Artikel 10_ 2005                 


DOA TRANSFORMASI
 

Dalam tiga bulan terakhir ini dari undangan-undangan yang diterima yang berasal dari beberapa gereja di beberapa kota, paling banyak diminta tema tentang ‘New Age’. Ketika membahas ‘positive Thinking, Visualisasi, dan Kekuatan Kata-kata’ sebagai modus operandi New Age, banyak penanya yang mempertanyakan kaitan gerakan ‘Doa Transformasi’ dengan prakteknya yang mirip dengan modus itu. Memang, sekitar dan puncaknya pada hari Kenaikan Tuhan Yesus dibeberapa kota di Indonesia diadakan gebyar Malam Visi & Doa Transformasi yang diselenggarakan oleh National Prayer Conference. Sebagai suatu kegiatan doa tentu baik dan perlu didukung namun sayang kegiatan doa semacam itu telah dicampur adukkan dengan kepercayaan sinkretis ‘new age’ yang bertumpu pada usaha manusia.

New Age beranggapan bahwa pada zaman akhir ini dunia memasuki masa Aquarius dimana dialami pencurahan berkat semesta dimana bumi mengalami kelimpahan dan damai sejahtera. Masa Aquarius menggantikan dua milenium pasa ‘Pisces’ yaitu masa kekristenan yang berisi kebodohan dan kemelaratan. ‘New Age’ beranggapan bahwa setiap manusia memiliki potensi/kekuatan/kelimpahan dalam dirinya sebagai bagian potensi/kekuatan/kelimpahan semesta, sehingga kalau seseorang berfikir positive, melakukan visualisasi, dan mengucapkan kata-kata maka potensi/kekuatan/kelimpahan itu akan tersalur keluar dan kehidupannya akan menjadi berkelimpahan dan dialami damai sejahtera.

Pada tahun 1960-an sejalan dengan kebangunan New Age terjadi kebangunan gerakan Kharismatik. Dasawarasa 1970-an ditandai dengan pertumbuhan gerakan itu yang menembus ke lima benua dan memasuki aliran-aliran gereja, ini disusul dasawarsa 1980-an dimana gerakan ini mulai mencari bentuk dan terjadi disorientasi dimana dari dalamnya lahir banyak aliran-aliran yang menekankan ajaran tertentu dan bahkan sering bersifat sensasional.

Salah satu yang tumbuh adalah pujian & penyembahan yang disusul dengan Ajaran Kemakmuran (Jonggi Cho) sebagai buah ajaran Words of Faith (Kenneth Hagin) yang sarat ajaran yang menekankan positive thinking, visualisasi, dan kekuatan kata-kata doa (doa dimensi ke-empat), dan bangunnya ajaran Signs & Wonders (John Wimber). Di tahun 1988 timbul sensasi Akhir Zaman yang ramalannya di ulang-ulang di tahun 1992, 94, 98 dan 2000. Dasawarsa 1990 masih menonjolkan ajaran kemakmuran dan pertumbuhan gereja, dan kemudian diselingi sensasi Toronto Blessing (1994-1996). Dari tokoh-tokoh yang umumnya mendukung gerakan kemakmuran, akhir zaman, tanda & mujizat, dan toronto blessing, kemudian diujung milenium ketiga, lahir gerakan Doa Transformasi yang melanda seluruh dunia.

Tokoh utama dibalik gerakan Doa Transformasi adalah Peter Wagner dan George Otis Jr. Wagner adalah orang kedua setelah Donald McGravan yang mengembangkan School of World Mission di Fuller Theological Seminary dan gerakan pertumbuhan gereja. Pada tahun 1980-an ia memasukkan John Wimber untuk mengajar Signs & Wonder di Fuller, kehadiran Wimber ini kontroversial hingga akhirnya dihentikan. Wagner kemudian merintis gerakan Reformasi Kerasulan Baru (New Apostolic Reformation), dimana ia dan beberapa tokoh lainnya mengklaim diri sebagai rasul-rasul khusus pada akhir zaman ini  untuk penyatuan umat Kristen di luar tembok denominasi.

