Artikel 86_ 2004                 


SADISME

Dalam ceramah bertema ‘Film-Film Tentang Yesus’ di gereja baru-baru ini, ada hadirin yang berkomentar: “Apakah bukannya ada korelasi antara nuansa film dengan semangat zaman yang sedang terjadi. Soalnya pada era yang masih konservatif di tahun 1960-an hadir film-film kolosal ‘King of Kings’ dan ‘The Greatest Story Ever Told,’ pada tahun 1970-an di era kebebasan sex dan narkoba hadir film ‘Jesus Christ Superstar,’ dan masakini hadir film ‘The Passion’ di tengah masyarakat yang sedang ramai disuguhi film-film bertema kekerasan & sadisme?”

Komentar ini memang ada benarnya juga, namun kalau melihat film ‘The Passion’, kelihatannya beberapa faktor ikut bekerja. Soalnya, sutradara film ini, Mel Gibson, memang sudah dikenal sejak tahun 1970-an sebagai bintang film dan sutradara film-film keras & sadis. Mel memulai debutnya di Australia dalam film ‘Summer City’ tapi kurang dikenal, dan baru mencuat namanya ketika main sebagai tokoh Max dalam serial film keras & sadis ‘Mad Max’ (1979), yang disusul ‘Mad Max 2’ (The Road Warrior, 1981), dan ‘Mad Max Beyond Thunderdome’ (1985). Film Mad Max bertema balas dendam (revenge), ketika sekelompok gang motor membunuh isteri dan anaknya, Max menuntut balas dendam. Tokoh Wez dalam ‘Mad Max 2’ berucap: “They kill us, we kill them! Kill them! Kill them! Kill! Kill!

            Menurut Encarta Ensyclopaedia, perannya sebagai tokoh utama dalam film-film lainnya seperti ‘Gallipoli’ (1981) dan ‘Year of Living Dangerously’ (1983) menempatkan reputasi Mel diatas film-film action. Film Gallipoli menampilkan Mel sebagai pemuda ditengah konflik berdarah kejamnya Perang Dunia I di Turki, film ini disebut Editorial Amazon.com sebagai: “This Brutally antiwar movie.” Encarta juga menyebutkan bahwa dua film berikutnya ‘Mrs. Soffel’ (1984) dan ‘The River’ (1984) yang isinya bertema biasa tidak masuk hitungan, tetapi sebagai kontrasnya film serial keras & sadis berikutnya mengalami sukses luar biasa. Serial ‘Lethal Weapon’ (1987) dimana Mel bermain sebagai polisi keras meledak dan disusul ‘Lethal Weapon 2’ (1989), Lethal Weapon 3’ (1992), dan ‘Lethal Weapon 4’ (1998).

            Mel juga bermain dalam film ‘Tequilla Sunrise’ (1988), ‘Hamlet’ (1990), ‘Maverick’ (1994). Kemudian ia menjadi sutradara sekaligus pemain dalam film ‘The Man Without a Face’ (1993) dan ‘Braveheart’ (1995). Film ‘Braveheart’ yang keras & sadis memperoleh 5 Academy Awards termasuk sebagai best director, dan Best Director Golden Globe Awards. Film lainnya yang juga keras adalah ‘Ransom’ (1995), ‘Payback’ (1998) yang disampulnya disebut “Mel Gibson is a one-man army of revenge and retribution”, ‘The Patriot’ (2000), dan film ‘The Passion of the Christ’ (2003). Yang terakhir ini oleh Joshua Victor dari J-Jireh Cinemags disebut “Brutal, powerful and moving,” oleh kritikus film Chicago Sun Times disebut sebagai: “The most violent film,” dan oleh badan sensor Amerika Serikat dikategorikan ‘R rated.’

            Dari track record sebagai pemain dan sutradara dalam tiga dasawarsa, nyata bahwa Mel lebih sukses dalam menjiwai film-film keras & sadis, dan ini hanya mungkin kalau merupakan ungkapan jiwa seorang pemain film dan sutradara yang sadistik. Jiwa sadisme Mel tersalur sepenuhnya dalam film garapannya yang mengetengahkan kesengsaraan Yesus dalam filmnya ‘The Passion’ dan ia memang berhasil merangsang jiwa masyarakat Amerika yang sudah terbiasa disuguhi film-film keras & sadis dan menjadi bagian di dalamnya. Kita harus berhati-hati kalau memuji dan menganggap Mel Gibson sebagai seorang Katolik yang taat dan beriman hanya karena dianggap dia rela mengorbankan 25 juta dolar dari koceknya padahal ia terpaksa begitu karena produser Hollywood yang diajak Gibson membuat film itu tidak ada yang mau dikarenakan film itu berbau religi. Mel kemudian mencari dukungan kaum Evangelical dan mendapat sambutan luas, padahal wakil perusahaan film Mel menyebut: “their promotion to the religious leaders as more in the interest of marketing than evangelism, a distinction evangelicals evidently no longer recognize.”

