Artikel 1_ 2005
ALEXANDER
Sekitar hari Natal 2004, di Indonesia diputar film ‘Alexander,’ yang sekalipun agak kabur ceritanya dan barbarik dibandingkan film klasik sebelumnya yang berjudul ‘Alexander The Great,’ sejarah yang diceritakannya sangat menarik dan perlu dijadikan cermin. Ketika mencari DVD film itu ditemukan juga film klasik ‘Cleopatra’ yang dimainkan oleh pasangan kontroversial Elizabeth Taylor dan Richard Burton. Sejarah Alexander dan Cleopatra penting karena memberi latar belakang helenis sebagai dinasti penguasa Mesir dan juga pada kitab suci Yahudi dan Kristen yang ditulis dalam bahasa Yunani.
Alexander (356-323) anak raja Phillip-II dari Makedonia setelah ayahnya meninggal berkuasa di Makedonia (Yunani) pada tahun 336. Ia kemudian berekspansi ke timur ke Persia, kemudian turun ke Palestina dan menguasai Mesir dimana ia mendirikan kota Alexandria sebagai ibukota Mesir, yang kemudian menjadi pusat budaya, ilmu pengetahuan dan komersial dunia helenis. Ambisinya berekspansi mendorongnya lebih ke timur lagi untuk menguasai Babilonia, Afghanistan, dan masuk ke India menguasai Punyab sampai ke sungai Hindu.
Salah satu usaha Alexander yang berdampak lama bahkan sesudah dinasti Helenis turun masih bertahan adalah menjadikan budaya helenis (yunani) sebagai budaya rakyat umum dilokasi yang dijajahnya. Ketika ia meninggal pada tahun 323, kerajaannya terbagi empat dipimpin oleh para jenderalnya, dan yang terkenal adalah dinasti Ptolomeus yang berkuasa di Mesir dan dinasti Seleukus di Siria, dan tanah Palestina terjepit dan menjadi rebutan kedua dinasti itu.
Setelah kematian Alexander, Mesir diperintah Ptolomeus I (323-285) yang dikenal sebagai Ptolomeus Soter, ia membangun perpustakaan yang besar di Alexandria. Ia kemudian digantikan anaknya Ptolomeus II (285-246) yang dikenal sebagai Ptolomeus Philadelphus. Ptolomeus Philadelphus sangat memperhatikan dan memperkaya perpustakaan Alexandria, dan ia kemudian melengkapinya dengan kitab suci Yahudi. Ia meminta kepada Eliezer, imam besar Yahudi di Yerusalem agar mengirimkan 6 tua-tua dari setiap dua-belas suku Israel untuk datang ke Alexandria dan menerjemahkan Tenakh Yahudi (PL) ke dalam bahasa Yunani. Eliezer memenuhi permintaan itu dan juga mengirimkan satu naskah Tenakh Yahudi.
Ke-72 tua-tua Israel itu kemudian menerjemahkan Tenakh ke dalam bahasa Yunani dengan ditambah kitab-kitab apokrifa. Terjemahan ini dikenal dengan nama Septuaginta dalam bahasa latin yang artinya 70 (LXX) yang kemudian menjadi bahasa ibadat di sinagoge Yahudi (mengingat bahasa Ibrani kala itu adalah bahasa mati tanpa vokal yang tidak digunakan dalam percakapan umum) dan juga menjadi kitab suci Tenakhnya orang Kristen pada masa Yesus hidup. Yesus sendiri mengutip kitab Yesaya dari Septuaginta (Lukas 4:18-19). Demikian juga Septuaginta selain menjadi dasar kutipan Perjanjian Baru, PB sendiri juga aslinya ditulis dalam bahasa Yunani dengan menggunakan istilah-istilajh yang digunakan dalam Septuaginta.
Setelah kematian Ptolomeus II, ia digantikan anaknya Ptolomeus III atau Ptolomeus Euergetes (246-221). Dibawah pemerintahannya dinasti Seleukus di Siria dikalahkan dan ia membawa Mesir ke dalam puncak kejayaan dan kemakmudran dibawah dinasti Ptolomeus. Setelah kematiannya, penerusnya umumnya lemah, sampai pada Ptolomeus XII. Ketika Ptolomeus XII meninggal (51), ia digantikan anaknya Ptolomeus XIII yang masih berumur 12 tahun yang secara tradisi harus mengawini saudaranya bernama Cleopatra yang kala itu berumur 17 tahun.
