Artikel 3_ 2005                 


BARONGSAY
 

Gong Xi Fa Cai diucapkan kepada semua orang yang merayakannya. Perayaan tahun baru Cina merupakan perayaan pembuka tahun baru menurut penanggalan lunar dan tradisi agraris, dan dilakukan untuk mengucap syukur atas datangnya musim semi dimana alam mulai kembali menghasilkan buah setelah tidur dimusim dingin. Sebagai layaknya tradisi kuno, tradisi memang tidak lepas dari pengaruh kepercayaan animistis, mistis dan magis (termasuk penyembahan nenek moyang yang menjadi jantung kepercayaan Cina), karena itu umumnya tradisi disebut sebagai ‘tradisi religi.’

Di kalangan orang Cina kristen ada berbagai tanggapan mengenai perayaan ini, di satu kutub ada yang sama sekali tidak merayakannya dan dikutub lain ada yang merayakannya sepenuhnya tidak beda dengan yang dilakukan oleh mereka yang non-kristen. Memang kedua kutub itu tidak tepat sebab dalam perayaan Imlek, ada hal-hal tradisional yang tidak berbau mistik & magis seperti perayaan datangnya tahun baru dan pengucapan syukur atas datangnya musim tanam, dimana keluarga berkumpul dan saling mengungkapkan rasa rindu mereka. Namun, bagaimana dengan aspek mistis & magis yang banyak ada di dalamnya seperti praktek Barongsay sekitar perayaan Imlek?

Barongsay adalah figur singa yang bukan saja dijadikan lambang namun juga dianggap memiliki kekuatan mistis dan magis dimana manusia memperoleh akses dalam hubungan dengan dunia gaib. Ada buku menarik yang cukup berbobot membahas masalah ini dengan referensi yang cukup luas karangan Ong Hean-Tatt berjudul ‘Simbolisme Hewan Cina’ (Magapoin, Jakarta, 1996).

Ong menjelaskan bahwa banyak bentuk simbol memiliki daya magis:

“Dalam pemujaan dan dalam upacara-upacara magis yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan religi, banyak bentuk simbol dianggap mempunyai daya misterius yang mempengaruhi orang. Daya ini adalah daya magis .... Simbol-simbol religi juga bisa ampuh karena simbol-simbol ini dalam dirinya mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut.” (Ong, 5,6).


Simbol hewan itu bukan hanya memiliki kekuatan tetapi menjadi perantara bagi dunia roh:

“Bagi orang-orang Cina kuna sejak zaman Dinasti Hsia desain-desain hewan itu tidaklah tanpa makna karena bagi mereka desain-desain itu mempunyai arti penting magis, .... yang berasal dari peran utama mereka sebagai pembawa berita dunia roh.” (Ong, 10).

Simbolisasi itu berasal dari kepercayaan Buddhisme dan Taoisme:

“hewan diperkenalkan kepada kebudayaan Cina sehubungan dengan datangnya ajaran Sang Buddha ke Cina karena dalam ajaran ini Singa digambarkan sebagai pembela keyakinan dan Hukum Buddha. Singa Korea atau Anjing Fu bisa terlihat mengawal bagian depan kuil-kuil Buddha. ... patung-patung Singa banyak terlihat digunakan untuk menjaga suatu bangunan, baik diletakkan di atap maupun di pintu. ... Seorang rahib Tao akan mengundang kekuatan-kekuatan Langit atau roh lewat Hewan-hewan Perlambang .... Upacara-upacara magis Tao yang paling penting, yang mengikuti urut-urutan Lo-Shu, terdiri dari kemampuan untuk mengundang datang kekuatan-kekuatan yang dipunyai jenderal-jenderal Roh ini.” (Ong, 39,39,23,28)


Versi yang paling populer mengenai Singa sebagai lambang adalah Singa yang berdansa sambil berakrobatik (barongsay):

“Dalam hal ini Singa tersebut bisa mendatangi rumah-rumah atau kantor-kantor sebagai lambang rezeki dan berkah dan juga untuk mengusir pergi pengaruh jahat. Tarian ini disertai pukulan tambur dan gembreng serta mercon untuk mengusir roh jahat.” (Ong, 234).

Tarian singa dimainkan oleh kelompok-kelompok pesilat Cina yang menggunakan kekuatan batin chi untuk menggerakkan simbol roh itu, demikian juga Singa itu bagian penyembahan nenek moyang dan merupakan personifikasi dewa-dewa Cina pula:

“Jika terdapat tiga singa maka mereka mewakili Kwan Kung yang bermuka merah dan berjanggut hitam, Liu Pai yang berwarna kuning dan Chang Fei yang bermuka dan berjenggot hitam yang hidup dalam zaman Tiga Kerajaan Han.” (Ong, 234).

Dalam praktek permainan, Barongsay biasa disemayamkan di Klenteng/Vihara dan disembahyangi dengan dupa, dan sebelum bermain para pemain berdoa dan menyembah patung Buddha terlebih dahulu.

