Artikel 87_ 2004
TRAGEDI MALUKU
Maluku khususnya Ambon sejak tahun 1999, mengalami kerusuhan yang melibatkan penduduk lintas agama, dan sekalipun telah dilakukan usaha perdamaian termasuk menghidupkan tradisi damai 'pela gandong', permusuhan belum juga usai dan menghancurkan puluhan gereja dan mesjid dan ribuan toko dan rumah di Maluku Selatan hingga ke Maluku Utara, dan mengakibatkan ribuan orang meninggal, luka-luka, dan puluhan ribu orang mengungsi. Tiga tahun kerusuhan baru usai, tetapi di bulan April 2004, dengan dirayakannya Ultah – RMS tanggal 25 oleh sekelompok warga, kerusuhan kembali berkobar.
Konflik ini harus dilihat dari sejarah jauh sebelumnya dimana Maluku yang dikenal sebagai lumbung 'emas hijau', karena kelimpahan produksi rempah-rempahnya terutama cengkih, ternyata mengakibatkan derita berkepanjangan bagi rakyatnya, lebih-lebih dengan adanya penjajahan dan datangnya misi agama bersamaan dengan para pedagang asing yang masuk ke situ. Daya tarik 'seribu pulau' rempah-rempah ini sudah tercium pelaut Cina sejak abad-7 yang kerap berkunjung ke kepulauan itu. Ketika Sriwijaya (Sumatera) berjaya, Maluku pun dikuasainya, dan pada abad-12 Maluku dikuasai kerajaan Majapahit (Jawa). Sebelumnya daya tarik emas hijau juga tercium sampai ke Timur Tengah dengan kunjungan saudagar Arab, Persia dan Gujarat pada abad-11, dan kemudian pedagang dari Aceh, Malaka, dan Gresik.
Sejalan dengan perdagangan yang dimotori pedagang Islam, penyebaran agama terjadi melalui proses perdagangan, sehingga berangsur-angsur peng'Islam'an suku-suku kafir terjadi sejak abad-11, dan pada masa pemerintahan Sultan Ternate Gapi Buta (1486-1500) yang masuk Islam, peng'Islam'an berjalan cepat baik di Ternate maupun di pulau-pulau lainnya dan terutama menyebar di daerah-daerah pesisir. Pada abad terakhir datanglah pedagang dari Bugis, Buton dan Makasar sambil menyebarkan agama Islam.
Maluku bukan hanya dikenal sebagai kepulauan 'seribu pulau' tetapi juga 'seribu suku', soalnya begitu banyak suku saling terisolir tinggal di sana yang umumnya masih menganut animisme. Karena itu, dapatlah dimaklumi kalau kemudian peng'Islam'an terjadi dari satu suku ke suku lainnya, dan umumnya penduduk Maluku terpisah-pisah dalam kampung / desa yang menganut agama tertentu.
Daya tarik 'emas hijau' juga memikat negara-negara Eropah. Portugis masuk Maluku (1521) dan sejalan dengan itu terjadi peng'Katolik'an (1540-1605) karena adanya misi RK yang ikut datang bersamanya. Setelah beberapa tahun Portugis berjaya di kepulauan ini, datanglah tentara Inggeris ke Ternate (1577) dan Belanda ke Ambon dan Tidore (1605) dengan disertai misi Protestan sehingga terjadi juga peng'Kristen'an (protestan), dan berkembanglah gereja Kristen dibawah gereja VOC selama lebih dari dua abad (1605-1815).
Para penjajah berebut daerah dan rempah-rempah dengan cara apapun dan terjadi perang dahsyat usir-mengusir antara Belanda dan Portugis, bahkan di tahun 1623 terjadi perang antara Belanda dan Inggeris yang mendatangkan korban ribuan orang terbunuh, pembantaian ini dikenal sebagai 'Amboyna Massacre'. Perebutan kekuasaan antara Inggeris dan Belanda terjadi beberapa kali dan setelah diselingi pemerintahan Inggeris (1814-1817) kekuasaan atas kepulauan Maluku jatuh kembali ke Belanda.
Banyaknya suku di Maluku menyebabkan distribusi penganut agama juga terjadi berdasarkan kampung/desa yang di zaman Belanda disebut sebagai 'Negorij' dan bila ada satu suku yang anggotanya berpihak pada agama berbeda, biasanya terjadi pemisahan menjadi 'desa Islam' dan 'desa Kristen.' Pembagian demikian diperkuat politik 'devide et impera' Belanda dalam menghadapi penduduk pribumi khususnya yang masih di bawah kesultanan yang melawan pemerintahan penjajah. Dalam kondisi demikian, desa-desa Kristen berpihak kepada Belanda sehingga banyak di antaranya mendapat kesempatan lebih baik dalam pendidikan, diangkat sebagai pegawai pemerintah, atau menjadi tentara, sedang desa-desa 'Islam' cenderung berpihak kesultanan yang enggan berkooperasi dengan penjajah.
