Artikel 81_ 2004                 


WORLDLY EVANGELICALS

Pada tahun 1976, Gallup Poll menyebutkan hasil polling yang menunjukkan bahwa pada tahun itu kaum Evangelicals (Injili) di Amerika Serikat mengalami puncak kejayaan, dan tahun itu disebut sebagai ‘The Year of the Evangelicals.’ Memang evangelicalism di AS sudah menjadi aliran agama, sub-culture, tetapi juga business & marketing assets yang luar biasa. Biasanya kaum evangelicals di AS itu merupakan penerus tradisi rivivalism abad ke-19 yang bersatu padu dengan kegerakan holisme.

Evangelicalism mengalami masa konsolidasi namun berkonotasi suram ketiga kelompok fundamentalist menguasainya (tengah pertama abad-20), kelompok ini dikenal sangat menekankan penafsiran Alkitab yang tidak bisa salah setiap katanya, anti intelektual, dan eksklusif. Kesan miring fundamentalisme merangsang tumbuhnya ‘new evangelicalism’ ditengah kedua abad-20 yang dimotori Billy Graham yang dalam banyak hal lebih terbuka. Pada akhir abad-20 evangelicalism disamping mencakup para fundamentalist dan new evangelicals, kemudian juga mencakup kelompok kharismatik yang memasuki banyak lini evangelicalism (sekalipun beberapa ajaran kharismatik di tolak oleh kaum new-evangelical).

Quebedeux menulis ‘The Young Evangelicals’ (1974) disusul ‘Worldly Evangelicals’ (1978) yang menyorot perilaku evangelicals. Mereka disebut menjadi mapan (established evangelicals) dengan ungkapan klise dan sekedar bahasa kesalehan, dan makin tidak terbukti pada perbuatan nyata. Evangelicals tidak lagi bisa dibedakan dengan orang dunia di sekitar mereka, banyak yang menikmati kesenangan duniawi seperti minum alkohol, pesta pora, merokok, musik rok, dan mobil & rumah mewah. Tidak sedikit evangelicals memiliki kehidupan keluarga yang kacau, bercerai, kumpul kebo, seks sebelum & di luar nikah, dan menikmati pornografi sesuai kehidupan permisif masyarakat sekular di sekitar mereka. Larut dalam budaya modern itu terjadi ketika makin banyak kaum Injili menjadi kaya, pejabat tinggi, bintang film dan musik, pokoknya selebriti. Quebedeux menyimpulkan bahwa cukup besar evangelicals sudah semakin jauh dari ortodoksi dan kemurnian Injil, justru pada saat gerakan ini mencapai puncak kejayaan.

Menarik menyaksikan bahwa 30 tahun sejak Gallup Poll (1974) di atas, majalah Christianity Today (February 2004), memuat pembahasan yang sama nadanya. Martin Marty dalam tulisannya ‘At the Crossroad’ mengemukakan bahwa evangelicals menjadi makmur dan menumbuhkan gaya hidup ibadat yang diramaikan musik rock dan multimedia, dan masuknya gaya dan tarian kelab malam ke ruang suci ibadat. Evangelicals dikenal sebagai partisan politik, diidentikkan dengan pasar (market & Mamon), dibawa masuk ke budaya hiburan (entertainment) dan selebriti, dan dengan setia terhisap dengan semangat roh zaman / budaya masakini, dan disebut sebagai ‘married to the Zeitgeist.’

Akibat dari kesuksesan evangelicals itu, kaum Injili makin sukar menyuarakan suara kenabian mereka dan terjerat budaya sekuler dimana mereka berada. Billy Graham yang dijuluki ‘Mr. Evangelical’ ketika makin disayang para pengusaha dan penghuni gedung putih, makin kurang memberi perhatian dan suara kenabian terhadap isu-isu sosial-politik yang serius, dan makin menyesuaikan diri dengan selera para penguasa maupun masyarakat menengah ke atas. Ketika perang Vietnam dan ketika Nixon terlibat skandal Watergate, Billy diam, bahkan penerusnya Franklin Graham mendukung penuh ketika George Bush menyerbu Irak. Tidak keliru kalau Marty dalam tulisannya mengatakan bahwa: “Polling-polling menunjukkan bahwa sistem nilai evangelicals tidak dinilai tinggi bila ini ditanyakan pada para non-evangelicals.”

Gejala pembalikan dimana dunia sekular menggarami dan menerangi kehidupan evangelicals terlihat dengan makin banyaknya gereja-gereja evangelicals yang dibangun serba mewah, para penginjil memiliki rumah & mobil dan kapal pesiar mewah, bahkan Jimmy Swaggart dan Jim Bakker mencolok terlibat skandal seks yang memalukan. Di Indonesia juga ada pendeta ‘sukses’ yang mau membeli pesawat terbang, bahkan ada gereja yang bangga kalau punya tanah di Cina, Australia dan California.

Kasus gelar-gelar aspal makin merebak di kalangan evangelicals. Kalau dahulu para pendeta gigih mempertahankan kejujuran dan kebenaran, sekarang makin banyak yang tiba-tiba mengondol gelar kalau tidak Mdiv ya Dmin yang entah kapan dan dimana sekolah teologinya (jangan heran kalau ada capres kristen yang gelarnya panjang). Kalangan mahasiswa & alumni evangelicals juga mengalami sekularisasi dimana manajemen sekular dengan ‘sukses bisnisnya’ lebih menarik dalam programnya daripada exegese alkitab dan bagaimana kita hidup di dalamnya dalam dunia sekular ini, padahal rasul Paulus mengingatkan agar “Jangan serupa dengan dunia ini” (Rom.12:1-2).

