Artikel 19_ 2006
SMACK DOWN!
Minggu lalu harian Tribun Jabar memuat berita utama ‘Bocah Tewas Usai “Smackdown”.’ Peristiwa yang mengejutkan ini disusul dengan beberapa ulasan di TV mengenai korban-korban lainnya ditempat lain seperti tulang patah, memar-memar, sampai gegar otak. Mengejutkan sekali karena melalui tayangan itu kita melihat bahwa ternyata penggemar tayangan Smackdown di TV itu sudah luas ditonton anak-anak, bahkan play station ‘Smackdown’ juga sudah leluasa dijual dipedagang kakalima seharga Cuma 5 ribuan, bahkan kartu-kartu bergambar para pahlawan Smackdown dan poster-poster besar bisa tertempel dikamar anak-anak.
Peristiwa ini menyentak para orang tua, karena kalau selama ini mereka tenang-tenang saja melihat adegan-adegan Smackdown di TV dengan kehadiran anak-anak mereka, mereka sekarang menjadi was-was jangan-jangan anaknya akan menjadi korban berikutnya bila dibanting ‘ala smackdown’ oleh temannya disekolah. Reaksi atas kematian itu bermunculan dimana-mana, bahkan KPID Jabar Menegur dengan Keras Pengelola TV yang menayangkan adegan itu.
Adegan-adegan kekerasan di layar TV bukan monopoli Smackdown, ada Ultimate Fichting Championship, bahkan film animasi anak-anak Celebrity Death Match lebih sadis lagi, leher bisa diputus dengan baling-baling helikopter dan jantung bisa dikeluarkan dari dada lawan! Film-film lepas juga tidak kalah sadisnya, sebut saja Terminator dan Eliminator. Film keras serial Die Hard atau Madmax juga punya andil yang sama dalam menanamkan kesadisan dalam diri pemirsa terutama anak-anak. Film-film kartun memiliki angka kekerasan jauh lebih tinggi lagi, seperti misalnya Tom & Jerry.
Tidak dapat disangkal bahwa sedikit banyak adegan-adegan sadisme dalam TV dan film sudah ikut meningkatkan kekerasan dalam masyarakat Indonesia dan berdampak langsung bagi perilaku agresif anak-anak, dimana sekarang sudah sering kita saksikan demo-demo anarkis, bentrok SARA, tawuran antar desa/kampung, dan tawuran antar mahasiswa/pelajar.
Soal pengaruh mass media terhadap perilaku orang khususnya anak-anak sudah banyak diteliti. Ada sebuah buku lama yang cukup menarik untuk disimak. Buku itu berjudul ‘Sex Violence and the Media’ karya H.J. Eysenck & D.K. Nias (Harper & Row, 1978). Buku itu ditulis berkenaan dengan adanya kemungkinan bahwa membaca dan melihat tayangan-tayangan seks dan kekerasan dapat berpengaruh kepada perilaku seseorang, dan buku itu ditulis penulisnya yang adalah orang-orang yang sudah lama mengamati masalah itu dan ditunjuk oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengadakan studi menyeluruh mengenai masalah ini dan melibatkan tim ahli jiwa, sosial, pendidikan, agama, dll., sebagai akibat kenyataan bahwa kekerasan dan kejahatan di Amerika Serikat meningkat terus dari tahun ke tahun.
Media, menurut buku itu, seperti TV, film, pertunjukkan, majalah porno, dan juga iklan, yang makin hari semakin bebas menonjolkan seks dan kekerasan, sudah banyak ditengarai sangat berpengaruh terhadap peningkatan penyimpangan sex dan kekerasan di masyarakat, seperti meningkatnya kejahatan, vandalisme (sifat suka merusak), seks bebas pranikah, penyimpangan perilaku, pemerkosaan, dan kejahatan seks lainnya. Bila itu benar, dan buku itu telah menunjukkannya, maka seharusnya masyarakat meninjau ulang tayangan-tayangan media-massa agar dampak perusakannya tidak makin berlebihan yang akan menjadikan moralitas masyarakat makin tercabik-cabik di kemudian hari.
