Artikel 043_ 2002                 


Multi Level Ministry

Melihat adanya korban-korban dan potensi penipuan dan judi yang cukup besar yang ditimbulkan MLM dan terlebih Arisan Berantai, apakah sistem MLM sendiri itu dosa? Sebagai sistem, MLM adalah sistem yang netral, dan sekalipun berpotensi untuk menipu atau judi, MLM juga bisa digunakan dengan baik untuk pelayanan firman. MLM cukup efektif digunakan oleh Komunis dengan cell-group mereka, demikian juga MLM digunakan dengan efektif dalam penyebaran Saksi-Saksi Yehuwa dimana setiap anggota dijadikan ujung tombak untuk menjangkau beberapa orang dengan cara kunjungan dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah.

Dalam Perjanjian Lama, kita melihat betapa Musa mengalami kelelahan karena melakukan manajemen organisasi yang sangat struktural sifatnya, karena itu melalui nasehat Jetro, mertuanya, dianjurkan agar ia melakukan MULTI LEVEL MINISTRY atau tepatnya MELAYANI LEWAT MANUSIA. Musa kemudian melakukan pelayanan ber-tingkat/lapis. Lapis kedua yang dilayaninya langsung terdiri dari 10 orang, 10 orang ini masing-masing melayani lapis ke-3 dibawahnya yang terdiri  50 orang, yang kemudian masing-masing juga melayani lapis ke-4 dibawahnya yang terdiri 100 orang, dan yang kemudian masing-masing melayani lapis ke-5 dibawahnya yang terdiri 1000 orang (Kel.18:13-27).

Dalam Perjanjian Baru kita melihat sistem MLM dilakukan oleh Yesus dalam membina para Rasulnya. Sekalipun Ia sering melayani kotbah massal (Kotbah di Bukit), Yesus memiliki inner circle (lapis kedua) terdiri dari 3 murid (Yohanes, Petrus dan Yakobus), middle circle berjumlah 8 murid. Selanjutnya Yesus juga memiliki dan mengutus 70 orang lainnya, dan pada hari Pentakosta ada 120 orang menunggu perintahnya untuk bersaksi. Hasilnya dalam waktu relatip singkat pelayanan Injil meningkat menobatkan 3000 bahkan 5000 orang murid.

Jadi, sistem MLM bila digunakan dalam pelayanan firman tanpa melibatkan sikap cinta uang (komersial) akan sangat efektif digunakan dalam pelayanan Pekabaran Injil. Namun, seperti ‘Si Ular yang mempedayakan Hawa’, belakangan ini sistem MLM tidak sekedar bersifat Multi Level Ministry atau Melayani Lewat Manusia, namun juga terjerat godaan cinta akan uang yang sebenarnya disebut Paulus sebagai ‘akar kejahatan’ (1Tim.6:10). Banyak badan-badan Kristen termasuk gereja yang berkedok ‘melayani’ namun pada dasarnya tujuannya adalah duit. Bila banyak orang menyorot gereja karena melakukan ‘pengurasan uang jemaat’ melalui janji-janji ‘tingkap-tingkap langit yang terbuka’ bila memperikan perpuluhan, ada juga yang sekarang menggunakan sistem ‘Arisan Berantai’ dengan membawa-bawa ayat-ayat Alkitab dengan slogan ‘Hukum Tabur Tuai’ dan sebagainya.

Di beberapa gereja di Amerika ada jemaat yang ditawari pendetanya bonus persentasi bila dapat mengumpulkan jemaat baru yang dapat menambah pemasukan perpuluhan dari anggota baru itu. Dalam sebuah pembangunan gedung gereja, ada gereja yang mempraktekkan ‘fund raising’ melalui orang-orang, dengan imbalan bonus persentasi tertentu dari sumbangan dana pembangunan yang masuk (lihat David Roller, Menjadi Kaya dengan Multi Level Marketing, h.34). Di Indonesia, sistem bonus juga dipraktekkan beberapa gereja tertentu. Ada gereja yang memberi iming-iming radio bahkan kaset rekorder untuk jemaat yang mampu mendatangkan sejumlah calon jemaat baru.