Jangan heran kalau pada masa kini ‘guru-guru sukses’ banyak diundang seminar di gereja-gereja di Indonesia, bahkan ‘The 7 Habits of Highly Effective People’ ramai dipopulerkan oleh banyak gereja dan sekolah teologia yang mengajarkan sepenuhnya tanpa sikap kritis. Kekurang pekaan evangelicals ini memang menyedihkan, sebab Stephen Covey penulis ‘The 7 Habits’ adalah penatua gereja Mormon dan dosen di Brigham Young University milik gereja Mormon, dan bukunya itu adalah buku pelajaran Mormon yaitu ‘Spiritual Roots of Human Relations’ (1975) dan ‘The Divine Center’ (1988) yang kemudian dikemas baru untuk konsumsi bahasa bisnis dan human relations dengan nama ‘The 7 Habits of Highly Effectife People’ (1989). Dalam Divine Center Stephen Covey menyebut maksudnya menulis adalah untuk mengkomunikasikan kebenaran Mormon kepada non-Mormon dengan cara mengubah kosa-katanya.

            Gejala lain yang mencolok adalah dukungan pada film ‘The Passion of the Christ’, karya Mel Gibson yang bukan saja di apresiasi atau di antusiasi kalangan evangelicals, tetapi mereka menjadi promotor film itu padahal mereka harus membayar. Banyak pendeta memborong ribuan tiket untuk ramai-ramai dilihat jemaat gereja mereka. Tidak salah kalau Christianity Today dalam artikelnya ‘Is The Passion of the Christ Good Because It’s Accurate? Is It Accurate?” memberikan komentar: “A representative from Gibson’s company explained their promotion of the Passion to religious leaders as more in the interest of marketing than evangelism, a distinction evangelicals evidently no longer recognize.”

            Film yang banyak didasari ajaran Roma Katolik konservatif yang menekankan penggambaran ‘jalan salib’ yang penuh darah dan didasarkan visiun beberapa biarawati itu, oleh banyak orang disebut sebagai film yang mengobarkan semangat kebencian dan penonjolan sadisme yang luar biasa. Evengelicals selama ini sangat kritis menentang film-film yang berbau porno maupun sadisme (R films), namun heran bahwa kali ini film yang sangat sadis itu bisa begitu saja dielu-elukan secara fanatik oleh sebagiand ari mereka. Terry Mattingly, kritikus film berkata: “I have been fascinated by the lack of critical voices among conservative Protestants.”

Ada pengamat film yang menganalisis bahwa populernya film The Passion itu dimungkinkan karena dalam diri banyak evangelicals sekarang sudah tertanam semangat kekerasan, pornografi dan sadisme tanpa mereka sadari sebagai hasil pacaran mereka dengan semangat roh dunia. Pernah ada sekolah teologia Injili yang anti kalau mahasiswanya nonton film, ketika ada pertandingan tinju ada dosen yang membawa TV agar para mahasiswa menonton adu jotos yang populer di dunia itu. Banyak evangelicals termasuk penonton setia pertandingan ‘smack-down’ WWF atau ‘Ultimate Fighting Championship.’

H.J. Eysenck dan D.K.B. Nias dalam buku ‘Sex, Violence & the Mass Media’ mengemukakan bahwa ada hubungan timbal balik antara diri seseorang dengan apa yang dilihatnya. Ia mengemukakan bahwa pada awalnya seseorang akan melakukan ‘imitasi’ apa yang dilihatnya, kemudian ia meng’identifikasi’kan dirinya dengan tokoh yang dilihatnya, lalu mulai timbul ‘kecenderungan yang tertahan untuk meniru,’ ini kemudian mengalami ‘rangsangan’ (stimulation/triggering) dalam diri seseorang, dan memuncak pada ‘pelampiasan emosi’ (katharsis) yang sudah tidak lagi tertahankan.

Dalam hubungan dengan film ‘The Passion’ jelas seseorang tidak akan mengimitasi dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh Yesus, tetapi mereka akan lebih terangsang akan sadisme yang dilihat menimpa Yesus dan pelampiasan emosi kekerasan bisa kita lihat dari perilaku sebagian evangelicals di Amerika maupun di Indonesia yang ramai-ramai mendukung George Bush dalam perangnya membantai orang Irak, dan tanpa reserve selalu berada di belakang Israel yang dengan kekuatan perangnya merudal musuh-musuhnya (kita juga menolak para pembom bunuh diri Palestina).

Evangelicals menurut Marty cenderung bersikap partisan politik, ini jelas kita lihat dalam Pemilu di Amerika dimana biasanya evangelicals merupakan kubu yang berkiblat pada partai tertentu, padahal seharusnya gereja itu netral dan berada di atas semua golongan, serta menjadi garam dan terang dunia di mana mereka berada. Di Indonesia ada evangelicalnya yang sekarang bahkan mengeksploitasi Injil demi merebut kekuasaan pemerintahan melalui pemilu, padahal kita tahu bahwa cara politik kotor dengan bargainnya sudah digunakan sejak proses awal pencalegan.

Kita patut mendoakan evangelicals yang semula diharapkan menjadi benteng yang teguh mempertahankan ajaran yang benar dan moralitas yang sesuai Injil, namun sayang belakangan ini banyak diantara mereka cenderung makin duniawi dan tidak lagi bisa dilihat sebagai nabi yang memberitakan moralitas ilahi. Marilah kita bersama mengadakan doa syafaat untuk tegaknya kebenaran dan moral Kristus di kalangan kaum Injili.
 

Salam kasih Redaksi YABINA ministry

[_private/r_list2.htm]