Artikel 042_ 2002                 


Multi Level Marketing (1)

Sudah lama beredar SURAT BERANTAI yang prinsipnya menyebarkan pesan melalui tangan orang lain secara ber-tingkat/lapis dan tidak komersial namun disertai sugesti kalau meneruskannya akan memperoleh nasib baik tetapi kalau tidak meneruskannya akan mengalami nasib jelek. Surat berantai dalam era internet makin menyebar luas. Surat Berantai ini kemudian dikembangkan dalam dunia bisnis untuk pemasaran (marketing) dalam bentuk MULTI LEVEL MARKETING (MLM) dimana sistem surat berantai ini dimanfaatkan dalam bisnis yang melibatkan uang dan keuntungan, kemudian Surat Berantai & MLM ini berkembang tak terkendali melibatkan judi dan penipuan yang luas dalam Arisan Berantai.

MLM adalah suatu sistem yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang langsung memasarkan produknya melalui jajarannya, melalui cabang-cabang atau agen-agen atau melalui supermarket atau toko milik orang lain sebagai distributornya. MLM juga berbeda dengan sistem franchise/waralaba yang bekerjasama dengan menjual lisensi kepada jaringan lain (seperti ayam goreng McDEE), sebab MLM mendasarkan diri pada penjualan langsung (direct selling) melalui sistem “pemasaran bertingkat/lapis banyak”.

Sebagai contoh seseorang menjual produk kepada 5 orang, dan kelimanya masing-masing meneruskan menjual kepada 5 orang lainnya, maka pada level/lapis (level) ke-tiga sudah ada 25 pembeli. Bila lapis ini masing-masing menjual kepada 5 orang lainnya, maka lapis ke-empat sudah ada 125 pembeli, dan bila dilanjutkan pada lapis ke-lima akan diperoleh 625 pembeli. Maka dalam waktu relatip singkat, bila jaringan tidak terputus, ada 1+5+25+125+625 = 781 orang memegang produk itu atau 1 orang dengan sistem MLM berhasil memasarkan produknya kepada 780 orang lain dengan cara yang mudah dan cepat karena produsen (bandar) tidak bekerja sendiri tetapi melalui berlapis-lapis orang lain.

Perusahaan semacam Amway biasa menjual produk melalui sistem MLM, dan mendorong penjualnya dengan isentif memperoleh bonus atas penjualan mereka (bukan keuntungan dari kelebihan harga barang). Amway yang untung banyak kemudian idenya diikuti banyak perusahaan yang juga menggunakan sistem penjualan dengan MLM sehingga merebaklah sistem penjualan demikian ke seluruh dunia.

Tidak urung sekalipun sistem MLM demikian tidak disebutkan sebagai menipu, dalam praktek MLM banyak terbuka luas perilaku yang tidak jujur. Contohnya, untuk membayar bonus yang berlapis-lapis, tidak terelakkan harga barang menjadi mahal, karena itu biasa pemberian bonus dibatasi sampai lima lapis misalnya, namun disinipun bisa terjadi penipuan karena bisa  saja terjadi pemberian bonus diputuskan sepihak hanya sebanyak 3 atau 4 saja yang berarti bonus lebih kecil dari yang dijanjikan. Dalam MLM, bila lapisan makin banyak produsen akan makin sulit membagikan bonus.

Kritik yang ditujukan ke MLM adalah bahwa produsen/bandar akan menarik keuntungan sangat besar dengan modal kecil melalui tenaga-tenaga yang tidak dibayar dan hanya diberi bonus, demikian juga komoditi menjadi sangat mahal dari harga rielnya yang harus ditanggung oleh konsumen lapis terbawah. MLM mendorong bisnis bukan berorientasi pada produk dan kwalitasnya namun lebih pada pengejaran bonus dan kecenderungan yang hedonistis, bukan pada komoditi tetapi pada uang (cepat kaya), jadi komoditi hanya sebagai ‘alat’ mendapatkan uang. Bayangkan sistem 5 lapis pada dua paragraf sebelum ini, produsen/bandar (1, yang jumlahnya hanya 1 orang) akan mendapat untung sebanyak-banyaknya, sedangkan lapis-lapis (2 s/d 4, yang jumlahnya 155 orang) akan memperoleh bonus, sedangkan lapis (5, yang jumlahnya 625 orang) bila tidak melanjutkan penjualannya tidak akan memperoleh bonus namun secara akumulatif harus menanggung rugi seluruh biaya produk + keuntungan produsen + bonus yang dibayarkan kepada para penjual pada lapis diatasnya. Secara teoritis, lapis terbawah jumlahnya akan kira-kira ‘n’ (jumlah pola penyebaran, misalnya 5) kali lebih besar dari jumlah keseluruhan ‘up-line’nya. Dalam piramid 4X4 (1-4-16-64) down line akan berjumlah sekitar 4X jumlah up-linenya, dan dalam piramid 5X5 (1-5-25-125-625), down line akan berjumlah sekitar 5X jumlah up-linenya.