Barongsay memang tidak khas bagian dari perayaan Imlek, sebab biasa dimainkan sepanjang tahun, untuk memberkati & mengusir roh-roh jahat dalam pembukaan rumah dan gedung kantor baru, atau untuk menyambut tamu agung, dan lainnya. Namun, karena Imlek merupakan hari raya terbesar tentunya permainan Barongsay sebisanya dilakukan bagi mereka yang memiliki uang karena biasanya permainan barongsay berhenti kalau sudah diberi angpao. Dalam buku Ong ada juga keterangan gambar Barongsay dengan Bilekhud-nya seperti berikut:

“Tari Singa (Barongsay). Tari Singa diadakan untuk menyambut datangnya kekayaan tahun yang baru di rumah.” (Ong, h.233).

Sebenarnya ada juga kaitan Barongsay dengan Imlek, mengingat bahwa perayaan Imlek berlangsung 22 hari dimulai seminggu sebelum Imlek dengan naiknya Toapekong Dapur menghadap kaisar langit sampai Cap Go Meh 15 hari setelah hari Imlek, karena pada tiga hari sebelum Imlek, dewa dapur (Ciau Kun Kong) setelah melaporkan keadaan keluarga ke Kaisar Langit, ia kembali dan untuk itu biasa dibunyikan mercon dan tambur keras-keras bersama Barongsay untuk mengantar kembalinya itu agar tidak diganggu roh jahat. Markus T. Suyanto dalam bukunya ‘Tahun Baru Imlek dan Iman Kristen’ menulis:

“Pada saat Dewa Dapur turun dari langit, selain disambut dengan petasan, maka orang-orang Tionghoa mulai mengundang Barongsai dan Bilek Hud untuk masuk ke rumah mereka. Barongsai dan rombongannya ini bukan sekedar pertunjukan biasa. Ada kepercayaan bahwa Barongsai dan Bilek Hud ini dapat mengusir kuasa kegelapan yang ada dalam rumah mereka.” (h.27).

Melihat hasil kajian kedua budayawan Cina di atas, kita patut merenung: “Sampai dimanakah umat Kristen dapat merayakan Imlek dan mengundang Barongsay mendatanginya? Memang menghadapi tradisi tidaklah mudah karena tradisi memiliki ikatan turun-temurun yang mustahil di hilangkan, namun di balik itu tidak semua aspek tradisi baik bagi iman Kristiani, bahkan tradisi kepercayaan animistik, mistik dan magis (termasuk penyembahan nenek-moyang) yang terkandung dalam lambang Singa dan Barongsay itu merupakan penyembahan berhala dan roh-roh lain yang jelas berantitesa dengan keyakinan Kristen akan kekudusan Allah dan Roh-Nya.

Pernah ada gereja Cina mengundang Barongsay masuk ke ruang kebaktian ketika diadakan perayaan Imlek di gereja itu. Ini perlu benar-benar direnungkan oleh gereja, soalnya, Barongsay mewakili roh-roh nenek moyang yang datang untuk mengusir roh jahat. Dalam konsep keyakinan Kristiani, gereja adalah tempat berkumpulnya orang-orang kudus dimana hadir Roh Allah dalam diri masing-masing jemaat dan di antara jemaat yaitu dalam gedung gereja itu.

Bila gereja mengundang Barongsay dengan berdentangnya bunyi tambur pengusir roh dan pengaruh jahat itu, dalam hal kunjungan barongsay ke umat Kristen yaitu bait Roh Kudus (1 Kor.3:16;6:19-20), ‘Roh siapa mengusir roh siapa?’, dan ‘Roh siapa diusir oleh roh siapa?’ Bukankah hal ini mendukakan Roh Kudus, sebab bukannya Roh Kudus didatangkan untuk mengusir roh nenek moyang dalam tradisi, malah roh nenek moyang tradisilah yang didatangkan untuk mengusir ‘Roh yang mendiami gereja dan umat-Nya.’

Tidaklah mudah bagi umat Kristen menghindarkan diri dari pengaruh sinkretisme tradisi, gereja Roma Katolik sudah membuktikan tidak mudahnya melepas tradisi penyembahan patung dari gereja, demikian juga kita melihat betapa sukarnya bagi orang Cina, Batak, Ambon dan suku-suku lain yang berlatar belakang tradisi animistik, mistik dan magis, misalnya untuk membebaskan iman kristennya dari ikatan tradisi nenek-moyang yang sangat melekat itu.

Di balik itu kita dapat melihat bahwa masa kini banyak tumbuh kesadaran di kalangan Kristen akan kuasa Roh Kudus, kita melihat bahwa banyak anggota gereja Roma Katolik dan gereja Cina, Batak, Ambon dan suku-suku lain, yang sudah bisa membebaskan diri dari pengaruh tradisi yang sarat penyembahan nenek moyang itu, dan mempraktekkan kekudusan Roh Allah dalam ibadat dan kehidupan tradisional mereka.

Ada baiknya kita merenungkan kembali firman Tuhan yang tertulis:

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk.7:6-8).

Amin.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]