            Kita juga harus berhati-hati mendengarkan promosi seakan-akan Mel Gibson sudah lama bertobat dan selama 12 tahun menyiapkan film ‘The Passion’, soalnya dalam 12 tahun terakhir itu Mel terus menerus masih main dan menyutradarai film-film keras & sadis, terutama serial ‘Lethal Weapon 3&4,’ ‘Braveheart,’ ‘Ransom,’ ‘The Patriot,’ dan memuncak dalam filmnya ‘The Passion.’ Bandingkan hal ini dengan pertobatan rasul Paulus yang mengalami kehidupan baru yang berubah dari kekerasan dirinya sebagai ‘yang tadinya seorang penghujat, penganiaya, dan ganas’ menjadi penuh iman dan kasih dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang benar (1Tim.1:12-17, band.Gal.5:16-26).

Mayoritas adegan The Passion diisi praktek sadisme. Film yang berisi adegan kesengsaraan Yesus dengan beberapa flashback itu sejak awal di taman Getsemane sudah menyuguhi penonton dengan adegan sadis dimana Yesus dan para muridnya dianiaya para panangkap yang berperilaku seperti memadamkan huru-hara, padahal Alkitab mencatat bahwa pada saat itu setelah insiden pemotongan telinga, Yesus menenangkan murid dan penangkapnya, dan para murid kemudian lari. Selanjutnya diceritakan film ini bahwa Yesus dibelenggu, dianiaya, dilempar ke ruang bawah tanah, bahkan dihadapan Kayafas dipukuli para imam, dan sebelum dihadapkan pengadilan resmi sudah dibuat babak belur dengan mata kanan bengkak.

Yudas dikeroyok geng anak-anak yang beringas dan bermata kesetanan bahkan kemudian dilempari batu dengan disaksikan Iblis. Setelah pengadilan Pilatus, Yesus dihukum cambuk dengan cambuk bermata logam habis-habisan sebanyak 39 kali sampai berdarah-darah sekujur tubuh (bandingkan dengan drama jalan salib berdarah di beberapa komunitas Katolik di Amerika Latin, Spanyol, dan Filipina pada perayaan misa jalan salib). Pada jalan salib ia beberapa kali dicambuki, terjatuh, ketimpa salib berat, dan adegan-adegan ini diputar dengan ‘slow motion.’ Diperlihatkan secara eksplisit tangan dan kaki Yesus dipaku di kayu salib, salib dengan Yesus terpaku itu kemudian dibalik dan dibalik lagi dengan dijatuhkan begitu saja ke tanah. Penjahat yang ikut digantung diperlihatkan matanya dipatok burung dan kedua penjahat itu kaki mereka dipukul martil sampai mati. Yesus lambungnya ditusuk dengan darah tersembur.

Alkitab memang mencatat adanya kekerasan terhadap Yesus tetapi film ‘The Passion’ sangat melebihkan porsi penganiayaan tersebut sehingga bukan merupakan fakta saksi mata tetapi saksi dusta. Kita perlu menyadari bahwa penguasa Romawi menganggap Yesus tidak bersalah dan karena desakan Yahudilah maka Yesus dihukum salib sesuai permintaan Yahudi. Penjajah Romawi sangat berkuasa karena itu dalam menjatuhkan hukuman ke atas Yesus tentu tidak harus hukuman dengan 39 pukulan cambuk bermata tajam dijatuhkan kepada Yesus apalagi dipertunjukkan dengan slow motion dalam film itu. Karena itu memang menyedihkan kalau ada umat Kristen malah senang dan terpuaskan dengan adegan demikian.

Bila benar-benar kejadian yang digambarkan film ini tentu para penulis Injil akan menyinggungnya juga tetapi mereka hanya menyebut sedikit saja. Ketika Mel Gibson ditanya mengenai adegan sadisme yang keterlaluan dalam filmnya itu, ia tidak menjawab bahwa itu ‘kebenaran’nya tetapi ia menjawab bahwa memang ia ingin mendorong penonton sampai ‘keluar batas’ (over the edge). Film berdurasi 2 jam ini sebagian besar mengumbar sadisme tetapi hanya 30 detik menampakkan Yesus yang bangkit di akhir film. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa kesengsaraan Yesus tidak berdampak terhadap iman para murid malah mereka lari ketakutan dan bersembunyi, tetapi kebangkitanlah yang menyadarkan dan menguatkan iman mereka dan menyebabkan ledakan kesaksian Kristen ke mana-mana.

Menyedihkan menyaksikan sebagian masyarakat Amerika yang umumnya mengaku ‘born again Christian’lah yang paling antusias ikut mempromosikan film itu dan banyak yang memutarnya di gereja mereka. Memutar film ‘R rated’ di gereja untuk umum jelas tidak bertanggung jawab karena hal itu sama artinya dengan mendorong anak-anak di bawah umur untuk ikut menonton adegan sadisme. Menarik menyaksikan analoginya bahwa kelompok ini jugalah yang umumnya mendukung Bush yang melakukan perang sadis di Irak. Masyarakat kristen yang ekumenis umumnya lebih tenang, tidak ikut-ikutan mempromosikan film ‘The Gospel according to the sadistic Gibson’ itu, dan mengingatkan Bush atas kekeliruannya di Irak. Penulis Film Forum Christianity Today menyebut: “I have been fascinated by the lack of critical voices among conservative Christians.”

