Artikel 9_ 2008


 

PEMUJA NAMA YAHWEH di INDONESIA

Pengaruh sekte ‘Yahwis’ Yahudi yang dialami beberapa orang yang berziarah ke Israel dan Pemuja Nama Yahweh dari Amerika Serikat, mempengaruhi beberapa kalangan kristen di Indonesia sejak dua dasawarsa yang lalu. Sekalipun mirip dengan gerakan itu di mancanegara, di Indonesia ada ciri khas yang ditunjukkan, yaitu semangat anti Arab/Islam dengan penolakan mereka akan nama’Allah’ yang dianggap nama berhala, mengingat bahwa tokoh-tokoh awal Pemuja Nama Yahweh di Indonesia umumnya berasal dari penganut agama Islam. Ini berimbas pada semangat anti-Kristen karena umat Kristen juga menyembah ‘Allah.’

Di tahun 1980-an, Hamran Ambrie, tokoh muslim yang masuk Kristen merintis  usaha penginjilan untuk menobatkan umat Islam melalui wadah ‘The Good Way’, kemudian bersama dengan dr. Suradi yang ditobatkannya pada tahun 1982, mendirikan Christian Centre Nehemia (1987) dan menerbitkan majalah dengan judul Gema Nehemia dan brosur dan traktat. Semula mereka masih menggunakan nama Tuhan dan Allah, namun setelah kematian Hamran Ambrie (1987) dan Suradi berziarah ke Israel, Suradi terpengaruh yudaisme dan menekankan penggunaan bahasa Ibrani khususnya nama ‘Yahwe, Eloim & Yesua.’ Misi Nehemia ditujukan untuk menginjili umat Islam dan membina mereka menjadi penginjil untuk menjangkau umat Islam. Dr. Suradi (yang kemudian berganti nama menjadi Suradi ben Abraham lalu diganti lagi dengan Eliezer ben Abraham) kemudian dengan nama ‘Iman Taqwa Kepada Shiraatal Mustaqien’ lalu ‘Bet Yesua Hamasiah’ pada akhir tahun 1990-an menerbitkan lima seri traktat berjudul ‘Siapakah yang Bernama Allah itu?’ Kelima traktat itu kemudian disatukan, dan lalu terbit traktat ke-6 dan ke-7 dengan judul yang tetap sama.

Pada umumnya dalam traktat itu disebutkan bahwa ‘Allah’ adalah nama dewa Arab (dewa bulan/pengairan) masa jahiliah, ini didasarkan penafsiran harfiah potongan kutipan dari beberapa buku, padahal kalau kutipan itu dibaca selengkapnya pengertiannya berbeda. Karena itu bila umat Kristen menggunakan nama itu berarti menghujat Yahwe. Puncak dari penerbitan seri traktat itu adalah pada tahun 2000 diterbitkan ‘Kitab Suci Torat dan Injil’ (Kitab Suci 2000). Kitab Suci ini 99,9% merupakan plagiat dari Alkitab (TB) yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan hanya beberapa nama diganti seperti ‘TUHAN’ dengan YAHWE, Allah dengan Eloim, Yesus dengan Yesua, dan beberapa nama lain seperti ‘Musa’ dengan Mose, ‘Daud’ dengan Dawid, Yohanes dengan ‘Yokhanan,’ dll.

Sekalipun dr. Suradi menunjukkan kepedulian sosial dengan mengadakan makanan gratis di rumahnya, ternyata dalam hal agama, fanatismenya menjadikannya bersikap anti sosial. Fanatisme akan ‘nama Yahwe’ yang radikal, dilakukan dengan menyerang secara frontal agama Islam dan juga Kristen. Ia tidak segan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sesuai penafsirannya untuk menyerang Islam. Karena sikapnya yang mengganggu kerukunan itu, oleh Forum Ulama Umat, Bandung, Suradi bersama Poernama Winangun dikenai Fatwa Mati (Gatra, 10 Maret 2001). Kenyataan ini menyebabkan Nehemia tutup dan Suradi menghindar ke mancanegara. Beberapa pengikut Suradi mengidap fanatisme yang sama bahkan Endang Yesaya sempat masuk penjara selama empat tahun. Beberapa pengikut lainnya menjalankan militansi yang sama, bahkan tim UKS yang membelanya menyebut ‘Allah’ itu nama berhala Iblis, dari kalangan ini juga keluar plesetan LAI sebagai Lembaga Alat Iblis, karena LAI menerbitkan Alkitab yang menyebut nama ‘Allah.’