George Otis Jr. adalah pemimpin kelompok Sentinel yang memproduksi dua film berjudul Transformations (1999) dan Transformations-II: The Glory Spread (2001). Dari kubu kedua tokoh ini lahirlah konsep pengajaran mengenai peperangan spiritual (spiritual warfare), pemetaan spiritual (spiritual mapping), dan roh-roh teritorial (teritorial spirits) yang pada intinya menekankan peran pendoa syafaat (intercessor) yang memilik kuasa dalam mengubah negara bila dilakukan bersama dengan ajaran mengenai peperangan dan pemetaan spiritual. Dalam film itu diceritakan mengenai empat kota (Cali, Almolonga, Kiambu, dan Hemet) dimana di klaim bahwa metoda baru doa itu telah berhasil mengubah kota-kota itu menjadi kota yang diberkati Tuhan.

Seperti biasa dalam kesaksian ‘success story’ yang didramatisasi dan kebohongan yang timbul disekeliling gerakan kemakmuran, word faith, toronto blessing, dan akhir zaman, demikian juga gerakan Doa Transformasi menghadirkan kesaksian yang dibesar-besarkan yang sarat kebohongan klaim-klaim yang diajukan. Disamping kebohongan praktis, ajaran Doa Transformasi Kota juga mengajarkan banyak konsep ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Klaim-klaim mengenai hasil ‘kuasa doa & pendoa syafaat’ apalagi kalau dilakukan ‘doa puasa’ memang menakjubkan bagi orang biasa, tetapi bagi orang yang bisa berfikir seharusnya melihatnya dengan iman kritis, bayangkan kalau kita mendengar klaim-klaim seperti ‘Open Doors berdoa selama 7 tahun sehingga runtuhlah tembok Berlin; Doa diseluruh dunia menghindarkan pertumpahan darah dalam pemilu multi partai di Afsel; Jonggi Cho & jemaatnya berdoa sehingga menghasilkan jemaat lebih dari 600.000 orang; karena doa syafaat umat Kristen setengah bangsa Indonesia akan bertobat; dan kesaksian-kesaksian bombastis lainnya.

Kita tahu bahwa Tembok Berlin rontok karena intensnya usaha pemerintah dan rakyat Jerman selama bertahun-tahun dalam usaha penyatuan negara di tengah proses global dimana komunisme sudah gugur dan rontoknya negara Rusia dan persemakmurannya. Memamng doa perlu kita panjatkan, namun menganggapnya sekedar sebagai hasil doa sekelompok pendoa syafaat jelas manipulasi sejarah. Afrika Selatan mengalami pemilu yang tidak berdarah, tetapi meletakkan hal ini sebagai hasil pendoa syafaat di seluruh dunia meremehkan arti perjuangan Nelson Mandela yang mendekam 25 tahun di penjara dan partainya dan kegigihan uskup Desmond Tutu yang puluhan tahun dengan jalan damai berjuang melawan apartheid.

Apakah Jonggi Cho berkembang jemaatnya hanya karena doa? Dalam buku Dimensi Keempat kita melihat trik-trik duniawi bagaimana Cho mengumpulkan jemaat dan membangun gereja besarnya di Seoul dengan cara kolusi & nepotisme dengan pejabat kota. Kita tahu bahwa bukan hanya jemaat Cho, tetapi banyak jemaat di Korea mengalami pertumbuhan pesat ketika Korea Selatan mengalami boom ekonomi yang biasanya menghasilkan masyarakat sekular yang haus rohani, dan mengapa gereja Cho lebih maju? Kenyataannya sederhana, ia mempraktekkan praktek shamanisme seperti yang biasa digunakan masyarakat Korea tradisional (berfikir positif, visualisasi, dan doa menuntut) yang menjanjikan sukses materi dan bisnis. Apa yang terjadi sekarang? Ketika krisis moneter tahun 1997 melanda Korea Selatan, banyak perusahaan bangkrut dan karyawannya di PHK, banyak diantaranya adalah anggota jemaat Cho yang ketika krisis moneter terjadi meningkatkan intensitas doa mereka. Hasilnya, sekarang banyak yang keluar dari jemaat dan kembali mengikuti agama premordial mereka semula.

