Artikel 6_ 2006


 

CROSSAN DAN SALIB
 

Menyambung artikel ‘Teka-Teki Seputar Salib’ ada baiknya kita mengetahui pandangan Crossan tentang Salib. John Dominic Crossan adalah tokoh kedua dibalik pendirian ‘The Jesus Seminar’ sesudah Robert W Funk, dan dari 76 fellows The Jesus Seminar yang dicantumkan dalam buku ‘The Five Gospels’ (Scribner, 1996, hlm. 533-537), kelihatannya Crossan termasuk yang paling kontroversial.

John Dominic Crossan, sekalipun adalah orang kedua The Jesus Seminar, dalam kenyataannya cukup aktip menulis versinya sendiri yang lebih kontroversial dari rekan-rekan lainnya dalam Seminar. Sebenarnya studinya mengenai Yesus Sejarah sudah dimulai sejak tahun 1973 kemudian analisisnya menjangkau sumber-sumber non-kanonik. Buku Crossan yang utama 'The Historical Jesus: The Life of a Mediterannean Jewish Peasant' (1991) dan versi ringkasnya 'Jesus: A Revolutionary Biography' (1994), dan buku 'Who Killed Jesus? Exposing the Roots of Anti-Semitism in the Gospel Story of the Death of Jesus.' (1995) kelihatannya merupakan karyanya yang banyak mendapat sorotan.

Dalam tulisan Crossan, yang terkenal 'The Historical Jesus' seperti halnya Jesus Seminar, ia menganggap bahwa ucapan-ucapan Yesus yang ditemukan di luar kanon Alkitab (a.l. Injil Petrus, Surat Barnabas, dan karya gnostik Injil Thomas) sama aslinya dan bahkan dinilai lebih daripada Injil Kanonik yang dianggap sudah diubah oleh para murid Yesus. Dalam pembukaan buku itu, Crossan menyajikan 'the Gospel According to Jesus' berupa kumpulkan 'ucapan-ucapan Yesus' yang menurutnya benar kata-kata Yesus (hlm.viii-xvi). Kumpulan ini disebut olehnya sebagai 'sesuatu untuk dimainkan dan program untuk dijalankan.' Dan seperti diskusinya yang singkat yang disebutnya bersifat sosial-ilmiah dan strategi stratifikasi teks, pembukaan ini menyimpulkan pendekatan menyeluruh Crossan.

Ia menyebut bahwa terbukti dalam dirinya sendiri bahwa Kritik atas Injil menyangkal kemungkinan menelusuri urutan perilaku Yesus. Tetapi, ia yakin bahwa kita dapat menyaring kekhasan perbuatan dan ucapan Yesus. Dengan menempatkan perbuatan dan ucapan dalam konteks sejarah sosial yang direkonstruksikan dengan bantuan sumber-sumber di luar kekristenan dan teori-teori lintas-budaya yang secukupnya, kita dapat memulai menghargai dan memperkirakan sifat-sifat aktif misi Yesus secara ringkas.

Dikemukakan bahwa Yesus adalah pengajar pengelana yang mengumpulkan murid-murid. Crossan dengan studi sejarah sosialnya mencoba memberikan gambaran hipotetis mengenai bagaimana kehidupan budaya masyarakat sekitar laut tengah dan khususnya Palestina semasa Yesus hidup. Disini Yesus dianggap sebagai seorang pengelana yang mencoba melakukan pembaharuan sosial dan mengkritik kemapanan dan kekuasaan Romawi.

Pada umumnya penyelidikan selama ini bersumber terutama pada ketiga Injil Markus, Matius dan Lukas, dan sedikit dari Injil Yohanes. Tetapi Crossan menggunakan sumber lain terutama 'Injil Thomas' yang ditemukan dalam kumpulan kitab-kitab Gnostik yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, di-tahun 1945 dan juga kitab-kitab apokrif lainnya seperti Surat Barnabas dan Injil Petrus.

Dalam diskusi mengenai kehidupan Yesus memang Crossan mengumpulkan pendapat-pendapat yang disetujuinya tanpa banyak mempersoalkan pendapat-pendapat yang menolaknya, sehingga kesimpulan yang disampaikan bersifat karikatur yang disusunnya sendiri sesuai pendapat rekan-rekannya yang senada. Ini bisa dilihat dari pendapatnya mengenai kematian Yesus secara teori sumber. Ia memberikan banyak usaha untuk membuktikan ke mandirian cerita kesengsaraan Yesus dalam edisi awal kitab apokrifa Injil Petrus.

