Artikel 020_ 2001                 


THE BODY

Pada beberapa milis dilontarkan diskusi mengenai film ‘The BODY’ yang cukup ramai juga, ini menimbulkan pertanyaan tentang  film apakah ini dan mengapa film ini dipersoalkan? Film ini dibintangi oleh Antonio Banderas yang berperan sebagai Matt Gutierrez yang imam Jesuit, dan seorang Arkeolog wanita Israel bernama Dr. Sharon Golban yang diperankan oleh Olivia Williams.

Sejak awal cerita sudah dapat dimaklumi mengapa film ini sempat menjadi bahan diskusi di kalangan umat Kristen, soalnya film ini diawali dengan masuknya Sharon ke sebuah kubur yang kosong yang ditemukan ketika sebidang lahan di kota Yerusalem bagian Timur digali karena akan dibangun sebuah flat, ia mendongkel dinding kuburan itu dan menemukan kerangka manusia. Sebenarnya cerita pendahuluan ini belum memberikan kesan apa-apa kecuali ketika kerangka itu kemudian diberi kandungan agama dan kontroversial lagi.

Ceritanya dikembangkan sedemikian rupa  untuk memberi kesan bahwa kerangka itu dan benda-benda lain yang ditemukan bersamanya seperti mata uang Pontius Pilatus (pejabat yang mengadili Yesus), pelita dan buli-buli (bekas tempat minyak untuk mengurapi Yesus), yang setelah diselidiki di laboratorium dianggap berasal dari abad pertama, bahkan dari alur cerita dikembangkan sedemikian rupa seakan-akan berasal dari tahun 32CE (Christian Era/tahun Masehi), tahun saat Yesus di salib dan dikuburkan.

Selain tahun sekitar tahun kematianYesus itu, dengan memanfaatkan komentar ahli patologi Inggeris Dr. Jonas Sproul, dikembangkanlah spekulasi lebih sensitif dengan menggiring penonton untuk melihat bahwa kerangka itu menunjukkan milik seseorang yang telah disalib karena baik pergelangan tangan maupun kakinya ada bekas dipaku dan meninggalkan bekas-bekas terjadinya oksidasi, malah ini dibumbui dengan kesimpulan bahwa ada rusuk kerangka itu yang bekas ditusuk dengan tombak. Dengan argumentasi ini ditambah ilustrasi bahwa makam itu milik orang kaya, maka lengkaplah sudah rekayasa untuk dijadikan bahan kontroversi dan disimpulkan bahwa kerangka itu pasti kerangka Yesus.

Di balik kandungan provokasi itu dijalinlah cerita latar belakang masyarakat kawasan itu yang sarat konflik Israel vs Palestina yang selalu tegang karena Palestina ingin menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibukota mereka, padahal Israel bertekad menjadikan Yerusalem seutuhnya sebagai ibukotanya. Maka, lokasi kuburan dengan kandungan isi yang begitu strategis bisa menjadi alat tawar-menawar politik yang penting.

Dalam kontroversi inilah Vatikan mengirimkan seorang imam Jesuit bernama Matt Gutierrez yang sebelum menjadi imam adalah seorang intelejen militer, dengan maksud untuk menyelidiki kasus itu disertai misi untuk melindungi umat dari desas-desus dan kebohongan agar tidak mengakibatkan kegoncangan tatanan iman gereja Roma Katolik, soalnya kalau kerangka itu benar adalah kerangka Yesus, maka kalau Yesus mati dan kerangkanya masih ada, tentu kebangkitanya yang menjadi fondasi iman gereja itu akan gugur dan strukur gereja akan tergoncang.

Dalam film ini digambarkan betapa rekan kerja Gutierrez yang lebih senior imam Dominikan bernama Pierre Lavelle, setelah melihat fakta kerangka itu kemudian menjadi goncang imannya, ia berkata “what it means if it is He in that tomb, the risen Christ. The end of Christianity?” dan berkata pula pada Gutierrez “what will you do Jesuit, if you discover that it is Christ in that tomb, a man, like all of us?” 

Namun, dalam dialog menjawab pertanyaan Gutierrez tentang kemungkinan bahwa itu kerangka pengikut Yesus, Lavelle menyebut bahwa biasanya penyaliban Romawi dilakukan pada para penjahat dan musuh politik, tidak biasa orang kaya di salib, kecuali yang diceritakan dalam Alkitab bahwa Yesus disalib dan dikuburkan di kuburan orang kaya Yusuf dari Arimatea, dan kalau itu pengikut biasanya disertai lambang tiga lingkaran konsentris, tanda salib yang kosong atau ikan. Kemungkinan ini tidak mampu mengubah kegoncangan iman Lavelle, bahkan kemudian diceritakan Lavelle berperilaku aneh dengan klimaks bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari atap bangunan dimana ia tinggal.

