Artikel 5_ 2006


 

FILM THE DA VINCI CODE
 

Buku The Da Vinci Code adalah buku populer dan diseluruh dunia sudah dicetak sebanyak 40 juta ditambah 6 juta paperback dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa saat ini. Cerita buku ini juga di’film’kan dan akan dirilis tanggal 19 Mei 2006 mendatang. Film itu dibintangi Tom Hanks sebagai Robert Langdon, ahli simbologi Harvard, dan Audry Tautou yang memerankan Sophie Neveu ditektif kriptolog dari Perancis.

Mengapa buku, dan tentunya diharapkan demikian juga filmnya, laris manis? Kelihatannya isinya menarik karena menyajikan sebuah novel yang sekaligus bersifat thriller, teka-teki, detektif, konspirasi, dan skandal. Lebih dari itu subjudul buku itu dalam terjemahan Indonesia diberi tulisan: ‘Memukau Nalar Mengguncang Iman!’ dan ‘Misteri Berbahaya di Balik Karya Leonardo Da Vinci,’ komentar-komentar yang tentu cukup provokatif.

Yang menarik dari fenomena cerita adalah bahwa buku itu memiliki kekuatan sihir yang luar biasa sehingga banyak pembaca langsung menganggap, yang di’klaim’ fiktif oleh Dan Brown penulisnya, sebagai kebenaran, bahkan tidak urung banyak tokoh pemikirpun begitu saja mempercayai yang ‘fiktif’ dari cerita itu sebagai ‘fakta’! Sebenarnya novel fiksi The Da Vinci Code bukan merupakan karya asli karena merupakan plagiat buku sebelumnya bernama ‘Holy Blood, Holy Grail’ (Termasuk sequelnya Trhe Messianic Legacy) karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Saat ini sedang berlangsung pengadilan di Inggeris antara kelompok penulis Holy Grail yang menuduh Dan Brown menyontek penelitian dan skenario yang ada dalam buku mereka.

Cerita tentang kurator museum ‘Louvre’ di Paris, Jacques Sauniere, yang terbunuh dan meninggalkan kode-kode rahasia yang ingin diberikan kepada Robert Langdon, ahli simbologi Harvard yang sedang berceramah di kota itu, dan cucunya Sophie Neveu, kriptolog, tentu merangsang pembaca untuk ingin tahu bagaimana pemecahan kode-kode itu. Apalagi kode-kode itu membonceng karya lukis seniman serba bisa Leonardo da Vinci.

Hal lain yang merupakan fiksi adalah diungkapkannya perkumpulan rahasia masa lalu bernama Priore de Sion (Biarawan Sion, Dan Brown menyebut ini fakta), juga menelanjangi praktek organisasi kaum awam Opus Dei dari lingkungan gereja Roma Katolik, bahkan gereja disebutnya sebagai penyebar kebohongan. Kasus organisasi para-militer The Templars yang kontroversial juga diketengahkan dalam cerita ini. Namun, yang paling kontroversial adalah bahwa Yesus dianggap diangkat menjadi Tuhan pada Konsili Nicea (325) dan diceritakannya skandal bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki keturunan di Perancis dan di Inggeris.Dan diplesetkannya legenda The Holy Grail (cawan perjamuan malam yang digunakan Yesus) yang bentuknya dianggap sebagai menunjuk rahim wanita yaitu rahim Maria Magdalena.

Aspek thriller diisi dengan skandal konspirasi oknum-oknum Opus Dei (yang dikatakan novel itu ingin memberangus jejak keturunan Yesus) melawan anggota-anggota Priore de Sion yang justru ingin melindungi rahasia dan keturunan darah Yesus dan Maria Magdalena. Maria Magdalena juga disebut rasul kepada rasul dan dianggap sebagai yang digambarkan berada disebelah kanan Yesus pada lukisan Leonardo bernama Last Supper.

Sebenarnya bagi yang terbiasa membaca bisa melihatnya sebagai fiksi apalagi Dan Brown penulisnya mengaku bahwa novel itu fiksi, dan di Epilog buku disebut semua itu hanya mimpi Langdon yang tidur selama 2 hari di kamar hotel Ritz di Paris. Tetapi yang menarik menjadi polemik adalah ucapan Langdon dalam ‘FAKTA’ di awal buku: ‘Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus dalam novel ini adalah akurat.’ Yang menjadi masalah, batas antara yang fiksi dan fakta adalah abu-abu sehingga banyak pembaca awam yang senang sensasi menganggap yang fiksi sebagai fakta, apalagi yang dikatakan Dan Brown sebagai fakta juga ada yang fiktif (misalnya keberadaan Priore de Sion yang tidak ada bukti sejarahnya).

Museum Louvre adalah fakta, tetapi peran Sauniere, Langdon, Sophie, Aringarosa, Silas, dan Teabing adalah fiksi. Leonardo dan lukisannya Manusia Vitruvian, Mona Lisa, dan Last Supper adalah fakta, tetapi menyebut lukisan-lukisan itu mengandung rahasia perempuan suci adalah fiksi. Lukisan Last Supper jelas merupakan gambaran Leonardo yang merinci peran murid-murid Yesus dengan mimik masing-masing. Di kanan kiri Yesus yang duduk terdekat adalah murid Yohanes dan Yakobus menggambarkan permintaan ibu mereka (Mat.20:20-21). Yohanes (dan Petrus) disuruh Yesus menyiapkan perjamuan, maka kalau tempatnya diganti Maria Magdalena dan Yohanes tidak ada itu fiksi.