Pada tahun 2002, kelompok sejenis bernama Pengagung Nama Yahweh menerbitkan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan, yang sama dengan KS-2000 melakukan plagiat terjemahan LAI dan hanya mengganti nama ‘TUHAN’ dengan YAHWEH, dan ‘Allah’ dengan Tuhan. Sekalipun mengaku bahwa usahanya dihasilkan oleh gerakan Roh Kudus, namun dari buahnya diragukan apakah itu Roh Kudus yang diberitakan Alkitab, soalnya mereka melakukan plagiat Alkitab (TB) terjemahan LAI tanpa izin dan mengikuti terjemahan nama Yahweh sesuai The Word of Yahweh yang diterbitkan oleh The Assembly of Yahweh, gerakan pelopor pemuja nama Yahweh di Amerika Serikat, tetapi tidak sehurufpun ada penghargaan terhadap Lembaga Alkitab Indonesia yang nyaris semua terjemahannya diplagiasinya tanpa izin itu. Pembenaran diri kelompok ini terlihat dalam Prakata Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan dimana mereka menyalahkan: (1) Yudaisme orthodok, karena mengganti nama YHWH dengan Adonai; (2) Septuaginta, karena menerjemahkan nama ‘Yahweh’ ke bahasa Yunani Kurios; dan (3) Perjanjian Baru Yunani, yang mengikuti jejak Septuaginta.

Tahun-tahun berikutnya, berkembang generasi baru yang dipimpin pendeta-pendeta muda yang umumnya bergelar teologia. Pdt. Yakub Sulistyo diberhentikan dari GBI karena memaksakan pengajaran ‘Nama Yahweh’ dan menganggap nama Allah nama berhala yang menghujat Yahweh, dan mendirikan jemaat sendiri dengan nama Gereja Rohulkudus Surya Kebenaran. Pendeta inilah yang disebut-sebut berada di balik peristiwa keluarnya surat teguran keras yang dikeluarkan oleh Majlis Ta’lim Al-Rodd, Wonosobo disusul yang dikeluarkan oleh Badan Pengurus Pusat Ikatan Mubaligh Seluruh Indonesia pada tahun 2004.

Ketika Ikatan Mubaligh dihubungi sehubungan dengan keluarnya surat itu, disebutkan bahwa mereka dihubungi pdt. Yakub yang meminta dukungan untuk mengeluarkan peringatan itu, dan mereka memberikan nomor tilpon pdt. Yakub untuk juga dihubungi. Ketika pdt. Yakub dihubungi, ia menyebutkan bahwa ia diwawancarai oleh Ikatan Mubaligh karena mereka tertarik kotbahnya yang tidak menggunakan nama Allah.

Teguran keras yang dikeluarkannya ‘Majlis Ta’lim Al-Rodd’ (Wonosobo, 28 Mei 2004) ditujukan kepada Pimpinan Lembaga Alkitab Indonesia, dan yang kedua dikirim oleh ‘Badan Pengurus Pusat Ikatan Mubaligh Seluruh Indonesia’ (Jakarta, 1 Nopember 2004) yang ditujukan Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI dan Lembaga Alkitab Indonesia, dengan tembusan kebanyak pihak pemerintah. Isi surat kedua itu pada prinsipnya menegur dengan keras umat Kristen berdasarkan pertimbangan:

1.       Bahwa Allah adalah nama sesembahan umat muslim;

2.      Agar menarik semua Alkitab dan buku rohani yang menggunakan nama Allah;

3.      Agar menegur dengan keras Gereja-Gereja yang masih memakai nama Allah;

4.      Agar memberikan peringatan keras kepada para pendeta, pendeta muda, pendeta pembantu dan para Evangelis untuk tidak menggunakan kata Allah dalam menyampaikan Firman, Seminar dll.

Kelihatan sekali Pemuja Nama Yahweh menempuh segala cara untuk membenarkan diri dan memaksakan pendapat dan kehendak mereka, ini terlihat jelas ketika pada awal tahun 2008, ada Pemuja Nama Yahweh yang memejahijaukan Lembaga Alkitab Indonesia ke pengadilan dengan tuduhan bahwa LAI telah mengubah nama YHWH menjadi Allah dan menuntut agar “Bimas Kristen dan LAI segera menarik semua Alkitab dan buku rohani yang memakai nama Allah. Kedua lembaga ini juga diminta untuk memberikan peringatan keras kepada para pendeta untuk tidak lagi menggunakan nama Allah dalam kotbahnya.” (Reformata, edisi 80, 1-15 Maret 2008). 