Crossan memberikan bobot lebih justru pada kitab-kitab Aprokrifa dan menjadikannya ukuran yang lebih benar daripada kitab-kitab Injil Kanonik yang dihadapinya sebagai seorang ahli bedah, ia lebih percaya kitab-kitab aprokrifa dan mengabaikan tulisan Paulus misalnya, itulah sebabnya banyak kesimpulan yang berbeda dengan Injil Kanonik yang dihasilkan pemikirannya. Contohnya adalah kesimpulan dalam bukunya mengenai adanya anjing-anjing yang berkeliaran di bawah salib yang mengarah pada kesan bahwa Yesus di salib lalu dibiarkan terlantar sehingga dimakan anjing. Dengan ini ia ingin menunjukkan bahwa kematian Yesus tidak bermakna sama sekali.

Memang tulisan Hengel mengenai binatang buas dan burung pemakan bangkai di bawah saliblah yang menjadi inspirasi bagi Crossan. Dalam bukunya Crucifiction in the Ancient World and the Folly of the Message of the Cross (hlm.86-88), Hengel membahas hal itu dimana disebutkan a.l.:

“Crucifixion was agrravated further by the fact that quite often its victim were never burried. It was a stereotyped picture that the crucified victim served as food for wild beast and birds of prey. In this way his humiliation was made complete.”

Crossan dalam bukunya Jesus: A Revolutionary Biografy dan Who Killed Jesus sekalipun mengutip ucapan Hengel tetapi kemudian menjadikannya pandangannya sendiri, bahkan dalam bukunya Jesus: A Revolutionary Biografy (hlm.123-128) ia menyebutkan binatang buas itu termasuk anjing-anjing yang ditulisnya dibawah judul  the dogs beneath the cross.

Sekalipun Crossan tidak secara eksplisit menyebut bahwa Yesus mayatnya dimakan anjing, dari tulisannya jelas terbaca indikasi kearah itu. Ia berpendapat bahwa Nobody knew what had happened to Jesus’ body (The Historical Jesus, hlm. 394) dan ia menyebut adanya tiga alternatif cara hukuman romawi yang utama yaitu disalib, dibakar, atau kematian karena binatang buas (Who Is Jesus, 125). Namun, dengan melihat bahwa ia tidak mempercayai data Injil yang menyebutkan Yesus dikubur kemudian bangkit yang dianggapnya bukan peristiwa sejarah melainkan rekonstruksi penulis Injil, maka sebenarnya secara implisit ia memilih alternatif yang tidak lain adalah kematian dimakan binatang buas termasuk dimakan anjing.

Berbeda dengan para fans yang mengkultuskan Crossan yang cenderung bersikap defensif dan melempar tanggung jawab kepada Hengel, Crossan sendiri menghadapi kritik-kritik atas pendapatnya mengenai anjing-anjing di bawah salib Yesus menerima dengan jujur dan tidak menolak. Ia mengatakan dengan kata-katanya sendiri dalam bukunya yang lain bahwa:

“we often don’t realize about crucifixion is the carrion crow who croaks above the cross and the scavenger dogs who growl beneath the dead or dying bodies. Greco-Roman authors who wrote on the subject mentioned the crucified ones as “evil food for birds of prey and grim pickings for dogs.” (Who Is Jesus, 1996, hlm.125)

Bahkan selanjutnya ia menganggapnya sebagai hal yang normal bahwa mayat yang disalib dibiarkan dimakan anjing-anjing agar membuat jera mereka yang lewat.

“Normally soldiers guarded the body until death, and thereafter it was left for carrion crow, scavenger dog, or other wild beast to finish the brutal job. And as I said earlier, the horror of nonburial was part of the crucifixion routine, intended by the authorities to serve as a dreadful warning to every passerby.” (Who Is Jesus, hlm.140).

Dalam bukunya yang lain ia menyebutkan bahwa kesengsaraan Yesus tidak benar-benar terjadi tetapi merupakan 'nubuatan yang disejarahkan' (hanya simbolis) melalui kegiatan penyusunan kitab Injil yang  teliti, daripada 'sejarah yang diingat'. Bagi Crossan, sejarah sebenarnya adalah hasil rekonstruksi (Jesus: A Revolutionary Biography, hlm.199) dan dalam sejarah selalu ada dialektika antara Yesus yang dibaca secara sejarah dan Kristus yang dibaca secara teologi (The Historical Jesus, hlm.423). Jadi, menurut Crossan setiap generasi perlu merekonstruksikan sendiri Kristus yang dibaca secara teologi untuk memperoleh gambaran yang benar tentang Yesus secara sejarah.

Memang sayang ada saja yang masih mempercayai teori Crossan yang jelas bisa dibaca apa motivasinya itu, dan menolak kesaksian para penulis Injil yang telah mengalami pembaharuan hidup dan bersaksi dengan sukacita mengenai kebangkitan Kristus, dan yang menulis kesaksian itu dalam keterbatasan mereka yang sederhana dan apa adanya.  

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]