Artikel 95_ 2004                 


THE GOSPEL OF JOHN

Judul artikel ini adalah judul film yang diproduksi oleh ‘THINK Film’ Kanada yang berdurasi 3 jam. Film ini tepat disebut sebagai ‘Visual Bible’s THE GOSPEL OF JOHN’ karena mengungkapkan Injil Yohanes kata-demi-kata ke layar lebar.

Film disutradarai oleh Philip Saville dan dimainkan oleh Henry Ian Cusick sebagai Yesus, Diana Berriman sebagai Maria, Daniel Kash sebagai Petrus, Lyndsey Baxter sebagai Maria Magdalena, Scott Handy sebagai Yohanes Pembaptis, dan Salvatore Migliore sebagai Yudas, dan dibuat benar-benar mengikuti ayat-demi-ayat Injil Yohanes sesuai dengan versi ‘Good News Bible’ yang diterjemahkan oleh ‘American Bible Society’ dengan narasi diucapkan Christopher Plummer yang dikenal sebagai pemeran kapten dalam film ‘The Sound of Music.’

Film ini diawali dengan pembacaan ayat Yohanes 3:16 yang terkenal itu dengan disertai teks bahwa ‘This film is a faithful representation of that Gospel.’ Kemudian dibacakan juga pembukaan Injil Yohanes dari Yoh.1:1-5, dan sekalipun dibuat di studio di Kanada dan lokasi di Spanyol, benar-benar adegan-adegan dan alam sekitarnya diusahakan semirip mungkin dengan alam palestina pada masa Yesus hidup.

Tradisi perkawinan di Kana digambarkan dengan sederhana dan indah, dan sekalipun tidak dibuat dengan dekorasi yang meriah ala glamor Hollywood, cukup memberi kesan bagi penonton. Film ini bukan cuma film yang menyorot ke’Tuhan’an Yesus seperti inti Injil Yohanes, tetapi kemanusiaan-Nya juga ditonjolkan, betapa ia marah ketika membersihkan Bait Allah. Detail percakapan digarap dengan baik seperti ketika terjadi ‘dialog dengan Nikodemus’ (Yoh.3), demikian juga gambaran kota Yerusalem menarik sekalipun tidak dibuat di Yerusalem yang sekarang sudah modern. Negeri Spanyol diambil sebagai lokasi karena di sana kita masih dapat melihat peninggalan kerajaan Arab yang masih berciri Palestina.

Perumpamaan Alkitab cukup ditayangkan secara realistik dan jelas, seperti percakapan Yesus dengan perempuan Samaria maupun penyembuhan di Bethesda, demikian juga ketika Yesus memberi makan 5000 orang. Ketika Yesus berjalan di atas air gambarannya mengesankan dan kotbah Yesus mengenai ‘Roti Hidup’ benar-benar memukau.

Peristiwa penghakiman atas perempuan yang berzinah digambarkan dengan sederhana namun jelas, dan yang menarik ketika Yesus berkata: “Ketika Abraham lahir ... Aku Ada” (Yoh.8:58) ditayangkan dengan lambat dan dramatis dan menggugah penonton film. Ketika terjadi penyembuhan orang buta, gambarannya cukup mendetail sehingga tepat kalau film ini disebutkan sebagai mengikuti Injil Yohanes secara kata demi kata karena peristiwanya digambarkan secara visual dengan narasi Alkitabiah yang menarik.

Kemarahan masa Yahudi ketika Yesus mengaku sebagai ‘Anak Allah’ juga digambarkan secara realistik, dan kebangkitan Lazarus juga bisa diikuti dengan lengkap. Peristiwa Yesus masuk ke kota Yerusalem yang di elu-elukan masa Yahudi menarik dan lengkap digambarkan tanpa membosankan (Yoh.12). Ketika memberikan perumpamaan tentang pokok anggur yang benar (Yoh.15) digambarkan Yesus dan murid-muridnya berjalan di kebun anggur. Kotbah-kotbah Yesus yang diucapkan sering diberi ilustrasi flash-back peristiwa sebelumnya yang terkait yang ditayangkan dengan warna hitam-putih.

Di taman Getsemane, pergumulan Yesus digambarkan secara jelas termasuk pergumulan Petrus yang akhirnya menghunus pedang dan memotong telinga Malkhus (Yoh.18) dan diredakan oleh Yesus. Dalam film ini terasa bahwa sifat-sifat individual murid-murid Yesus digambarkan secara khusus terutama Petrus. Betapa Petrus menyangkali Yesus tiga kali sampai ayam berkokok sampai gambaran kematiannya yang dinubuatkan Yesus (Yoh.21:18).

Teriakan masa Yahudi ketika meminta Barabbas untuk dibebaskan maupun ketika berseru agar Yesus disalib digambarkan dengan masa yang emosional. Yesus juga digambarkan memikul salib ke bukit Golgota, dan tulisan diatas kayu salib yang terdiri dari tiga bahasa (INRI, Yoh.19:19) digambarkan dengan lengkap dan dipaku di kayu salib di atas kepala Yesus. Ucapan Yesus ‘Aku Haus’ sampai ‘It Is Finished’ jelas diucapkan Yesus sebelum menyerahlkan nyawanya kepada Bapa.

Kematian Yesus digambarkan sesuai ayat Alkitab, betapa Ia ditusuk lambungnya sehingga mengeluarkan darah, bagaimana kedua kaki penjahat dipatahkan, dan ketika Ia bangkit, juga digambarkan Ia menunjukkan luka dilambung-Nya kepada para murid dan kemudian kepada Thomas yang mengaku: ‘My Lord and My God’ (Yoh.20:28). Sesuai Injil Yohanes, film ini diakhiri dengan penampakkan Yesus dengan murid-murid-Nya di tepi pantai, Yesus makan ikan dengan mereka dan bagaimana Yesus mengatakan ‘Ikutlah Aku.’