Namun, sekalipun berpotensi untuk dipedayakan juga oleh si’ular’tua yang memperdayakan Adam & Hawa, tidak berarti bahwa sistem MLM tidak boleh digunakan dalam pelayanan Injil. Sistem ini akan sangat efektif bila dilaksanakan oleh orang dengan hati yang telah bertobat dengan motivasi rindu untuk berkorban demi melayani kerajaan Allah, jadi bukan dengan motivasi mengumpulkan uang.

Seseorang bisa saja mengirimkan surat atau e-mail berantai kepada sebanyak mungkin orang dengan isi ayat-ayat firman Tuhan atau renungan penghiburan dan meminta kepada penerima agar bisa membagikan berkat itu kepada sebanyak mungkin teman-temannya. Berita Injil akan tersebar luas dalam waktu relatif singkat ke mana-mana. Yang penting surat demikian tidak boleh meniru kebiasaan surat berantai yang cenderung menjanjikan berkat kepada yang meneruskan surat itu dan mengutuk yang menolak meneruskan surat itu, namun bisa saja misalnya diberi ayat “betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik.” (Rm.10:15b), asalkan tidak menakut-nakuti mereka yang tidak mau meneruskan surat/e-mail tersebut.

Pelayanan Persekutuan Mahasiswa Kampus cenderung bersifat MLM yang efisien dan efektif melalui kelompok-kelompok tumbuh bersamanya (KTB). Seorang Mahasiswa mengumpulkan beberapa rekan mahasiswa untuk bersama-sama bertumbuh dan mempelajari firman Tuhan, anggota yang bertumbuh menjadi dewasa kemudian membentuk kelompok baru yang dipimpinnya dengan mengumpulkan beberapa anggota baru. Hanya dengan melakukan dua kali pertemuan KTB dalam seminggu, seseorang bisa mempelajari firman Tuhan melalui seniornya (up-line) dan mengajarkannya kepada junior yang dibimbingnya (down-line), maka ditambah dengan ‘personal devotion’ dapat dimaklumi mengapa perkembangan persekutuan mahasiswa kampus begitu meluas dan terjadi proses multiplikasi, pelayanan yang nota bena tidak terjangkau gereja-gereja.

Yayasan Bina Awam mempunyai pengalaman yang menarik. Terbitan Makalah Sahabat Awam (MSA) yang sudah mencapai nomor 64 sudah menyebar kemana-mana melalui MULTI LEVEL MINISTRY. Caranya, setiap anggota yang menerima makalah berhalaman 28 itu dihimbau untuk memfoto-copy nomor MSA tersebut sebanyak 5 copy dan membagikannya secara cuma-cuma sambil mengumpulkan 5 teman (baik teman gereja, kampus atau kerja) untuk membentuk kelompok tumbuh bersama (KTB). Setelah dipelajari bersama, maka setiap anggota diminta memfoto-copykan MSA tersebut untuk dibagikan kepada 5 orang teman lainnya yang membentuk kelompok tumbuh bersama pula, demikian seterusnya. Dengan sistem ini setidaknya seseorang telah mengalami tiga kali pendalaman materi MSA, pertama, ketika ia baru menerima dan membacanya sendiri dengan seksama, kedua, ketika ia mengikuti KTB bersama 5 orang teman kelompoknya, dan ketiga, ketika ia berkumpul memimpin kelompok baru dengan 5 orang yang baru. Di samping itu, sistem KTB-MLM ini telah meluaskan jangkauan MSA secara luas dan menjadi berkat bagi banyak orang tanpa harus menambah tiras penerbitannya.

Pelayanan melalui MLM sudah terbukti bisa menjadi duri dan berpotensi judi, namun juga bisa menjadi berkat bila digunakan oleh mereka yang benar-benar berkehendak baik. Gereja-gereja dapat memulai pelayanan demikian untuk membangun jemaatnya. Bila seorang pendeta dapat membimbing para majelis secara tertib sehingga masing-masing bisa menjadi dewasa dan membentuk kelompok baru memimpin beberapa jemaat, dan pola ini dilaksanakan terus, maka pelayanan jemaat itu akan menjadi hidup dan kerajaan Allah akan dengan mudah berkembang. Yang perlu dijaga adalah agar sistem MLM yang digunakan jangan sampai disalah gunakan baik untuk fund raising atau untuk tujuan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Salam kasih dari Herlianto

Bersambung ke MLM (3) : MENIPU LEWAT MELAYANI.


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]