Contoh yang sama mengenai klaim-klaim sukses mujizat doa dapat kita lihat pada praktek Jaringan Doa Nasional. Pada Desember 1998 majalah Visi menganjurkan gerakan doa-puasa 40 hari secara nasional, dan seusai masa doa itu di klaim bahwa Indonesia berada dalam keadaan damai dan aman akibat doa-doa mereka. Faktanya, dua hari setelah usainya doa syafaat itu, di Ambon pecah perang saudara berdarah yang baru mereda tiga tahun kemudian dan sampai sekarang masih saja terjadi letupan-letupan susulan. Film Transformations banyak memanipulasi data dan kesimpulan empat kota yang dijadikan contoh. Klaim-klaim sukses gaya ajaran kemakmuran kenyataannya tidak seperti yang digambarkan secara spektakular dalam film tersebut.

Sebelum Pemilu 2004, eksponen NPC, dalam pertemuan di Bali menubuatkan bahwa pada tahun 2005 setengah penduduk Indonesia akan menjadi Kristen dan Indonesia akan diberkati dan mengalami damai sejahtera, dan penginjil Cindy Jacobs melihat visiun bahwa ikan-ikan dari perairan Internasional akan memenuhi perairan Indonesia. Kita belum lupa motivasi Royandi Hutasoit yang sebagai ketua jaringan doa kota menggiring para peserta jaringan doa kota untuk memenuhi ambisi politiknya dan menubuatkan bahwa ia akan menjadi RI-1 dan partainya akan meraup mayoritas pemilih. Nubuat-nubuat yang faktanya jauh dari bombastisnya klaim-kliam nubuatan yang enak didengar tetapi bohong. Tahun 2005 bukan diisi datangnya gelombang pertobatan dan ikan-ikan ke Indonesia melainkan badai Tsunami.

Kita perlu belajar dari Perjanjian Lama dimana para nabi yang mengangkat diri mereka sendiri umumnya menubuatkan selamat & damai sejahtera (yang sama dengan nubuatan New Age), padahal para nabi Tuhan mengingatkan mereka agar mereka bertobat dan meninggalkan jalan mereka yang salah. Nabi Jeremia berkali-kali mengingatkan nabi-nabi demikian (5:12;6:14;8:11;14:13-14;23:16-17). Para tokoh Doa Transformasi banyak yang mengklaim diri mereka sebagai ‘Nabi dan Rasul’ suatu klaim pribadi yang berada di luar gerbong kekristenan yang umum di dunia.

Secara teologis tidak dapat dibenarkan bahwa manusia membagi-bagi geografi dunia menjadi teritori yang dihuni kuasa kegelapan dan yang dihuni roh Tuhan, apalagi kalau hal itu bisa dipetakan oleh manusia secara visual (ingat perumpamaan Gandum & Lalang). Nabi Yunus yang tidak mendoakan kota Niniwe, namun Niniwe diberkati karena pertobatan penduduknya sendiri. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita berperang bukan dengan darah dan daging melainkan dengan kekuatan-kekuatan di udara (Efs.6:10-12), dan Paulus tidak menyuruh kita melakukan pemetaan spiritual melainkan agar bersenjatakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Efs.6:13-20). Ketika Rasul Paulus mengunjungi kuil di Athena, ia tidak berdoa berkeliling kuil (prayer-walking) atau melakukan pemetaan spiritual dan mengumpulkan pendoa syafaat, ia menginjili mereka dimana mereka berada (Kis.17:16-34). Bukan karena doa syafaat dan bukan karena kerasulan baru tetapi Paulus menyuruh mereka bertobat.