MLM memang menarik karena mendorong setiap pelaku bukan saja menjadi penjual (figuran) namun juga sebagai pengusaha (aktor, demi memperoleh bonus) melalui suatu sistem yang ke bawah makin melebar atau berbentuk PIRAMID, setiap pelaku tidak membutuhkan modal besar (cukup membeli satu produk) dan tidak membutuhkan ruang kantor, yang penting setiap pelaku bisa membentuk jaringan konsumen di bawahnya (misalnya 5 orang). Lapis pertama (1, hanya seorang) atau produsen/bandar disebut SOURCE, dan para pelaku dalam lapisan-lapisan di bawahnya biasa disebut sebagai BASE-line (2, 3, 4) yang memiliki up-line di atasnya dan down-line dibawahnya. Lapis terakhir bila sistem MLM terhenti (entah karena perusahaan pailit, barang habis dan tidak diproduksi lagi, pasar yang sudah jenuh, atau force majeur lainnya seperti bencana alam & perang), yaitu nomor 5 (yang tidak mempunyai down-line) dapat disebut sebagai GRASSROOT.

Sistem MLM yang melibatkan komoditi, biasanya produk kesehatan & kosmetik, yang dipraktekkan oleh perusahaan semacam Amway, Takashima dan Bolipa (BOnus LIPAt ganda), tentu lebih menarik dan berkembang lebih pesat dari surat berantai karena melibatkan keuntungan finansial. Paket kosmetik Takashima harganya Rp.1.500.000,- dan untuk mendapatkan bonus cukup menawarkan kepada dua orang down-line. Bonus mingguan Rp. 1 juta diberikan kepada yang berhasil menambahkan 6 pembeli yang disebut kavling, Rp.2 juta untuk penambahan 12 kavling, Rp.3,5 juta untuk penambahan 36 kavling, selanjutnya setiap 66 kavling dan kelipatannya diberikan bonus Rp.10 juta. Lebih menarik lagi kalau ini dikembangkan  dalam penjualan komoditi yang tidak berharga yang disebut ‘ARISAN BERANTAI’, seperti yang dipraktekkan dalam Pentagono (asal Itali), dimana komoditinya hanya berbentuk sertifikat atau Dahita Group yang tanpa komoditi samasekali.

Investasi Pentagono adalah $120 untuk memperoleh 3 sertifikat berisi daftar 7 nama, $40 dikirimkan kepada Pentagono, $40 dikirimkan kepada nama ke-1 dalam daftar, dan $40 diberikan kepada penjual sertifikat (nama nomor 7 dalam daftar). 3 sertifikat yang diperoleh bisa dijual kepada 3 orang baru masing-masing seharga $40 sehingga modalnya kembali. Pembeli yang telah membayar akan memperoleh 3 sertifikat, dimana nama pertama dalam sertifikat yang dibelinya terhapus dan namanya sendiri menjadi nama ke-7, selanjutnya ia hanya menunggu memperoleh kiriman kelipatan dari $40.

Sistem yang mirip tanpa komoditi sama sekali, dipraktekkan ‘Koperasi Insan Futura Mandiri’ dengan investasi Rp.400.000,- juga dengan kelipatan 3 down-line, sedangkan ‘Dahita Group’ melakukannya lebih murah dengan investasi Rp.5.000,- yang diperluas melalui media internet. Ada juga Arisan Multi Level yang diselenggarakan oleh Executive Business Club, caranya ada daftar berisi 4 nama + alamat e-mail + account bank yang dikirimkan kepada 10 calon, calon harus mengirim Rp.20.000,- kepada nama nomor 1, kemudian nama nomor 2 menjadi nomor 1, 3 menjadi 2, dan 4 menjadi 3, sedangkan nama peserta baru menjadi nomor 4. Daftar baru dikirimkan kepada 10 orang calon peserta baru.

Arisan berantai lalu menjadi ‘money-game’ karena dengan tiadanya resiko,  setiap orang bisa memulainya sendiri. Namun bagaimanapun Arisan Berantai karena melibatkan uang (tanpa komoditi) jelas berpotensi untuk: (1) menguntungkan bandar secara besar-besaran; (2) bersifat mencintai & mengejar uang (mamonisme/hedonisme); (3) menjadi ajang judi & spekulasi karena dengan taruhan kecil memperoleh keuntungan besar namun merugikan jauh lebih banyak orang di lapisan terbawah; dan jelas (4) potensial bersifat penipuan karena slogan ‘tidak akan ada yang rugi’ hanya omong kosong karena dalam sistem ini keseluruhan grassroot (terjadi bila rantai terputus) yang jauh lebih banyak dari jumlah keseluruhan up-linenya harus menanggung keuntungan keseluruhan up-linenya.

Di Indonesia korban Arisan Berantai yang menjadi kasus penipuan di pengadilan, adalah antara lain korban arisan yang diselenggarakan oleh: Ongkowijoyo, Danasonic, Langrose, dan yang sampai menimbulkan kemarahan puluhan ribu orang yang menimbulkan huruhara kerusuhan dan pembakaran banyak gedung di kota Pinrang yang disebabkan ulah ‘Koperasi Simpan Pinjam’ (Kospin) yang dengan investasi Rp.10 juta menjanjikan bonus Rp.30 juta dalam tiga bulan! Marilah kita belajar dari peristiwa itu!

Salam kasih dari Herlianto

Bersambung ke MLM (2) : MULTI LEVEL MINISTRY


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]