Artikel 049_ 2002                 


Sabat dan Rasul

Menyambung artikel soal SABAT dan YESUS, ada baiknya membahas masalah SABAT dan RASUL, apakah mereka merayakan Sabat atau tidak.

Kita melihat bahwa pada hari pertama dalam minggu setelah hari Sabat Yahudi, Yesus bangkit dan menyatakan diri kepada para Rasul dan murid-Nya. Ia mula-mula menampakkan diri kepada dua Maria  (Mat.28:1) dan Malaikat Tuhan menyatakan bahwa Yesus telah bangkit (Luk.24:7). Pada hari itu juga Yesus menyatakan diri kepada dua orang murid dalam perjalanan mereka ke Emaus (Luk.24:13-35) dimana Ia menyatakan diri sebagai ‘Messias dalam kemulian-Nya’ (ay.26), dan kemudian mereka menyaksikan hal itu kepada para murid lainnya yang sedang berkumpul bahwa “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit” (ay.34,46).  Pada hari minggu itu untuk pertama kalinya setelah Ia menyatakan diri ‘Bangkit’ dan ‘Tuhan’ ia berkumpul dengan murid-murid-Nya untuk makan roti perjamuan dengan mereka (ay.30).

Malam hari pada hari minggu itu, Tuhan Yesus hadir dihadapan para Rasul yang berkumpul, dimana Ia menyampaikan pesan Sabat Yobel kepada mereka, yaitu: “Damai sejahtera bagi kamu” sampai dua kali dan memberikan Roh Kudus kepada mereka (Yoh.20:19-23). Seminggu kemudian, pada hari minggu, Tuhan Yesus hadir dalam pertemuan para Rasul-Nya dimana Ia menunjukkan bekas paku di tubuhnya kepada Thomas. Thomas kemudian mengucapkan pengakuan yang jelas “Ya Tuhanku dan Allahku.” (Yoh.20:24-29). Pada hari minggu, 50 hari setelah kebangkitannya (Pentakosta), ketika para Rasul berkumpul, mereka dibaptiskan dengan Roh Kudus (Kis.2) dan dilengkapi dengan kuasa (Kis.1:8;2).

Hari Minggu telah memiliki identitas jelas sesudah kebangkitan Yesus yaitu sebagai: (1) Hari kenangan kebangkitan Yesus yang telah menang atas maut; (2) Hari itu menjadi hari penyataan yang jelas bahwa Yesus adalah ‘Tuhan’; (3) Hari itu merupakan Sabat Yobel bagi manusia dimana damai sejahtera Allah dihadirkan; dan (4) pertemuan mereka di hari minggu Pentakosta dibaptiskan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus, dan dianggap sebagai kelahiran gereja Kristen;

Pertemuan-pertemuan Tuhan Yesus dengan para Rasulnya di hari minggu disusul kelahiran gereja juga di hari minggu Pentakosta, merupakan petunjuk jelas bahwa Tuhan hadir dalam persekutuan orang percaya di hari minggu itu. Ini lebih diperkuat dengan kenyataan bahwa sejak kebangkitannya, Alkitab tidak mencatat bahwa Tuhan Yesus mengunjungi ibadat Yahudi di hari Sabat! Karena itu bila selanjutnya para Rasul berkumpul untuk beribadat dan memecah roti di hari minggu, kelihatannya kebiasaan ini merupakan kenangan mingguan akan kebangkitan Yesus yang telah menyatakan diri sebagai Tuhan itu.

Selanjutnya, bagi para Rasul dan murid-murid Yesus yang berlatar belakang Yahudi, mereka masih menghadiri pertemuan Sabat Yahudi sebagai bagian dari tradisi ke’Yahudi’an mereka, namun pengertian mereka mengenai hari Sabat itu sudah berbeda, bukannya mereka merayakan hari Sabat seperti pengertian orang farisi dan ahli Taurat, tetapi seperti Rasul Paulus, ia masuk ke rumah ibadat Yahudi untuk mengajarkan firman Tuhan dan jalan Tuhan dan menobatkan orang Yahudi agar mengenal Yesus yang adalah Tuhan dan Messias (Kis.13:13-48;14:1;18:4,19;19:8). Para Rasul sudah terbiasa menggeser tempat pertemuan ibadat mereka dari hari Sabat ke hari Minggu dan dari sinagoga ke rumah-rumah (Kis.20:7).

Rasul Paulus menyuruh mereka mengumpulkan uang persembahan pada waktu mereka berkumpul di rumah pada hari pertama tiap-tiap minggu (1Kor.16:2; saat itu mereka sudah terbiasa beribadat tiap-tiap hari minggu di rumah-rumah). Umat Kristen menyebut hari minggu sebagai ‘hari Tuhan’ (kuriake hemera, Why.1:10), yang maksudnya bukan hari ‘Allah Yahweh’ tetapi hari ‘Tuhan Yesus’, yang bangkit pada hari minggu. Kuriake Hemera juga menunjuk kedatangan ‘Tuhan Yesus’ pada ‘hari penghakiman’ kelak (Kis.2:20;2Ptr.3:10). Dalam Didache 14 (kitab pengajaran Ke-12 Rasul yang ditengarai berasal dari abad awal) dengan eksplisit disebutkan bahwa ‘kuriake hemera’ adalah hari minggu.