Gereja di Maluku hidup kembali setelah kedatangan usaha Pekabaran Injil NZG yang bekerjasama dengan Gereja Protestan (1815-1864) dan berdiri di bawah Gereja Protestan (1864-1935) sebelum dipimpin oleh orang Maluku sendiri dalam Gereja Protestan Maluku (GPM), GPM adalah gereja Kristen paling tua di Indonesia. Sejak itu Gereja di Maluku dengan bantuan Belanda melakukan pengembangan di Maluku. Agama Kristen berakar dibeberapa daerah Maluku, tetapi tercampur dengan agama asli animis, adat-istiadat nenek moyang yang kuat serta tahyul. Sejak lama tidak ada pemeliharaan rohani di kalangan jemaat Kristen, bahkan sejak tahun 1801 tidak ada lagi pendeta Belanda yang melayani di sana sampai tahun 1816 dengan kedatangan pekabar Injil J. Kam yang dijuluki sebagai 'Rasul Maluku.' Sebenarnya bukan Kam yang merintis pembentukan gereja Maluku tetapi ialah yang melakukan reformasi keadaan gereja.
Sinyalemen kekristenan sebagai agama 'Belanda' disebabkan hubungan gereja dengan pemerintah Belanda erat sekali, para pendeta dan pembantunya diangkat menjadi pegawai pemerintah, ketika didirikan sekolah guru Injil di Ambon (1885), guru-guru Injil diangkat sebagai pegawai pemerintah. Baru pada tahun 1935 gereja Maluku berdiri sendiri sebagai Gereja Protestan Maluku (GPM). Namun tata gereja yang dibuat masih sama dengan tata gereja Gereja Protestan yang berkiblat ke negeri Belanda, kekristenan masih menjadi gereja bangsa, anak-anak yang belum dibaptiskan maupun yang bukan anggota gereja diakui sebagai anggota gereja. Disini keanggotaan gereja menjadi identik dengan kebangsaan/kesukuan, jadi gereja Maluku bukan saja menjadi 'gereja bangsa' tetapi juga menjadi 'gereja pemerintah'.
Tradisi memainkan peran dalam gereja Maluku bahkan dianggap sebagai bagian dari tradisi Kristen sehingga ada julukan bahwa kekristenan sudah 'diambonisasikan' karenanya dalam gereja Maluku terjadi 'sinkretisasi' dimana tahyul dan kekafiran tercampur dalam kekristenan. Disamping hambatan dari tradisi, hambatan juga terjadi dari luar khususnya yang terjadi di Halmahera. Sejak ditinggalkan Portugis/Spanyol di tahun 1630 dan dikuasai Belanda memang jemaat Kristen di Halmahera kurang mendapat pemeliharaan sehingga merosot dan baru pada tahun 1865 badan pekabaran Injil Belanda UZV mulai bekerja. Berbeda dengan di Ambon, di Halmahera kesulitan politik cukup besar karena pengaruh kesultanan Ternate dan Tidore yang berkuasa atas suku-suku Halmahera, terutama Sultan Ternate yang memanfaatkan kekuasaan untuk meng'Islam'kan daerah itu mengingat bahwa loyalitas orang Kristen lebih tertuju pada penjajah.
Kekristenan mulai meningkat kembali di akhir aba-19 ketika pekabaran Injil dimulai di Tobelo dipantai timur Halmahera ketika pada tahun 1896 mereka berontak dan melawan sultan Ternate, dan ketika ada raja kafir yang dibaptis dua tahun kemudian maka segenap suku dibawah kekuasaannya di'kristen'kan, maka kembali terjadi 'kekristenan bangsa' dimana orang menjadi kristen karena mengikuti rajanya.
Dengan adanya sejarah kekristenan yang kurang menggembirakan itu, Indonesia memasuki kemerdekaan di tahun 1945. Kurang harmonisnya para Sultan dan negeri kesultanan mereka yang umumnya beragama Islam dengan pemerintah Belanda menyebabkan pihak kesultanan menjadi tulang punggung perlawanan ketika Indonesia berusaha memerdekakan diri, dan karena hubungan emosional ke'agama'an umumnya orang Maluku Kristen lebih memihak Belanda. Itulah sebabnya ketika Indonesia merdeka ada kelompok Ambon-Kristen yang membentuk Republik Maluku Selatan (RMS) yang melakukan perlawanan sekitar tahun 1950-1953 kepada Pemerintah RI dan ingin memisahkan diri.
Sebenarnya perbedaan agama tidak menjadi faktor yang utama di Maluku khususnya di Ambon karena umumnya sekalipun berbeda agama dan tinggal di desa terpisah, suku-suku Ambon masih mempunyai tali kekeluargaan dan persaudaraan yang meredam sikap permusuhan sehingga ada adat persatuan yang disebut sebagai 'Pela-Gandong', tetapi situasi ini berubah baik secara agama, politik maupun ekonomi ketika datang para penjajah Barat dan pendatang dari suku-suku di luar Maluku dalam jumlah besar. Situasi yang kompleks dan heterogen inilah yang telah mewarnai kehidupan kebangsaan, politik maupun ekonomi di Maluku, apalagi dengan adanya program Transmigrasi yang mendatangkan para pendatang yang umumnya beragama Islam ke daerah Kristen, tensi SARA makin meningkat.