Film ini memang benar merupakan film yang paling setia memberitakan Injil bahkan menguraikan secara oral dan visual (sesuai injil Yohanes terjemahan Good News Bible), dan telah menerima banyak komentar, seperti: “The First Major Motion Picture that faithfully Depicts the Life, Death and Resurrection of Christ”; Toledo Blade menulis: “(The Gospel of John) follows the Bible so closely that you can actually read along with it”; dan Movie Guide menyebutnya “This is the greatest story ever told in the greatest way imaginable.”  Ted Haggard, presiden National Association of Evangelicals menyebut film ini: “The Gospel of John is the Scripture coming to life;” dan Robert E. Coleman yang terkenal dengan buku klasik ‘Amanat Agung Penginjilan’ menyebut film ini: “A powerful presentation of the person of Christ.”

Ada yang mengatakan bahwa film-film yang setia kepada Injil terlalu lembek. Dalam film ini kekerasan juga ditayangkan selama itu disebut ayat-ayat Injil Yohanes, seperti ketika Yesus marah menjungkir balikkan meja penukar uang di bait Allah, ketika orang Yahudi marah menyuruh Barabas dibebaskan dan Yesus disalib, ketika Yesus ditampar penjaga, disesah, memikul salib ke Golgota, dan lambung-Nya ditusuk setelah kedua kaki penjahat dipatahkan dengan palu.

Film ini dirilis pada tahun yang sama (2003) dengan film ‘The Passion’, dan sekalipun cukup banyak mendapat pujian namun dibandingkan dengan film ‘The Passion’ (sekalipun masih dirilis terbatas tahun itu), film terakhir ini mendapat promosi yang jauh lebih luar biasa daripada film ‘The Gospel of John.’ Bahkan di Indonesia dan di milis tidak ada yang mempopulerkan film Injil Yohanes, padahal begitu banyak pendeta, penginjil bahkan gereja memborong tiket film ‘The Passion’ yang sebenarnya mengumbar sadisme dan Injil yang terdistorsi (yang didasarkan visiun biarawati Emmerich) itu.

Kelihatannya kebanyakan umat Kristen lebih senang film ‘sensasi’ tentang Yesus daripada film ‘yang benar’ tentang Injil Yesus. Yang menyedihkan adalah bahwa promosi orang Kristen akan film ‘The Passion’ telah menjadikannya film ini laku keras (terutama di kalangan penonton Kristen) dan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar bagi Mel Gibson.

Keuntungan besar yang masuk ke kocek Mel Gibson ternyata sekarang digunakan untuk membuat film berikutnya dimana Ia menyutradarai film berjudul ‘Savage’ (menurut kamus Mc’Echols disebut artinya sebagai ‘orang biadab/liar/ganas’, dan yang dipilih membintangi film itu adalah David Carradine. David adalah aktor laga dan sutradara yang juga terkenal keras, Ia seorang penganut Taoisme/Buddhisme dan membintangi film-film keras seperti serial ‘Kungfu’ & ‘The Legend Continues’ dan yang terakhir serial ‘Kill Bill.’

David benar-benar menjiwai film-filmnya yang keras yang berbau agama, bahkan belakangan ini produktif mempromosikan sadisme & agama seperti berjudul ‘Tai Chi Workout for Beginners’ (1997); ‘Art of Action: Martial Arts in Motion Picture’ (2002); ‘Chi Energy workout’ (2003); ‘AM & PM Tai Chi Workouts; dan ‘The Tao of Caine: Production & Beyond (2003).

Ada yang mengatakan bahwa baik Mel maupun David hanya memerankan ‘role playing’ sebagai aktor yang belum tentu sejiwa dengan peran yang dibawakan, namun perlu diperhatikan bahwa keduanya bukan sekedar aktor tetapi juga sutradara yang berhasil justru melalui film-film keras yang dijiwai dan dibintangi mereka. Dalam salah satu episode film serial ‘Kungfu’ berjudul ‘The Deathly Mantis’, David Carradine yang memainkan tokoh Caine memberi komentar tentang orang Kristen dengan mengatakan bahwa : “Orang kristen itu seperti belalang sembah (prayer mantis) yang berdoa untuk membunuh” (belalang sembah berpose seperti orang berdoa sebelum menerkam lawannya).

Memang disayangkan bahwa banyak orang kristen mengelu-elukan selebriti Mel Gibson dan ikut mempromosikan ‘the sadistic gospel of Mel’ yang menghasilkan banyak keuntungan kepadanya dan sekarang keuntungan itu digunakannya untuk membuat film sadisme yang lain ‘Savage’ bersama David yang juga biasa menjiwai film-film kerasnya yang non dan anti Kristen. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita jangan terlalu mudah terpengaruh oleh pesona selebriti sehingga terkecoh dan lebih menghargai ‘sensasi sadisme’ daripada ‘kebenaran dan kasih Injil,’ yang ujung-ujungnya bisa menjadi boomerang bagi kekristenan.

Akhirnya, marilah kita mempromosikan film ‘The Gospel of John’ dan memutarnya di gereja-gereja, karena film ini benar-benar didasarkan Injil Yohanes, bahkan ayat-demi-ayat’ dan nyaris tidak mengandung kembangan yang bisa mendistorsi Injil Yohanes, namun film ini tetap menarik untuk ditonton sampai selesai. Marilah kita kembali setia memberitakan Injil yang benar, termasuk melalui film semacam ini. Amin!

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]