Artikel 3_ 2006
TRAGEDI TEOLOGI SUKSES
Baru-baru ini seorang pangagum Benny Hinn, seorang penginjil lokal yang menekankan ajaran tentang nubuatan, mujizat, dan kekayaan sebagai tanda berkat Allah, mengalami musibah. Sepulang dari rapat membahas KKR besar yang menekankan nubuatan, mujizat dan kekayaan, ia pulang dengan menantunya perempuan melalui jalan TOL. Di situ mobilnya Mercedes seri E yang dikendarainya sendiri menabrak truk yang sedang di dongkrak, mobilnya masuk ke bawah truk dan tertimpa truk itu. Menantunya meninggal dan ia mengalami perdarahan otak. Yang menarik, pada minggu yang sama beberapa majalah melaporkan kasus anaknya yang terlibat penggelapan 100M dana pembangunan rumah tentara. Ini menyebabkan rumah mewah, beberapa sertifikat tanah, rekening bank, mobil mewah, dan lainnya, disita jaminkan oleh penyelidik.
Penginjil itu memang sarat dengan klaim-klaim ‘mendengar suara Allah’ yang sering didengarnya, bahkan pernah dua kali ‘menubuatkan’ bahwa isterinya dipanggil Tuhan yang pada kali kedua sempat bertaruh dengan seorang jemaat sebanyak 100 juta rupiah bahwa nubuatan itu benar (akhirnya taruhan diabaikan dan sampai sekarang masih sehat-sehat saja). Ketika anaknya mendapat proyek pengadaan rumah tentara berkolusi dengan militer, ia membagi-bagi uang termasuk menghadiahi ayahnya si penginjil yang sudah memiliki mobil mewah itu dengan sebuah Mercy seri E baru yang kemudian mengalami kecelakaan itu.
Kasus ini mencuatkan pertanyaan “Benarkah ajaran yang menekankan sukses materi adalah pengajaran Alkitab?” Dan perlukah seseorang mengalami musibah agar menyadari bahwa harta bukan segala-galanya dan bahwa ajaran ‘Teologi Sukses’ yang menganggap ‘harta benda yang berkelimpahan sebagai tanda berkat Tuhan’ sebagai ajaran yang keliru bahkan menyesatkan? Di balik kesaksian-kesaksian yang mengagumkan dari para penginjil sukses kita dapat melihat ‘behind the scene’ adanya arogansi, kebohongan, penipuan, manipulasi keuangan, dan absennya etika kristen dalam praktek para penginjil sukses dengan keluarganya demikian.
Contoh tragis sudah kita ketahui dari penginjil besar yang sukses Jim Bakker. Sebagai pimpinan yayasan ‘Praise The Lord’ rupanya segala kepujian bukan tertuju kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri (‘Praise the I’) dimana ia memiliki beberapa mobil mewah, yacht, rumah mewah dan segala harta milik mewah lainnya. Penggelapan pajak dan penyalah gunaan uang yayasan untuk kepentingan dirinya terbongkar setelah ia terjatuh dalam selingkuh dengan sekertarisnya. Alhasil ia dipenjara dan isterinya minta cerai, dan dipenjara, ia baru rajin membaca Alkitab, dan hasilnya adalah pengakuan pertobatan:
“Banyak orang percaya bahwa bukti berkat Allah atas mereka adalah mobil baru, rumah baru, pekerjaan yang baik, dan sebagainya. ... Jika itu yang dicari, pemilik casino, gembong obat terlarang dan para bintang film diberkati Allah. ... Jika Anda menyimak Firman Tuhan dengan seksama, Anda tidak akan menyamakan materi sebagai tanda berkat Allah.”
Jim Bakker kemudian menulis buku tebal berjudul ‘I Was Wrong.’ Kasus peristiwa yang menimpa kedua penginjil sukses diatas hendaknya menjadi cermin bagi para penginjil sukses lainnya dan juga para pemujanya, agar menyadari bahwa kita perlu belajar membaca firman Tuhan dengan benar, mengertinya dengan terang Roh Kudus, dan juga melakukannya, karena disebutkan bahwa:
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.” (Matius 7:21-23).
Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org