Sungguh tidak dapat dimengerti bahwa Pemuja Nama Yahweh bisa membuahkan provokasi adu-domba bermotif SARA yang membahayakan itu. Roh apakah yang berada di balik semua ini? Sikap mau benar sendiri, memaksakan pendapat dan kehendak sendiri kelihatannya merupakan mentalitas inheren yang diakibatkan fanatisme nama ‘Yahweh’ itu. Dapat dimaklumi kalau banyak pembicara kristen yang semula terbuka untuk berdiskusi dengan Pemuja Nama Yahweh kemudian enggan meneruskan karena mereka menghadapi orang-orang yang tertutup yang tidak bisa diajak berdiskusi untuk meluruskan kebenaran. Kebenaran tentang ‘nama Yahweh’ mereka adalah harga mati, termasuk anggapan mereka bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa surga yang sudah ada dari kekal sampai kekal dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Klaim-klaim yang melawan pendapat penemuan arkaeologis dan penyelidikan sejarah Alkitab.

Penulis juga menerima banyak surat ‘fait-accomply’ semacam itu, di antaranya ada 7 seri surat dari seseorang yang menantang penulis dan menyebut bahwa ‘Allah adalah pribadi Setan,’ dan mengajak bertaruh, bahwa kalau ia salah ia akan mati tetapi kalau ia tidak mati (alias ia benar), penulis harus membayar 600 juta kepadanya untuk digunakan menyebarkan nama Yahweh! Bagaimana mungkin penulis yang sudah diresapi kasih Allah sampai hati mengharapkan seorang saudara yang ‘terpengaruh konsep keliru’ agar mati? Karena itu penulis mendoakan dia. Umat Kristen juga memuja Yahweh, namun justru karena umat Kristen memuliakan dan menghormati Yahweh, maka umat Kristen mengikuti sikap Yahweh sendiri yang merestui penerjemahan Yahudi tradisional menjadi ‘Adonai’ (TUHAN/LORD), Septuaginta yang menerjemahkan Yahweh menjadi Kurios, Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Koine, dan karya Roh Kudus yang turun di hari Pentakosta sehingga Petrus dan para rasul bisa berkotbah dalam bahasa-bahasa pendengar secara jelas sehingga para pendengarnya mengerti termasuk dalam bahasa Arab (Kisah 2, terutama ayat 11).

Kelihatan sekali Pemuja Nama Yahweh itu merasa diri ‘lebih Arab dari Orang Arab sendiri dan lebih Yahudi daripada orang Yahudi sendiri.’ Bila umumnya para tokoh Islam, dan dua milenium orang Arab beragama kristen termasuk sekarang adanya 29 juta orang Kristen berbahasa Arab mengaku Allah sebagai Tuhan Abraham dan nama Allah sebagai kontraksi Al-Ilah dan merupakan alih bahasa Arab dari El/Elohim/Eloah Ibrani atau elah/alaha Arami (dalam Ezra 5:1;6:14 ditulis ‘Elah Yisrael’), Pemuja Nama Yahweh berusaha sekuat tenaga mengemukakan argumentasi bahwa ‘Allah’ itu bukan ‘Al-Ilah’! Dan bila Orang Yahudi tradisional, Septuaginta, Yesus & Rasul, dan umat Kristen sejak awal berdirinya gereja sampai sekarang sudah banyak dibangunkan kerohaniannya dengan menyebut Yahweh/El/Elohim/Eloah dalam bahasa mereka masing-masing, Pemuja Nama Yahweh menyatakan itu semua adalah salah dan merekalah yang benar, sehingga mereka merasa berhak menghakimi Lembaga Alkitab Indonesia yang menerjemahkan nama Ibrani ‘El/Elohim/Eloah’ menjadi ‘Allah’ itu!

Seperti diketahui dikalangan umat Kristen berbahasa Arab, jauh sebelum Islam lahir, nama ‘Allah’ sudah digunakan baik sebagai bahasa lisan maupun ketika dituliskan sebagai Alkitab dalam bahasa Arab. Pada abad-6 SM dalam kitab Ezra 5:1/6:14 ditulis ‘Elah Yisrael’ dalam bahasa Aram, dan bahasa Aram merupakan nenek moyang bahasa Arab Nabati dan kata ‘Elah’ itu disebut ‘Ilah’ dalam bahasa Arab. Sejak itu banyak inskripsi dari kalangan Kristen pra-Islam sudah menggunakan nama ‘Allah’ bahkan dalam konsili di Efesus (431 M) sudah ada uskup Arab Haritz bernama Abdelas (peyunanian nama Arab ‘Abdullah’/Abdi Allah). Masa kini 29 juta orang Kristen berbahasa Arab menggunakan empat versi Alkitab Arab yang semuanya menggunakan nama ‘Allah’ (a.l. Arabic Bible dan Todays Arabic Version), ini belum termasuk puluhan juta umat Kristen di Indonesia dan Malaysia yang selama empat abad sudah menyebut nama ‘Allah’ yang tertuju kepada El/Elohim/Eloah.