Disamping Vatikan, pihak Israel (yang dalam film ini diperani tokoh Moshe Cohen) dan pihak Palestina (yang dalam film ini diperani tokoh Abu Yosef) memiliki kepentingan untuk memanfaatkan penemuan itu untuk meraih dukungan politik, sebab bila itu benar adalah kerangka Yesus, maka akan menjadi nilai tinggi baik politis maupun ekonomi untuk dijadikan alat tawar-menawar dan pemerasan untuk dijual kepada pihak Barat yang Kristen yang punya kepentingan pula akan nasib Yerusalem Timur.

Dapat dimaklumi kalau motivasi pembuatan film ini dicurigai oleh sebagian umat Kristen, soalnya ayat-ayat Alkitab di film ini juga dimanfaatkan dan dimanipulasikan dengan pengertian yang dibalik. Sebagai contoh, Gutierrez sendiri berkali-kali diingatkan ucapan Sharon yang mengutip ayat Alkitab, bahwa “kebenaran akan membebaskan kamu”, namun bukan dengan pengertian Alkitabiah yang maksudnya kebenaran dalam Yesus Kristus akan membebaskan kita dari dosa, namun dengan memberikan sugesti halus bahwa kebenaran fakta penemuan kerangka itu akan membebaskan seseorang dari kebodohan iman seseorang pada kebangkitan, keselamatan, dan keTuhan-an Yesus.

Menjelang berakhirnya film, menghadap ke atasannya, Gutierrez mengucapkan: “Tetapi, kini aku tahu kebenarannya. Kurasa aku sudah kehilangan imanku pada Kristus, Tuhanku, Juru Selamatku ... Temanku.” Memang di akhir film ujung-ujungnya Matt Gutierrez melepaskan atributnya sebagai imam alias mengundurkan diri, dan berkata: “Aku temukan keselamatan Tuhan dengan caraku sendiri.”

Pemutar-balikkan ayat Alkitab yang senada adalah ayat “Diberkati orang yang percaya sekalipun tidak melihat” (Yohanes 20:29 yang keliru disebutkan dari fasal 19) tapi dengan sugesti halus pula yang mengesankan bahwa seseorang akan diberkati bila ia percaya bahwa tulang Yesus memang ada sekalipun tidak melihat sendiri, kerangka yang dalam film ini dibuat hancur berantakan karena ledakan granat.

Setelah menanamkan provokasi keragu-raguan sejak awal pada nyaris seluruh bagian film bahkan sudah mengorbankan seorang imam Dominikan yang bunuh diri, film ini diakhiri dengan rontoknya iman dan jabatan seorang imam Jesuit, namun menjelang akhir film ini dimunculkan pula selintas fakta sebaliknya sebagai teka-teki, yaitu ketika ‘kubur yang kosong’ itu diledakkan, di reruntuhan tembok kuburan yang berguguran itu ternyata ada tulisan ucapan doa yang berbunyi: “Ya Tuhan, ambillah anakku David, seperti Engkau mengambil anakmu Yesus” dengan lambang lingkaran konsentris di dekat tulisan itu. Fakta ini, berlandaskan penuturan imam Lavelle semula, sebenarnya menunjukkan bahwa kerangka itu adalah kerangka seorang pengikut Yesus bernama David.

Akhirnya pelajaran yang bisa dipetik dari adegan tulisan dinding pada bagian menjelang akhir film ini, sekalipun dimunculkan hanya kurang dari semenit, menunjukkan bahwa iman yang benar tidak perlu digoncangkan oleh rekayasa (apalagi data fiktif) seakan-akan ditemukan bukti yang bisa berakibat gugurnya iman Kristen, sebab ternyata ada juga fakta yang menjelaskan sebaliknya yang ternyata belum ditemukan, karena itu sebelum benar-benar ada bukti obyektif sebaliknya bahwa Yesus tidak bangkit dan mayatnya ditemukan, maka kesaksian Alkitab adalah benar. Yesus yang di’iman’i adalah Yesus yang hidup dalam ‘sejarah.’

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku di tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:24-29).

Catatan: Bacalah info lebih lanjut tentang ‘Yesus Sejarah’ dan ‘Injil Thomas’ pada kolom ‘Renungan bulan Februari dan Maret 1998’ di situs www.yabina.org

Salam kasih dari Herlianto/YBA


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]