Memang ada kesaksian yang menyebutkan adanya penjahat disadarkan setelah melihat film ini dan beberapa orang Kristen mengaku disadarkan setelah melihat adegan sadisme dalam film ini dan menganggap film ini semacam ‘shock therapy’ untuk membangunkan imannya, bahkan ada yang kemudian melihat film ini berkali-kali. Sekali lagi kita perlu prihatin akan adanya ‘The Worldly Christian’ yang makin kurang peka dan berhati keras sehingga membutuhkan rangsangan sadistik dengan membuat Yesus kembali disakiti sampai berdarah-darah untuk membangunkan emosinya yang dianggap imannya.

Havelock Ellis dalam ‘Psychology of Sex’ menyebut sadisme sebagai: “sexual emotion associated with the wish to inflict pain, physical or moral, on the object of emotion.” Ia juga mengatakan bahwa: “love of blood and murder was an irresistible obsession, and its gratification produced immense emotional relief.” Jadi bila seseorang merasa dipuaskan atau disadarkan setelah melihat suatu adegan sadis, itu adalah gejala kejiwaan yang sebenarnya tidak wajar.

Selanjutnya, dalam buku ‘Sexual Deviance’ yang disunting John H. Gagnon & William Simon disebutkan bahwa hal-hal yang tergolong keras seperti ‘aggressiveness or assaulties offenses’ tergolong ‘pathological deviance’. Ellis juga menyebut bahwa mereka yang merasa terangsang dengan melakukan kekerasan biasa disebut ‘Sadis’ sedangkan mereka yang ‘Masochis’ adalah mereka yang secara naluri merasa senang atau dipuaskan kalau mereka merasakan sebagai korban sadisme itu atau mengindentifikasikan diri dengan kesengsaraan orang lain yang dilihatnya. H.J. Eysenick dan D.K.B. Nias dalam bukunya ‘Sex, Violence and the Media’ menyebut adanya tingkatan dalam perilaku seseorang dalam hubungan dengan kekerasan dan sadisme, yaitu: (1) imitasi, dimana seseorang senang meniru apa yang dilihatnya; (2) identification, dimana seseorang merasa senang bisa mengidentifikasikan diri dalam kekerasan yang dilihatnya (catatan penulis: apakah sebagai pelaku = sadisme atau sebagai penderita = masochisme); (3) disinhibition, yaitu runtuhnya rem pengaman diri sehingga naluri kekerasan yang sudah ada dalam jiwa seseorang kemudian tersembul keluar; (4) stimulation / triggering, dimana seseorang merasa terangsang untuk bertindak serupa yang dilihatnya; dan (5) katharsis, dimana segala naluri kekerasan dan sadisme dalam dirinya meluap keluar.

Dalam kasus Mel Gibson, kelihatannya naluri kekerasan dan sadisme dalam dirinya terpuaskan melalui pembuatan film-filmnya yang penuh dendam dan berdarah-darah itu, dan filmnya ‘The Passion’ berhasil merangsang penonton yang jiwanya terpuaskan apakah dengan mengidentifikasikan dirinya dalam kekejaman yang ditimpakan kepada Yesus atau dalam solidaritas merasakan kekejaman yang diderita Yesus. Karena penyimpangan pathologis demikian sudah terjadi pada banyak penonton yang mengelu-elukan film ‘The Passion’ yang notabena juga terpuaskan dengan kekerasan dan sadisme Bush di Irak, kita perlu mempertanyakan dan mendoakan sampai dimana buah-buah roh (Gal.5:16-26) ada dalam diri seseorang kristen yang mengaku mengalami kelahiran baru. Film ‘The Passion’ bukan saja mengumbar dan merangsang perilaku ‘sadisme/masochisme’ tetapi juga beritanya banyak yang diluar Injil, jadi film ini bukan mengabarkan ‘kabar baik’ tetapi sebaliknya yaitu ‘kabar sensasi.’ Berita Injil tidak bertumpu pada kesengsaraan Yesus tetapi pada ‘kabar baik’ kebangkitan!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Flp.4:8)

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org
 

Catatan:
Ceramah dengan persentasi powerpoint tentang adegan-adegan ‘7 film tentang Yesus’ telah dibawakan dibeberapa gereja, dan telah terbit Makalah Sahabat Awam cetak (MSA-75, Mei 2004) dengan judul ‘Film-Film Tentang Yesus,’ dan mereka yang membutuhkan tema ini untuk pelayanan dapat meminta format internet MSAmaya-75 melalui
subscribe-MSAmaya@yabina.org

 

[_private/r_list2.htm]