilakukan dengan pertobatan dan jiwa yang hancur (Mzm.51:18-19;Mikh.6:6-8).

Dari berita PL kita dapat mengetahui bahwa persepuluhan dikaitkan dengan sistem kurban dan persembahan dan jabatan imam yang melayani Bait Allah dan tidak hanya diberikan kepada imam melainkan juga kepada orang asing, yatim piatu, dan para janda, dan pemeliharaan rumah Tuhan.

Ayat-ayat Maleakhi ditujukan pada umat Israel (1:1;3:6) yang telah mencemarkan korban dan para imam menghina Tuhan, itulah sebabnya Tuhan tidak senang dalam menerima persembahan mereka (1:10). Fasal-2 menunjukkan murka Tuhan kepada para imam yang nota bena menerima korban dan persembahan termasuk persepuluhan, sebab sekalipun tugas mereka menjadi perantara firman Tuhan ternyata mereka menyimpang (2:7-8).

Kitab Maleakhi juga menyalahkan umat Israel karena kawin campur dengan bangsa lain, jadi sifatnya ibadat lahir (2:10-16) dan mereka akan dihukum, namun tujuan Tuhan adalah untuk menyucikan umat Israel lahiriah agar mereka menjadi orang-orang yang tidak menyalah gunakan kurban dan persembahan melainkan melayani Tuhan. Kita melihat antara lain penyalahgunaan persepuluhan oleh para imam sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, dan orang asing tertindas, padahal maksud persepuluhan antara lain adalah untuk memberi mereka kesejahteraan.

Karena itulah Fasal-3 mengingatkan kembali mereka agar persepuluhan tidak disalahgunakan, karena itu berarti menipu dan mencuri milik Tuhan, melainkan mengumpulkannya dalam rumah perbendaharaan (3:10), dan bila itu terjadi maka berkat Tuhan akan dikucurkan kembali kepada umat pilihan Allah. Kitab Maleakhi adalah puncak pemberontakan Israel dan murka Allah terhadap umat Israel dalam kaitan dengan sistem ibadat lahiriah PL dengan jabatan imam dan kurban & persembahannya, dan Maleakhi mengarahkannya pada penghakiman hari Tuhan kelak (Fasal-4).

AJARAN PERJANJIAN BARU

Bagaimana pengajaran persepuluhan dalam Perjanjian Baru? Apakah Yesus dan para Rasul mengajarkannya? Kelihatannya tidak, persepuluhan tidak diajarkan oleh Yesus dan para Rasul kecuali disinggung dalam beberapa ayat. Kalau begitu mengapa? Dan apakah persepuluhan masih menjadi bagian ibadat PB?

Pertama PB tidak lagi berbicara mengenai 'Israel secara lahir' melainkan Israel rohani. Demikian juga ibadat lahir dengan 'kurban dan persembahan' yang berpusat sekitar 'Taurat dan Bait Allah' dan dipimpin oleh 'para Imam' telah digantikan dalam PB. Dalam PB ibadat tidak berkisar Taurat dan Bait Allah, sekalipun pada awal pelayanan umat Kristen masih ada yang hadir di bait Allah, ritus kurban dan persembahan sudah digantikan oleh 'darah Yesus sendiri' itulah sebabnya dalam PB juga tidak lagi ada jabatan Imam, dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan 'Injil kasih'.

Umat Kristen perlu menghayati dengan benar arti Injil Anugerah Perjanjian Baru yang berbeda dengan Perjanjian Lama (Yer.31:31-33;Yeh.36:26-27;11:19-20) dimana Yesus Kristus dan Roh Tuhan sangat berperan (Gal.3:10-14). Taurat adalah penuntun sampai Kristus datang supaya kita dibenarkan bukan karena perbuatan kurban dan persembahan tetapi 'karena iman' (Gal.3:15-29, band.Ibr.8:13;9:9-10;10:9-10):

"Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjianKu, dan Aku menolak mereka," demikian firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukumKu dalam akal budi mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka" (Ibr.8:8-12).