Di pihak sebaliknya, ada juga yang beranggapan bahwa bila masyarakat secara moral sudah rusak, maka penayangan seks dan kejahatan mungkin akan menghentikan pengrusakan lebih lanjut. Yang jelas, kedua kutub berseberangan itu sama-sama sepakat, bahwa:
“mass media sebenarnya berpengaruh terhadap perilaku, penampilan dan situasi mental para pemirsa dan pembacanya.” (h.9)
Hasil menarik dari studi menyeluruh mengenai seks dan kekerasan itu menunjukkan bahwa pengaruh yang terjadi itu bertingkat, yaitu dimulai dari pengaruh berbentuk imitasi, identifikasi, runtuhnya rem pengaman, stimulasi, dan katharsis. Pengaruh yang diingat seseorang melalui bacaan kecil, sekitar 15% saja, namun pengaruh itu meningkat kalau disertai suara, bahkan adegan visual yang hidup bisa mempengaruhi seseorang sampai lebih dari 50%, apalagi kalau penonton bisa ikut memainkan adegan itu seperti yang kita jumpai dalam game-game play stasion. Karena itu, tayangan media visaul semacam TV dan PS sangat besar pengaruhnya dalam mengubah perilaku penontonnya.
IMITASI
Tingkat pertama pengaruh yang kelihatan jelas adalah bahwa pemirsa bila melihat secara berulang-ulang perilaku tokoh-tokoh idolanya cenderung meniru perilaku itu. Ini bisa dimaklumi karena salah satu perkembangan perilaku seseorang dihasilkan dari contoh mereka yang lebih dewasa, orang tua, keluarga, guru, orang lain, dan masyarakat di sekelilingnya, dan dalam era komunikasi ini dapat ditambahkan mass-media sebagai faktor yang sangat berpengaruh lebih dari yang lain karena dilihat terus menerus dan berulang-ulang.
Kita dapat melihat secara nyata pengaruh demikian pada tahun 1970-an ketika para pemuda/remaja meniru rambut panjang dan pakaian The Beatles. Pada tahun 1990-an banyak wanita meniru rambut Lady Di (Diana, isteri Charles). Di kalangan anak-anak pengaruhnya lebih nyata. Ketika ramainya tayangan film Superman, banyak anak-anak berpakaian seperti Superman dan meniru gaya terbangnya, demikian juga ketiga Batman populer. Sekarang anak-anak biasa meniru The Rock!
Menurut banyak studi, 60-70% orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka meniru kebiasan dan perilaku idola mereka di TV seperti ekspresi, ucapan, maupun pakaian dan gaya luar idola tersebut. Yang menyedihkan kebanyakan yang dicontoh itu bukan yang positif tetapi yang sensasional. Seorang anak berumur 12 tahun ketika habis menonton film The Good, The Bad, and the Ugly, meniru adegan gantung diri, namun terpeleset dan ditemukan orang dalam keadaan pingsan bergantung di atas tali yang dikaitkan pada dahan pohon.
Contoh lain yang diceritakan buku itu adalah seorang remaja yang tiba-tiba mengambil pisau dan masuk kerumah tetangganya dan menyerang perempuan yang sedang tidur di salah satu kamar, ternyata polisi menemukan fakta yang berkaitan bahwa si remaja baru nonton adegan yang sama dari cerita TV Starsky & Hutch. Banyak kenakalan anak remaja mengungkapkan bahwa mereka mengganggu dan memperkosa gadis-gadis karena sering menonton film ‘Kungfu’ jagoan mereka.
Yang menarik adalah di Amerika Serikat ada siaran TV berjudul Break In yang mengungkapkan cara-cara pencuri dan perampok menggarong rumah-rumah. Maksudnya, agar pemirsa berhati-hati dan berjaga-jaga menghadapi kemungkinan semacam itu. Faktanya banyak pencurian dan penggarongan terjadi sesudahnya yang meniru tehnik yang dipertunjukkan siaran TV itu.
Yang tidak dikira orang adalah pengaruh film-film kartun. Banyak orang tua mengeluh anak-anaknya sering saling pukul setelah menonton film kartun Tom and Jerry yang sering ditayangkan TV. Di Indonesia anak-anak juga menyukai gaya Power Rangers dan Ninja’s Turtle beraksi daripada meniru tokoh-tokoh Keluarga Cemara.