Priore de Sion yang disebut perkumpulan rahasia yang faktual oleh Dan Brown sebenarnya fiksi karena organisasi demikian baru didaftarkan pada tahun 1956 oleh pendirinya Pierre de Plantard, yang kemudian berusaha mengarang cerita bahwa organisasi rahasia itu sudah ada jauh sebelumnya dengan membuat daftar anggotanya yang memasukkan nama-nama beken seperti Leonardo da Vinci, Isaac Newton, dan Victor Hugo. Piere Plantard sendiri kemudian membuat lagi daftar anggota Priore de Sion yang berbeda dengan yang pertama. Para peneliti bahkan pengadilan menyebut bahwa asal muasal Priore de Sion adalah kebohongan dan setelah terdesak akhirnya Pierre Plantard mengakui bahwa semua itu adalah kebohongan, apalagi cerita fiksinya yang menyebut Priore de Sion mengemban misi mengamankan keturunan darah Yesus dan Maria Magdalena. Ternyata yang disebut fakta oleh Dan Brown ada juga yang merupakan fiksi.

Konsili Nicea memang fakta, tetapi menyebut konsili itu memutuskan ke’Tuhan’an Yesus dan Kanonisasi Alkitab jelas adalah fiksi. Yesus sebagai Tuhan sudah disebut diseluruh Perjanjian Baru yang ditulis pada abad-1 (a.l. Yohanes 1:1;13:13; 20:28). Konsili Nicea khusus diadakan untuk membantah ajaran Arius yang menganggap ‘Yesus hanya manusia ciptaan yang  lebih rendah dari Allah,’ suatu ajaran yang melawan kepercayaan yang sudah dipercayai oleh umat Kristen selama 3 abad sebelumnya.

The Holy Grail adalah legenda kalangan ksatria meja bundar Raja Arthur. Raja Arthur adalah fakta, namun legenda grail adalah fiksi, dan legenda Grail juga hanya menyebutnya sebagai cawan berkhasiat yang fiksi apalagi kalau sekarang di fiksikan lebih lanjut sebagai lambang rahim Maria Magdalena yang menurunkan anak bagi Yesus. Demikian juga The Templars memang fakta yang dibentuk seusai perang Salib-I (1095-99) yang ditujukan untuk melindungi para peziarah yang ke Yerusalem, dan karena praktek perbankannya yang maju, membuat iri Raja Philip IV dan Paus Clement V (1307), sehingga dituduh bidat dan dibubarkan. Tetapi, menyebut The Templars sebagai menyimpan petimati Maria Magdalena yang ditemukan di  bawah Bait Allah Salomo jelas fiksi karena bagaimana bisa menjadi rahasia dan bagaimana tempat yang sehari-harian digunakan untuk ibadat Yahudi bisa digunakan mengubur orang Kristen?

Opus Dei memang fakta sejak tahun 1928 bahkan diangkat setara keuskupan (1982), tetapi menuduhnya sebagai mempraktekkan praktek ‘menyakiti tubuh’, ‘merendahkan wanita’, dan ‘terlibat skandal keuangan Vatikan’, apalagi dalam novel Dan Brown disebut sebagai otak pembunuhan-pembunuhan, kelihatannya bermisi tendensius untuk menjelek-jelekkan gereja Katolik Roma. Entah pengalaman tarumatis apa dialami Dan Brown sehingga sakit hatinya terhadap gereja itu dituangkan dengan menulis novel fiksi demikian. Sama halnya dengan organisasi Katolik lainnya yang memiliki anggota yang menjalankan disiplin dengan menyakiti diri, Opus Dei juga memiliki anggota semacam itu, tetapi dengan menganggap Opus Dei mempraktekkan semua itu merupakan generalisasi yang berlebihan dan bertendensi fitnah.

Dari belasan ceramah yang dihadiri ribuan orang mengenai topik ini, terasa sekali timbulnya pertanyaan-pertanyaan mengenai novel fiksi itu adalah karena pada umumnya banyak umat Kristen kurang belajar. Banyak yang kurang mengerti isi Alkitab dan juga kurang belajar sejarah dan pengajaran Kristen (apalagi yang sudah terbiasa menjadi kristen konsumtip yang mendambakan mujizat dan nubuatan) sehingga ketika kepada mereka disodorkan berita baru mereka bingung.

Umat Kristen tidak perlu bereaksi berlebihan menghadapi novel fiksi impian tokoh fiktif Robert Langdon yang ditulis Dan Brown itu, dan sekarang menjelang kehadiran filmnya digedung bioskop. Melarang justru makin melariskan buku dan film itu demikian juga menganjurkan bukan sesuatu yang bijak. Cukuplah umat Kristen meluruskan yang fiksi dengan mengemukan faktanya kepada mereka yang dibingungkan.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org


(telah terbit cetakan ke-2 buku : Kode Da Vinci, Fakta Disela-Sela Fiksi, Mitra Pustaka)

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]