Kita harus waspada dalam membuka diri pada gerakan Doa Transformasi karena tokohnya sendiri, George Otis Jr., diragukan kelurusan iman Kristianinya. Dalam buku-bukunya, secara eksplisit ia menolak konsep mengenai dosa waris dan Yesus sebagai juruselamat satu-satunya yang menebus dosa manusia dikayu salib. Ia lebih menekankan kuasa doa daripada ‘Tuhan yang menjawab Doa’, ia lebih menekankan kedahsyatan kerajaan Iblis tetapi kurang mengungkapkan oknum Yesus dalam misinya sebagai penggenap Taurat dan Juruselamat manusia yang telah mengalahkan Iblis dan kerajaannya.

Sama dengan ajaran ‘Signs & Wonder’ (Wimber) yang menyebut bahwa keselamatan dalam penebusan Kristus belum lengkap dan harus diisi dengan bukti tanda dan mujizat, demikian juga Otis menyebut bahwa peran Tuhan Yesus di kayu salib tidak berarti kecuali manusia melalui para rasul barunya mampu memetakan dunia spiritual dan memerangi roh-roh teritorial dengan kuasa doa syafaat dan puasa manusiawi. Konsep mengenai doa berjalan (prayer-walk on sight with insight) dengan menara doanya untuk menguduskan suatu kawasan seperti yang dilakukan di hari Kenaikan Yesus di Jakarta, maupun doa memberkati suku-suku atau kawasan tertentu, jelas menekankan ajaran ‘Words of Faith’ yang menjadikan doa lebih semacam ‘mantra’ dan bukan sebagai alat dialog dengan Tuhan dan Tuhan yang mendengar yang akan memberikan jawaban-Nya.

Tujuan doa yang mengarah kepada Damai Sejahtera yang akan dialami secara transformatif di Indonesia lebih mirip ambisi doa nabi-nabi yang dikritik Yeremia, sebab bila kita tidak mengkritik para konglomerat Kristen yang sarat perilaku KKN yang mendukung gerakan Doa Transformasi dengan uang mereka, tentulah tidak bisa kita harapkan adanya pertobatan para konglomerat Indonesia lainnya yang merupakan prasyarat kesejahteraan Indonesia. Alkitab juga tidak menggambarkan bahwa akhir zaman akan diisi kemakmuran dan kesejahteraan seperti yang dianut penganut ‘Aquarian New Age.’

Kita benar-benar harus waspada dengan gerakan-gerakan doa semacam Doa Transformasi yang seakan-akan doa Kristiani dengan mengatas-namakan Tuhan Yesus Kristus dan kesatuan umat Kristen, padahal yang dipraktekkan adalah sinkretisme doa perdukunan yang bersifat mantra yang justru merupakan kesatuan yang bisa menyesatkan umat Kristen dari kebenaran Alkitab mengenai oknum Tuhan Yesus Kristus dan konsep doa yang benar yang diajarkan Alkitab.

Yang perlu ditransformasi adalah umat Kristen pribadi lepas pribadi (Rm.12:1-2) dan bukannya trasformasi Indonesia dengan kekuatan doa positive thinking/visualisasi/doa-doa menuntut oleh para pendoa yang masih perlu bertobat dari perilaku dosa mereka. Bukalah lebih lanjut situs-situs:

http://www.concernedchristians.50megs.com/index.html

http://www.bibleguidance.co.za/Engarticles/Transformations.htm

http://www.bibleguidance.co.za/Engarticles/TransformationsSA.htm

http://www.bibleguidance.co.za/Engarticles/Otisteachings.htm

http://www.christian-witness.org/archives/van2001/video13.html#

http://members.ozemail.com.au/~rseaborn/Transformations-and-Revivals.html

http://www.geocities.com/smithtj.geo/transformations2.html

http://www.deceptioninthechurch.com/newapostolic.html#gotis

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]