Jelas sekali TV sangat kuat pengaruhnya karena bukan sekedar disajikan dalam bentuk tulisan yang dibaca atau bunyi kata-kata saja, tetapi disajikan dalam bentuk gambar visual yang hidup dan berwarna-warni.
IDENTIFIKASI
Yang dekat dengan sikap meniru/imitasi adalah sikap Identifikasi. Seseorang cenderung meng’identifikasi’kan (menyamakan) dirinya dengan mereka yang dihargai, dihormati dan diidolakan, dan sebagai konsekwensinya seseorang akan dipengaruhi perilaku tokoh idola itu. Seseorang ingin berperilaku seperti tokoh yang dilihatnya dan ingin berbuat dan apa yang difikirkan dan diperbuat oleh idolanya. Bila imitasi hanya meniru hal-hal yang bersifat lahir, identifikasi meniru perilaku kejiwaan tokoh panutannya. Identifikasi adalah tingkat yang lebih dalam dari imitasi. Kalau imitasi hanya meniru perilaku luar seperti dandanan pakaian dan rambut, identifikasi lebih dalam menyangkut mengidap mentalitas dibalik perilaku lahir itu, jadi gaya rambut dan pakaian yang ditiru itu bukan sekedar ikut-ikutan tetapi memang sudah menjadi bagian dari perilakunya sendiri.
British Broadcasting Commission (BBC) pernah memberi pedoman kepada para produser agar mereka menghilangkan kebiasaan merokok para tokoh yang baik. Ini diikuti di Amerika Serikat, namun tidak mudah karena pabrik-pabrik rokok menjadi ogah memasang iklan atau mensponsori suatu cerita kalau perilaku rokok dihilangkan dari tokoh yang baik. Di Indonesia kasus yang sama bisa terlihat dengan makin tingginya angka kekerasan suami terhadap isterinya. Banyak tayangan sinetron memang dengan bebas membiarkan adegan kekerasan suami terhadap isterinya seperti menampar, menjambak rambut maupun memukul isterinya.
Perampokan, pemerkosaan, dan kejahatan seksual lainnya juga makin banyak terjadi justru karena kisah-kisah kriminalitas yang sebenarnya ingin mengingatkan pemirsa akan terjadinya kejahatan yang perlu dihindari, namun banyak pemirsa bukan menangkap pesan itu tetapi meniru dan mengidentifikasikan dirinya dengan perilaku kejahatan kriminal tersebut. Kita bisa melihat kawin-cerai dan perselingkuhan yang banyak menjadi tema telenovela dan sinetron di tanah air sekarang sudah menjadi bagian hidup para selebriti dan ujung-ujungnya mempengaruhi pemirsa.
Yang lebih sulit lagi dalam mengatasi hal ini adalah karena adanya fakta melalui penelitian bahwa peniruan maupun identifikasi banyak terjadi pada mereka yang memang memiliki sifat mentalitas yang sama dengan tokoh yang diidolakan.
RUNTUHNYA REM PENGAMAN
Tingkat lebih lanjut dari Identifikasi adalah runtuhnya rem pengaman / inhibisi. Bila imitasi dan identifikasi biasanya berkaitan dengan sifat-sifat perilaku yang baru, inhibisi berkaitan dengan sifat-sifat yang sudah ada dalam diri seseorang. Penelitian tingkah laku menemukan fakta bahwa sifat-sifat kurang baik tertentu sudah ada dalam diri manusia, namun sifat itu tidak mengekspresikan dirinya keluar karena ditekan (inhibited) atau di rem.
Banyak orang mengalami proses pengadaan rem-rem pengaman dalam dirinya, seperti disebabkan oleh pendidikan keluarga, agama, guru, maupun adat-istiadat. Rem-rem ini biasanya cukup kuat untuk melindungi seseorang dari pengaruh sifat-sifat luar yang bertentangan dengan yang dilindungi oleh rem itu. Namun, bila seseorang sering melihat adegan-adegan yang kurang baik dan meniru dan mengidentifikasikannya, pertahanan rem-rem pengamannya berangsur-angsur runtuh dan sifat-sifat demikian akan tersembul keluar sebagai perilaku yang nyata. Kasus-kasus kejahatan remaja yang sering tiba-tiba menjadi agresif yang berbeda dengan sifat-sifatnya selama ini menunjukkan bahwa telah terjadi keruntuhan pada rem-rem pengamannya.