Dalam persidangan di Yerusalem (Kis.15), menghadapi bagian Taurat mana yang perlu diikuti umat Kristen non-Yahudi, sunat tidak lagi diwajibkan dan Sabat juga tidak disebut, menunjukkan bahwa saat itu, ritus Sabat sudah tidak lagi mengikat umat Kristen. Situasi ini lebih tajam terjadi ketika terjadi renaissance agama Yahudi dengan diresmikannya ‘kanon’ Tenach Yahudi pada tahun 90M, dimana kala itu keluarlah ‘birkat ha-minum’ yang mengharamkan kehadiran orang-orang Kristen di rumah-rumah ibadat Yahudi karena praktek usaha ‘kristenisasi’ mereka.

Rasul Paulus mengajarkan ‘Jalan Tuhan’ (Tuhan disini bukan menunjuk Yahweh tetapi Tuhan Yesus Kristus, Kis.22:4,5;24:14,22). Kala itu dikalangan pengikut Yesus ada dua golongan yaitu yang masih mengikuti adat istiadat Yahudi dan Taurat, disebut ‘Nasrani’ (Kis.24:5), yaitu pengikut Yakobus dan biasa melakukan nazar (Nasrani berasal dari kata ‘nazar’), dan golongan kedua yang disebut ‘Kristen’ (Kis.11:26;26:28:1Ptr.4:16). Rasul Paulus dituduh sebagai salah satu anggota sekte Nasrani namun ia dengan jelas membedakan dirinya dengan golongan ini, bahkan kemudian kita melihat bahwa rasul Paulus cukup keras menyerang Taurat (lihat perjuangan Paulus dalam kitab Galatia dan Roma 14), dan menurutnya ‘kasih telah menggenapi Taurat’ (Rm.13:8).

Memang menghadapi mereka yang masih mengikuti Taurat (makanan halal-haram & hari-hari tertentu seperti Sabat), rasul Paulus mengingatkan yang sudah tidak mengikutinya untuk ‘tidak menghakimi mereka yang lemah’ yang masih menjalankan hal itu (Rm.14), tetapi ia juga mengajak umat agar meninggalkan sikap iman yang masih lemah termasuk merayakan Sabat karena kita sudah dimerdekakan oleh Roh Kristus (Gal.4:1-11), karena Sabat dan makanan itu hanya bayangan dari apa yang akan datang yaitu Kristus dan agar kita menjadi manusia baru dalam Kristus (Kol.2:16-3:17).

Bapa-Bapa gereja sesudah rasul Yohanes meninggal (akhir abad pertama) juga menguatkan bahwa perkumpulan di hari minggu sudah dipraktekkan secara luas. Ignatius (115M) mengatakan “Jangan kita memelihara lagi hari Sabat, melainkan merayakan Hari Yesus Kristus, pada hari mana hidup kita bangkit dari kematian oleh Dia.” Justinus Martir (165M) mengatakan bahwa: “pada hari pertama itu dengan mengubah gelap menjadi terang Tuhan menjadikan dunia, dan karena Yesus Kristus, Juruselamat kita, pada hari itupun, yaitu hari pertama dalam pekan, bangkit dari mati dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.” Tertulianus (200M) mengatakan: “hari Tuhan, yaitu hari kebangkitannya, kita bukan hanya meninggalkan kebiasaan berlutut, tetapi juga menanggalkan segala kesusahan dan segala yang manindas kita serta bangkit bekerja.” Demikian juga Clemens dari Alexandria (220M) mengatakan bahwa: “hari pertama dari tiap-tiap pekan telah menjadi hari perhentian, karena kebangkitan (Tuhan Yesus) dari kematian.” 

Dari data-data di atas kita dapat melihat bahwa kebiasaan berkumpul di hari Minggu, disamping jemaat di Israel sejak hari kebangkitan Tuhan Yesus, sudah menjadi praktek jemaat pertama baik di Afrika Utara, Eropah maupun Asia Kecil jauh sebelum kekaisaran Konstantin pada abad ke-4 meresmikannya dan didukung oleh Paus. Hari Sabat menurut pengertian Farisi dan ahli Taurat, dalam Perjanjian Baru telah bergeser menjadi ‘hari Tuhan’ pada hari pertama dalam minggu, dimana umat Kristen mengenang Tuhan Yesus yang adalah Sabat Yobel yang membebaskan dan memberikan damai sejahtera bagi umat-Nya.

Salam kasih dari Herlianto/YABINA ministry


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]