Sebelum Islam lahir, ayah nabi Muhammad sudah bernama Abdullah (Abdi Allah), dan dalam Al-Quran diakui bahwa pada masa itu nama ‘Allah’ sudah digunakan baik oleh penganut agama Yahudi maupun Kristen, disamping Islam, itu berarti bahwa sebelum Islam lahir, nama ‘Allah’ sudah digunakan oleh penganut agama Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab:

"(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40)

Marilah kita mendoakan saudara/i kita yang terpengaruh ajaran Pemuja Nama Yahweh, dan menyadarkan mereka, agar:

(1)   Menyadari agar tidak terkecoh daya tarik ‘kembali ke Ibrani’ karena simpati kembali menggunakan nama ‘Yahweh’ akan menyeret mereka menjadi bagian dari sekte Yahudi yang fanatik dan meninggalkan agama Kristen;

(2)   Menyadari bahwa dengan mengikuti ‘Pemuja Nama Yahweh,’ mereka jatuh dalam dosa ‘menghujat nama Allah yang dianggap sebagai nama berhala, padahal itu nama El/Elohim/Eloah dalam bahasa Arab,’ nama Tuhannya Abraham, nama yang selama dua milenium sudah digunakan oleh umat Kristen Arab dan saat ini digunakan oleh 29 juta orang kristen berbahasa Arab, dan puluhan juta orang Kristen Indonesia selama empat abad. Nama yang juga digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia termasuk mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam;

(3)   Menyadari agar tidak terseret keluar dari iman yang didasarkan Injil Kasih ke arah iman yang dilandasi hukum Taurat yang konfrontatif;

(4)   Menyadari bahwa mereka sedang ditarik keluar dari kerukunan beragama dengan sesama penganut umat beragama di Indonesia untuk masuk dalam sikap eksklusif Yahudi yang bersikap kontra dengan semua yang berbau Arab/Islam dan juga yang berbau Kristen. Bagi mereka nama Yesus dan Kristenpun bisa dianggap kafir karena bukan bahasa Ibrani;

(5)   Menyadari bahwa dengan mengikuti faham Pemuja Nama Yahweh, mereka akan ditarik keluar dari keyakinan bahwa Yesus itu Tuhan dan merupakan pribadi bagian dari Tritunggal untuk masuk ke dalam ajaran Sabelian yang beranggapan bahwa Yeshua adalah Yahweh sendiri, jelmaan firman yang keluar dari Yahweh; dan

(6)   Menyadari bahwa mereka akan ditarik meninggalkan kekristenan historis yang am dengan perayaan Natal, Paskah, dan kebaktian minggunya, dan dibawa masuk ke ritual Yahudi yang berpusat kepada Yudaisme yang berbau Ibrani dan merayakan hari Sabat sabtu, kesucian makanan, bulan baru dan hari-hari raya Yahudi!

Marilah kita doakan Pemuja Nama Yahweh, karena mereka juga tidak mencerminkan sifat Roh Kudus yang menyatukan, sebab mereka sendiri mudah sekali terpecah-belah (di Indonesia, dalam 7 tahun 3 versi Kitab Suci diterbitkan kalangan ini dan ketiganya tidak seragam). Ini terbukti dari ucapan salah satu sumber Pemuja Nama Yahweh, bahwa:

“Akhir-akhir ini rasa frustasi mengghinggapi komunitas Qahal Mesianik di Indonesia. Frustasi terhadap apa? Frustasi terhadap kondisi komunitas ini yang semakin tidak jelas arah dan tujuan pergerakannya. Beberapa orang mulai mengeluh mengenai perselisihan diantara pemimpin, beberapa orang lainnya mengeluh tidak siap melihat perubahan demi perubahan dan pembenahan demi pembenahan. Sebagian yang lain mulai tidak nyaman dengan berbagai pengajaran tentang “tefilah” [doa harian], “ibadah shabat”, “pembaruan tata ibadah”. Sementara yang lain hanya berpuas diri dengan penggunaan nama Yahweh namun pemahaman teologis maupun tata cara ibadah masih mencerminkan denominasi yang lama [pentakostal, kharismatik, protestan dll]” (Buletin Nafiri Yahshua Ministry, No.32, Februari 2007, hlm.4)

Kiranya damai sejahtera Allah menyertai Pemuja Nama Yahweh!
 

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org
 

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]