Cleopatra (69-30) dikenal karena kecantikan dan kepintarannya, namun juga kelicikannya dengan ambisi besar, dan ia berusaha naik tahta setelah sebelumnya disingkirkan adiknya yang juga suaminya itu. Ketika Julius Caesar (100-44) menyerang Mesir, dan kematian adik dan suaminya itu, ia kemudian diangkat menjadi ratu Mesir (47-30) oleh Julius Caesar, tetapi menurut tradisi Mesir ia tetap harus mengawini adiknya yang lain Ptolomeus XIV yang kala itu masih berumur 11 tahun.
Cleopatra kemudian menjadi selir Julius Caesar dan mempunyai anak Caesarion dan pergi ke Roma. Ketika Julius Caesar terbunuh, ia kembali ke Mesir, dan meracuni Ptolomeus XIV dan mengangkat anaknya Caesarion menjadi penguasa bersamanya di Mesir. Caesarion kemudian menyandang gelar Prolomeus XV.
Kematian Julius Caesar menjadikan jendral Markus Antonius berperan ketika ia berhasil memburu para pembunuh Julius Caesar, dan kemudian kerajaan dibagi tiga wilayah dimana Markus Antonius menguasai wilayah Timur dan Mesir, dan Octaviaunus cucu keponakan dan yang diangkat sebagai anak angkat dan pemaris Julius Caesar menguasai Roma dan bagian barat. Markus Antonius kemudian mengawini Cleopatra dan melawan Octavianus. Octavianus kemudian mengalahkan Markus Antonius dan menguasai kembali kendali pemerintahan Roma di Mesir. Markus Antonius diberi informasi palsu oleh Cleopatra bahwa dirinya telah meninggal, akhirnya bunuh diri.
Kemudian Cleopatra dengan ambisinya yang tidak pernah padam berusaha kembali memasang jerat untuk mendekati Octavianus seperti ia mendekati Julius Caesar dan Markus Antonius sebelumnya. Usaha itu gagal dan Octavianus bermaksud membawa Cleopatra sebagai tawanan ke Roma dengan menyuruhnya berjalan kaki mengiringi kereta Octavianus. Sebelum itu terjadi Cleopatra bunuh diri dengan gigitan ular beracun pada tahun 30sM, dan mengakhiri dinasti Ptolomeus, sedang anaknya Caesarion sudah lebih dahulu dibunuh Octavianus agar tidak menjadi masalah dikemudian hari karena Cleopatra mengklaimnya sebagai pewaris tahta Julius Caesar.
Octavianus yang kemudian dikenal dengan nama kaisar Augustus kemudian memerintah kerajaan Romawi (27sM-14M) dan dibawah pemerintahannyalah diadakan sensus yang dicatat oleh Lukas (2:1-3) yang menyebabkan Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem dan kemudian Maria melahirkan bayi Yesus yang dikenal sebagai hari Natal.
Pelajaran penting dalam peristiwa ini adalah dibalik raja-raja yang penuh ambisi dan gila kekuasaan, lahirlah bayi Natal yang adalah ‘Raja segala raja’ yang rendah hati dan penuh kasih. Alexander bukan saja gila kekuasaan namun ia juga ingin menjadi keturunan dewa Mesir dan juga dewa Yunani. Julius Caesar dalam puncak kekuasaannya ingin menjadi kaisar seumur hidup, diktator, yang adalah keturunan dewa Romawi. Cleopatra dengan segala ambisinya yang dikejar termasuk dengan daya tarik seksualnya menganggap diri sebagai keturunan dewa Ra Mesir, namun semuanya berakhir dengan tragis.
Di balik itu lahirlah sang bayi Yesus di Betlehem dimana umat manusia sejak kelahiran-Nya sampai saat ini bisa mengaminkan seruan bala tentara surga:
“kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).
Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org