Artikel 91_ 2004
JESUS PEOPLE USA
Dari kalangan Jesus People lahirlah kelompok yang bernama Jesus People USA (JPUSA). Sejarah JPUSA bermula tahun 1971 ketika Jim & Sue Palosaari, dengan bantuan Linda Meissner perintis ‘Jesus Army’ di Seattle, mencari lokasi yang paling tepat untuk memulai ‘Jesus Ministry.’ Mereka menemukan bahwa Milwouke tepat untuk lokasi itu dan didirikanlah kelompok yang menarik 25 anggota dan menamakan diri sebagai ‘Jesus People Milwouke’ (JPM), kelompok ini menarik para hippies yaitu anak-anak muda yang terlibat obat bius, terbuang, yang melarikan diri dari orang tua, dan homoseksual, yaitu mereka yang membutuhkan Yesus.
Pada bulan Oktober 1971, John Wiley Herrin, seorang pendeta yang dahulunya pecandu alkohol dan perkawinan yang tidak setia, mengunjungi JPM dengan isteri dan anak-anaknya. Keluarga John sangat tertarik kehidupan komunal yang menyerahkan seluruh kehdupan kepada Yesus dan kemudian bergabung. Pada November 1971, JPM beranggota 100 orang dan dalam tiga bulan menjadi 200 anggotanya.
Pada bulan April 1972, JPM dibagi menjadi beberapa kelompok dengan maksud untuk menginjili benua Eropah. John membentuk kelompok kecil yang terdiri dari band ‘Jesus Rock’ yang diberi nama ‘Ressurection,’ dan bersama 30 orang lainnya kemudian menamakan diri sebagai ‘Jesus People USA.’ (JPUSA).
Berkelana dengan bis tua dan beberapa mobil sepanjang musim panas tahun 1971 mereka menjadi perhatian media karena kekhasan mereka, yaitu berambut panjang, penginjil hippie, yang berniat menginjili seluruh Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1971, mereka meninggalkan Milwouke dan pergi ke Gainsville-Florida, dan mereka bermain musik di panggung Universitas Florida. Karena disana sudah beroperasi ‘Children Of God’ yang mempunyai nama jelek karena kehidupan seks bebas mereka, kelompok JPUSA juga dicurigai dan kurang diterima. JPUSA mengundurkan diri ke Duluth-Minnesota untuk menetap secara permanen namun kemudian berniat menginjili kota besar dan menetap di Chicago-Illinois dimana mereka diterima dengan baik oleh Faith Tabernakel Church. Misi JPUSA mencakup sekolah pemuridan, bersaksi di jalan-jalan, dan KKR dengan band ‘The Ressurection untuk menginjili para pemuda Chicago.
JPUSA mengalami krisis pada tahun 1974 ketika John pemimpinnya terlibat asmara dengan seorang anggota perempuan komunitas mereka. Setelah melalui berbagai usaha konseling untuk mengembalikan kepemimpinan kepada yang baik tidak berhasil, krisis baru mereda setelah John bercerai dengan isterinya dan meninggalkan JPUSA. Krisis lainnya timbul ketika Jack Winters, anggota komunitas kharismatik lokal, Daystar, mulai mengajar di JPUSA. Pengajarannya berkisar pada perlunya ‘disiplin‘ dalam kehidupan para muda-mudi pemberontak itu. Para anggota didorong untuk mempraktekkan hukuman pukulan dengan tongkat dan tamparan bagi anak muda yang tidak taat. Praktek disiplin ini berjalan selama tiga tahun sampai pimpinan JPUSA merasa bahwa cara disiplin dengan hukuman demikian sudah keterlaluan dan diluar batas. Hubungan dengan Winters kemudian putus ketika Winters menyuruh para anggota bergabung dengan Daystar atau keluar.
Pada tahun 1975, JPUSA mulai merasakan perlunya tempat tinggal yang tetap dan membeli flat 6 unit. Kemudian dibangun loteng pada bangunan itu, dan ruang-ruang yang besar digunakan sebagai asrama yang bisa menampung sampai 20 orang. JPUSA kemudian menerbitkan majalah bernama ‘Cornerstone’ yang menjadi majalah agama yang cukup dikenal pada masa itu. Komunitas ini kemudian meninggalkan cara-cara pengumpulan dana dengan minta derma dan mulai mengembangkan berbagai usaha kecil seperti perbaikan rumah, mengecat rumah, pengerjaan atap, dan pertukangan kayu. Pelayanan ini dikenal sebagai ‘tent making ministry’ (pelayanan pembuat tenda).
Pada tahun 1978, JPUSA bergabung dengan kelompok urban penduduk berkulit hitam yang sealiran dan menempati bekas hotel dipinggiran kota Chicago. Ketika memasuki dasawarsa 1980-an, para anggotanya mulai lebih melibatkan diri dalam kehidupan sosial disekelilingnya. Mereka mulai membuka program makan malam dan membantu mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan untuk mencapai khalayak yang lebih luas, mereka mengadakan festival musik gaya woodstock yaitu ‘Cornerstone Festival’ pada bulan Juni 1984 yang ternyata berhasil, kemudian festival ini diadakan setiap tahun.
Pada akhir dasawarsa 1980-an, Chicago mengalami krisis perumahan, dan JPUSA memperluas pelayanannya dalam mengusahakan perumahan bagi yang tidak punya. Pada tahun 1987 mereka memperoleh hibah gudang yang tidak terpakai dari pemerintahan kota Chicago dan juga dana dari Evangelical Covenant Church, sehingga mereka dapat mengusahakan perumahan bagi lebih banyak orang lagi.
Pada masa itu, JPUSA juga mengusahakan sebuah badan ‘pro-life’ yang dinamakan ‘Crisis Pregnancy Center’ (CPC) yang melayani sekitar 60 orang setiap bulannya. Sekalipun kadang-kadang mengalami krisis keuangan, pelayanan keluar JPUSA yang aktif dihargai masyarakat. JPUSA membuka program, seperti:
- Cornerstone Community Outreach, yang menyediakan perumahan darurat untuk perempuan dan anak-anak;
- Friendly Towers, yang menyediakan perumahan bagi orang-orang tua yang berpenghasilan rendah;
- Brothas and S.I.S.T.A.S. United, pelayanan kepada para pemuda di perumahan dengan menawarkan bimbingan belajar dan lainnya;
- Cocerned Crafts, program pengumpulan dana dengan menjual kerajinan tangan untuk membantu negara-negara berkembang;
- Cornerstone Festival, yaitu festival musik tahunan.
Tiga dasawarsa sejak timbulnya gerakan kontra-budaya di tahun 1960-an, Jesus People USA termasuk salah satu dari sedikit komunitas-komunitas yang masih bertahan. JPUSA masih menempati alamat yang sama sampai sekarang dan beranggotakan 500 orang. JPUSA tetap mempertahankan pelayanan mereka semula dengan tetap setia memberitakan Injil dan melakukan pelayanan kepada mereka yang butuh.
Kepercayaan dasar JPUSA adalah pentingnya kehidupan komunal, yaitu menyerahkan hidup sepenuhnya untuk melayani Tuhan bersama-sama. JPUSA mendasarkan ajarannya pada ayat Alkitab yang berbunyi:
“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis.4:32)
Pengajaran lainnya dapat dikata mengikuti keyakinan Injili (Evangelical) yang orthodox, seperti a.l. ketidak bersalahan Alkitab, kelahiran dara, trinitas, kejatuhan dalam dosa, dan keselamatan dalam Kristus.
Bersambung ke: 92 – CHILDREN OF GOD
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org