Situasi makin parah ketika di zaman kemerdekaan, yang beragama Islam memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan sehingga mulailah terjadi perebutan pengaruh dalam bidang ketentaraan maupun kepegawaian negeri. Di bidang ekonomi kelompok Islam yang selama ini tersingkir di bawah pemerintahan Belanda sekarang bangkit dan menguasai ekonomi dan tanah-tanah Ambon dan sekitarnya. Jadi konflik di Maluku dan Ambon khususnya bukan sekedar dipicu soal SARA tetapi lebih karena persoalan politis dan ekonomi yang merupakan warisan zaman kolonial, apalagi orang Maluku terkenal bertemperamen keras. Ketika di akhir tahun 1998 terjadi peristiwa 'Ketapang' di Jakarta melibatkan orang-orang yang berasal dari Ambon dan merembet soal SARA dimana belasan gereja dibakar massa, pemerintahan DKI memulangkan mereka kembali ke Ambon. Politik balas dendam inilah yang kelihatannya ikut memicu kerusuhan yang berkepanjangan yang kemudian menjurus pada isu SARA.
Konflik sukar diatasi karena campur tangan orang dari luar Ambon. Beberapa kelompok Islam garis keras dari luar Ambon ikut memanasi situasi dengan mengobarkan fanatisme agama dan menjadikan konflik yang multidemensional penyebabnya itu sebagai 'perang jihad' antar agama. Dipihak Kristen ada juga yang ikut memanaskan situasi dengan melontarkan berita yang bersikap partisan termasuk pers Barat yang cenderung pro-Belanda dan pro-Kristen. Faktor politik kental, bukan saja peran RMS yang berbasis di negeri Belanda yang ikut berperan dan menggunakan momentum kemerdekaan Timtim sebagai harapan untuk memperjuangkan kemerdekaan RMS (Tempo 26 Desember 1999 mencatat komentar presiden RMS di negeri Belanda yang mengaku menyumbang dana untuk Ambon), juga pergolakan politik di pusat Pemerintahan di Jakarta ikut menjadikan 'perang Ambon' sebagai komoditi politik pula.
Bibit konflik tahun 2004 sebenarnya sama yaitu adanya trauma sejarah yang membelah penduduk Maluku menjadi dua, namun yang menjadi pemicu konflik tahun 2004 adalah masih adanya para pengikut fanatik RMS. Beradanya Alex Manuputty di Amerika Serikat dan tokoh-tokoh RMS di Belanda menyebabkan sentimen ‘amboina’ masih membara di kalangan beberapa pengikutnya di Maluku. Pada tanggal 25 April 2004, HUT-RMS dirayakan oleh para pengikut ini dengan pengibaran bendera RMS, ini menjadi alat picu yang kembali mengobarkan premordialisme yang saling bertentangan. Karena para pengikut RMS umumnya beragama Kristen, otomatis dengan mudah sentimen SARA muncul kembali dan membelah masyarakat Maluku menjadi dikotomi seperti kerusuhan 1999.
Berdasarkan hal-hal di atas, umat Kristen dihimbau untuk berhati-hati dalam memberikan dukungan atau penolakan atas kasus Ambon dan Maluku, agar maksud baiknya tidak malah membesarkan api yang membara. Umat kristen perlu berada di atas kebenaran dan janganlah terlibat pada sentimen premordialisme dan juga tidak ikut-ikutan dalam politik partisan misalnya dengan berpihak kepada RMS yang notabene adalah gerakan separatis yang menjadi masalah di Indonesia dan lebih membawa sengsara penduduk Maluku, di negeri Belanda sendiri RMS sudah menjadi masalah karena perilaku banyak diantaranya yang tidak benar.
Kita perlu mendoakan para pemimpin Kristen yang duduk di pemerintahan maupun di DPR agar tidak berdiri di atas fanatisme golongan tetapi berani berdiri di atas kebenaran dan ikut berusaha dalam meneduhkan konflik, dan marilah kita berdoa agar kebenaran yang menang dan agar yang salah (baik dari yang Kristen maupun Islam) dapat diadili dan yang menjadi korban (baik dari Kristen maupun Islam) dapat ditolong lepas dari penderitaan mereka.
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org
Catatan: Telah terbit Makalah Sahabat Awam cetak (MSA-54, Januari 2000) berjudul ‘Tragedi Ambon,’ dan telah diupdate berjudul ‘Tragedi Maluku’ yang diedarkan melalui internet dalam bentuk MSAmaya-54. Mereka yang membutuhkannya untuk pelayanan dapat meminta melalui subscribe-MSAmaya@yabina.org. Mereka yang ingin menerima renungan & artikel mingguan, dan diskusi bulanan dapat mengirim e-mail ke subscribe-Cyber-Pulpit@yabina.org.