Jadi perjanjian baru telah melakukan pembaharuan dari Ibadat Insani (lahiriah) kepada Ibadat Hati Nurani (batiniah). (Ibr.9:9-10), dan sistem kurban dan persembahan PL telah digantikan oleh persembahan diri Kristus, sang Domba Paskah itu (Ibr.10:8-10). Yesus Kristus bukan saja menjadi kurban itu sendiri, tetapi ia menjadi 'Imam Besar Perjanjian Baru' (Ibr.4:14-5:10;8:1-13;9:11-28), bahkan Yesus menggantikan fungsi keimaman Harun dan orang Lewi (Ibr.7:11-28).

Dalam Perjanjian Baru tidak ada lagi jabatan imam dan konsep rumah Tuhan juga berubah, itu berarti bahwa sistem korban dan persembahan juga telah berubah. Jadi, persepuluhan yang menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan yang dikaitkan dengan jabatan keimaman juga sudah berubah! Tetapi bukankah Yesus mengajarkan juga persepuluhan?

Yesus tidak mengajarkan persepuluhan. Dalam Mat.23:23;Luk.11:37-54, ketika ia menyinggung soal persepuluhan, konteksnya berbica mengenai 'percakapannya dengan orang Farisi' yang menekankan perbuatan lahir (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, dan pada saat itu Tuhan Yesus belum melaksanakan tugas penebusannya (jadi ia belum menjadi domba paskah dan Imam Besar PB) dan kata-kata itu ditujukan kepada orang Farisi. Dalam awal pelayanannya Yesus tidak secara radikal melakukan pembaharuan, ia masih disunat dan melakukan adat basuhan sesuai Torat namun berangsur-angsur ia menggeser hukum Taurat kepada hukum Kasih.

Dalam Kotbah di Bukit (Mat.5), Yesus mulai menggeser ibadat lahir Taurat kepada ibadat batin Injil, seperti soal persembahan (ayat-23), zinah (27-32), sumpah (33-37), pembalasan (38-39), peminta & peminjam (40-42), dan menggesernya kepada kesempurnaan hukum Kasih (43-48). Di bagian lain Yesus sudah tidak membenarkan orang farisi yang melakukan persembahan persepuluhan (Luk.18:9-14).

Yesus tidak pernah mengajarkan persepuluhan kepada murid-muridNya, demikian juga para murid tidak mengajarkannya. Kitab Ibrani justru memberikan gambaran yang jelas bahwa dalam Perjanjian Lama, manusia-manusia yang fana menerima persepuluhan (untuk kehidupan mereka), tetapi Yesus (yang adalah domba Paskah dan Imam Besar) tidak lagi membutuhkannya karena 'Ia Hidup' dan lebih tinggi derajatnya dari Abraham (Ibr.7:1-10), karena itu persembahan kepada Yesus adalah persembahan kepada sesama manusia terutama mereka yang terlebih hina daripada kita (Mat.25:31-46).

UMAT Kristen & persepuluhan

Ritus kurban & persembahan telah dihapuskan oleh Yesus yang menjadi pengantara Perjanjian Baru, namun kurban dan persembahan itu kini berubah menjadi kurban & persembahan yang bersifat batin dalam bentuk keadilan, kesetiaan dan belas kasihan. Kita tidak lagi bermegah akan hal-hal yang bersifat lahiriah (1Kor.5:11-21), persembahan perjanjian baru bukan lagi persembahan secara Torat dan kewajiban persepuluhan, tetapi buah-buah kasih yang keluar dari hati yang telah menerima kasih karunia Allah (Mat.13:23;Efs.2:8-10).

Persembahan umat Kristen bukan lagi dalam bentuk persepuluhan tetapi merupakan buah-buah kasih yang keluar dari hati yang dibenarkan Allah. Mereka yang telah beriman dan bertobat akan hidup dalam mengasihi sesamanya dengan harta mereka (Kis.2:44-45;4:34-35;Mat.35:31-46;Luk.18:22) dan menyisihkan dengan teratur persembahan sesuai dengan yang diperoleh (1Kor.16:1-2;Gal.6:6).