Di Indonesia bahkan di kalangan TKI yang bekerja di mancanegara sudah makin sering terjadi suami memukuli isteri atau majikan menganiaya TKI, ini cenderung menghasilkan reaksi isteri yang membunuh suami atau pembantu yang membunuh majikannya. Secara tradisional dan norma keluarga dan agama, kekerasan dalam diri seseorang tertahan oleh rem pengaman dalam dirinya sehingga seseorang tidak akan berperilaku demikian. Namun, kekerasan suami atau majikan sering dirangsang oleh adegan-adegan TV menyebabkan suami atau majikan mendapat contoh untuk membenarkan dirinya dalam melakukan kekerasan terhadap isteri atau TKI.
Sebaliknya, sampai batas tertentu baik isteri maupun TKI yang mengalami kekerasan masih bisa bertahan karena rem-rem dalam dirinya, namun rem itu bisa runtuh kalau ada contoh yang dilihatnya dalam siaran TV, sehingga isteri atau TKI bahkan bisa membunuh suami atau majikannya, sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dalam beberapa kesempatan ceramah, beberapa orang tua melaporkan bahwa anaknya yang biasanya manis dan baik-baik saja terhadap orang tuanya, tiba-tiba menjadi pemarah menghadapi orang tuanya. Ternyata anak tersebut terpengaruh PS ‘Dragon Ball.’
STIMULASI
Stimulasi (rangsangan) atau picuan (triggering) merupakan reaksi yang mirip dengan runtuhnya rem pengaman, hanya kalau disinhibisi (runtuhnya rem pengaman) menunjuk pada serangan yang terus-menerus dari pengaruh luar yang melemahkan pertahanan, dalam stimulasi, sifat-sifat azali manusia dirangsang atau dipicu untuk bertindak lebih reaktif dan agresif.
Rangsangan lagu-lagu gaya rock’n’roll ditengarai sebagai memicu atau menyulut kerusuhan pada tahun 1950-an di Amerika Serikat. Terutama pengaruh pornografi telah memicu/menyulut bangkitnya nafsu fantasi seksual orang-orang sehingga menimbulkan banyak hubungan seksual remaja pranikah dan perselingkuhan, bahkan pemerkosaan.
Adegan-adegan kekerasan yang berlebihan sering merangsang pemirsa yang memiliki sifat sama untuk berlaku keras dalam aksi, demikian juga melihat adegan-adegan seksual atau pemerkosaan di layar kaca akan merangsang pemirsa melakukan perbuatan yang sama, apalagi kalau selama ini dorongan seksualnya tidak tersalurkan dan ditekan.
Banyaknya adegan-adegan kekerasan dalam tayangan TV maupun pornografi di Indonesia jelas telah merangsang perilaku kekerasan dan pornografi yang makin banyak terjadi di tanah air Indonesia. Dahulu tidak pernah terjadi anak-anak bunuh diri karena tidak dapat membayar uang sekolah, dan setelah terjadi anak demikian gantung diri, di surat kabar tercatat bahwa beberapa peristiwa bunuh diri di kalangan anak kemudian terjadi di tempat lain dengan alasan berbeda namun yang penyebabnya sepele.
KATARSIS
Puncak dari tingkat-tingkat pengaruh itu adalah yang disebut sebagai katarsis (luapan emosi yang tidak tertahan lagi). Bila rangsangan kekerasan dan pornografi sudah demikian akut dan sulit dibendung lagi, biasanya terjadi katharsis atau luapan emosi kekerasan atau pornografi. Dalam taraf tertentu luapan emosi kekerasan dan seksual itu tersalur dalam tokoh-tokoh berperilaku demikian yang dilihat seseorang dalam tayangan TV atau film, tetapi biasanya itu tidak cukup dan luapan emosi itu terjadi dengan sendirinya pada tingkah laku keras dan porno si pemirsa sendiri.