Ada yang mengemukakan ayat 'Berilah maka kamu akan diberi' (Luk.6:38) dengan motivasi persepuluhan PL (Mal.3:10), tetapi penafsiran demikian jelas keliru, sebab sekalipun memang Tuhan akan memberi, itu sudah tidak lagi menjadi motivasi untuk memberi (seperti PL) melainkan sebagai karunia Allah dan itu tidak harus merupakan berkat jasmani karena pendertaan juga dapat menjadi karunia Allah (1Ptr.2:19). Dalam ayat sebelumnya dijelaskan bahwa:

"Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu." (Luk.6:30).

Persembahan Perjanjian Baru bukan agar mendapat (seperti PL) tetapi buah-buah yang keluar dari hati yang telah diperbaharui dan diberikan bukan dengan paksaan atau kewajiban tetapi dengan kerelaan dan sukacita (2Kor.9:7) dengan tujuan untuk menghindarkan kesenjangan dalam bentuk pelayanan kasih (Kis.4:34-35;2Kor.8:1-15). Pemberian Kristen adalah perwujudan kasih Allah dalam diri kita (Mat.22:37-40;1Yoh.3:17).

Lalu berapa persembahan Kristen yang tepat? Perjanjian Baru tidak menentukan hal ini, bisa setengah dari harta yang dimiliki (Zakheus, Luk.9:8) bahkan ada yang memberikan seluruh nafkahnya (Mar.12:41-44), Yang jelas buah-buah kasih tidak menentukan persentasi tertentu (Kis.2:45;4:36-37)., bahkan berbeda dengan sistem PL dimana persepuluhan itu lebih banyak dimanfaatkan oleh para imam tetapi mengabaikan para janda, yatim piatu, orang upahan, dan orang asing seperti yang diceritakan dalam kitab Maleakhi, PB banyak bercerita mengenai pemberian yang sifatnya untuk orang miskin (Luk.18:18-27).

Berbeda dengan ibadat PL yang bersifat lahir yang berpusat di Bait Allah dan dilaksanakan oleh perantara para Imam, jadi sifatnya sentripetal (memusat), ibadat PB sifatnya sentrifugal (menjauhi pusat), artinya sebagai buah-buah kasih yang dibagikan kepada sesama manusia. Ini dengan jelas digambarkan oleh rasul Yohanes dalam suratnya, yaitu didasarkan: (1) kesediaan berkorban seperti Kristus yang telah berkorban untuk kita; (2) kepekaan lingkungan, yaitu peka terhadap kebutuhan rohani dan jasmani sesamanya; dan (3) kepedulian sosial dengan membagikan harta kita kepada sesama kita (1Yoh.3:16-18).

Persembahan optimal digambarkan oleh rasul Paulus sebagai berikut:

"Karena itu saudara-saudara, dengan kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Rom.12:1-2).

Jadi, persembahan Kristen yang optimal adalah '100% plus' yaitu seluruh harta kita dan ditambah sejumlah sekian persen tergantung dari berapa persen kita hargai tubuh kita, dan persembahan itu untuk sesama manusia (termasuk pendeta dan gereja) dan bukan sebaliknya yaitu untuk pendeta + gereja tetapi tutup mata terhadap sesama kita. Yesus berfirman:

"kasihilah Tuhan. Allahmu, dengan seganap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat.22:37-39).

Akhirnya, kalau begitu apakah umat Kristen boleh memberikan persembahan persepuluhan? Tentu tidak ada larangan bagi mjereka yang ingin mendisiplinkan diri untuk menyisihkan suatu bagian secara teratur, tetapi kalau bisa memberi lebih dari itu mengapa harus dibatasi 10%? Dan kalau tidak bisa sebesar itu mengapa dipaksakan harus 10%? Namun, bila umat Kristen yang hidup dalam iman dan anugerah Allah masih melakukan persembahan persepuluhan menurut tatacara Yahudi PL. jelas dengan demikian ia melecehkan arti penebusan darah Yesus di kayu salib, seakan-akan penebusan Yesus belum tuntas melainkan harus ditambahi dengan usaha baik manusia.

Amin!

Salam kasih dan damai sejahtera dari Herlianto/YBA


[ YBA Home Page | Renungan sebelumnya]