Memang ada teori bahwa tayangan kekerasan atau pornografi yang dibebaskan justru akan mengurangi ketegangan seseorang karena merupakan sebagian peluapan emosi seseorang. Sebagai contoh sering dikemukakan bahwa dibebaskannya pornografi di Swedia justru menurunkan pelaporan kejahatan seksual secara nasional. Kenyataannya, sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa seringnya tayangan kekerasan dan pornografi yang bebas telah menyebabkan rem-rem pengaman dan nilai-nilai masyarakat menjadi runtuh sehingga apa yang dahulu dianggap keterlaluan sekarang dianggap biasa, itulah sebabnya kalau dahulu banyak kasus pornografi dan kejahatan seksual yang dilaporkan, sekarang tidak dilaporkan karena dianggap sudah biasa terjadi.
Makin tinggi dan seringnya tayangan TV mempengaruhi seseorang, makin meningkat kekuatan pengaruh itu sehingga menyebabkan banyak orang menirunya, mengidentifikasikan dirinya dengan para idola, dan runtuhlah rem-rem pengaman dalam dirinya. Rangsangan yang terus-menerus cenderung mendorong terjadinya katarsis luapan emosi seseorang tanpa bisa ditahan lagi.
LALU BAGAIMANA
Kematian dan gegar-otak yang dialami korban pemirsa Smackdown perlu menyadarkan kita bahwa kita harus berbuat sesuatu dalam mengurangi pengaruh buruk tayangan demikian. Memberi nasehat melalui TV maupun memundurkan jam tayang lebih larut, tidak akan mengurangi pengaruh adegan-adegan yang dipertontonkan. Bersandarkan hal ini seluruh lapisan masyarakat ditantang untuk berbuat sesuatu dalam menyelamatkan mentalitas generasi bangsa dimasa-masa mendatang.
Bagi produsen TV, memang sulit untuk menghentikan serial Smackdown atau tema-tema kekerasan lainnya, karena justru film-film dengan tema demikian cenderung laris manis. Namun dibalik alasan finansial itu, sebenarnya masih banyak adegan dan pertunjukan yang baik yang bisa dijadikan pengganti. Disini para pengusaha di tuntut untuk mendahulukan pendidikan daripada keuntungan komersial, sebab kerusakan yang bisa diakibatkan oleh bisnis mereka bisa berakibat fatal bagi kesehatan jiwa masyarakat luas.
Bagi Pemerintah, kelihatannya Badan Sensor kurang peka terhadap etika penayangan sehingga banyak hal-hal yang sebenarnya tidak patut ditonton bisa lolos begitu saja dan sayang bahwa semangat massa cenderung lebih menyoroti pornografi dan pornoaksi daripada kekerasan, padahal sekalipun benar bahwa pornografi dan pornoaksi banyak merusak mentalitas masyarakat, pengaruh kekerasan dalam TV lebih berdampak buruk.
Bagi para pendidik, tokoh-tokoh agama, dan lsm-lsm, peristiwa yang mencuat diakibatkan film Smackdown perlu menyadarkan kita untuk lebih giat dalam mempromosikan kebaikan dan kebenaran dan kedamaian, sebab kita tentu berharap bahwa generasi yang akan datang diharapkan bisa membawakan kedamaian dibumi Nusantara ini daripada sekarang.
Bagi para orang tua, sudah tiba saatnya mereka memperhatikan apa yang mereka lihat di layar TV, apa yang mereka mainkan dengan Play Station mereka. Ada baiknya orang tua lebih banyak memberikan waktunya untuk tidak menjadikan TV dan PS sebagai ‘baby sitter’ tetapi lebih banyak memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengikuti ‘outdoor recreation’ yang lebih berguna. Ajaklah anak-anak bermain keluar rumah atau ke arena sport pada jam-jam tayang kesukaan mereka yang bernuansa sadistik.
Bila semua pihak menyadari bahwa ‘tragedi Smackdown’ adalah masalah bersama, marilah kita mewujudkan tekad kita untuk membawa anak didik kita ke masa depan yang lebih damai dan terhormat. Semoga!
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org